close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Reporter Reuters Issam Abdallah berfoto selfie saat bekerja di Maras, Turki. Foto REUTERS-Issam Abdallah
icon caption
Reporter Reuters Issam Abdallah berfoto selfie saat bekerja di Maras, Turki. Foto REUTERS-Issam Abdallah
Media
Kamis, 14 Maret 2024 09:58

Laporan PBB: Wartawan bisa dikenali, tapi diserang tank Israel hingga tewas

Selain menewaskan Abdallah, dua tembakan tank tersebut juga melukai enam jurnalis lainnya di lokasi kejadian.
swipe

Tank Israel membunuh reporter Reuters Issam Abdallah di Lebanon tahun lalu dengan tembakan dua peluru kaliber 120 mm ke arah sekelompok "jurnalis yang dapat diidentifikasi dengan jelas". Kejadian maut itu merupakan pelanggaran hukum internasional, demikian temuan penyelidikan PBB atas insiden 13 Oktober.

Investigasi yang dilakukan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) menyatakan bahwa personel UNIFIL tidak mencatat baku tembak di perbatasan antara Israel dan Lebanon selama lebih dari 40 menit sebelum tank Merkava Israel memuntahkan peluru. Penyelidikan tersebut dirangkum dalam sebuah laporan yang telah dilihat Reuters.

“Penembakan terhadap warga sipil, dalam hal ini jurnalis yang dapat diidentifikasi dengan jelas, merupakan pelanggaran terhadap UNSCR 1701 (2006) dan hukum internasional,” kata laporan UNIFIL, mengacu pada resolusi Dewan Keamanan 1701.

Laporan setebal tujuh halaman tertanggal 27 Februari menyatakan lebih lanjut: "Dinilai tidak ada baku tembak di Jalur Biru pada saat kejadian. Alasan penyerangan terhadap jurnalis tidak diketahui."

Berdasarkan resolusi 1701, yang diadopsi pada tahun 2006 untuk mengakhiri perang antara Israel dan pejuang Hizbullah Lebanon, pasukan penjaga perdamaian PBB dikerahkan untuk memantau gencatan senjata di sepanjang garis demarkasi sepanjang 120 km, atau Garis Biru, antara Israel dan Lebanon.

Sebagai bagian dari misi mereka, pasukan PBB mencatat pelanggaran gencatan senjata dan menyelidiki kasus-kasus yang paling mengerikan.

Selain menewaskan Abdallah, dua tembakan tank tersebut juga melukai enam jurnalis lainnya di lokasi kejadian.

Ditanya tentang laporan UNIFIL, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Nir Dinar mengatakan Hizbullah telah menyerang IDF di dekat komunitas Hanita Israel pada 13 Oktober. Hizbullah membalas dengan tembakan artileri dan tank untuk menghilangkan ancaman tersebut dan kemudian muncul laporan bahwa jurnalis telah terluka.

“IDF menyesalkan adanya kerugian yang dialami pihak-pihak yang tidak terlibat, dan tidak dengan sengaja menembaki warga sipil, termasuk jurnalis,” kata Dinar.

“IDF menganggap kebebasan pers sebagai hal yang paling penting dan mengklarifikasi bahwa berada di zona perang adalah berbahaya,” tambahnya.

Dia mengatakan Mekanisme Pencarian Fakta dan Penilaian Staf Umum, yang bertanggung jawab meninjau kejadian luar biasa, akan terus memeriksa insiden tersebut.

Menurut situs IDF, tim pencari fakta menyerahkan tinjauannya ke departemen hukum militer Israel, yang akan memutuskan apakah suatu kasus memerlukan penyelidikan kriminal.

Visual Insiden

Pemimpin Redaksi Reuters Alessandra Galloni telah meminta Israel untuk menjelaskan bagaimana serangan yang menewaskan Abdallah, 37, bisa terjadi dan meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab.

Laporan UNIFIL dikirim ke PBB di New York pada 28 Februari dan telah dibagikan kepada militer Lebanon dan Israel, kata dua orang yang mengetahui masalah tersebut.

“IDF harus melakukan penyelidikan atas insiden tersebut dan melakukan peninjauan penuh terhadap prosedur mereka pada saat itu untuk menghindari terulangnya kembali,” kata laporan itu dalam rekomendasinya. “IDF harus membagikan temuan penyelidikan mereka dengan UNIFIL.”

Untuk penyelidikannya, UNIFIL mengirimkan tim mengunjungi lokasi tersebut pada 14 Oktober, dan juga menerima kontribusi dari Angkatan Bersenjata Lebanon dan dari seorang saksi yang tidak disebutkan namanya yang hadir di bukit ketika serangan terjadi, kata laporan tersebut.

Rincian insiden di wilayah operasi UNIFIL disertakan dalam laporan berkala oleh Sekretaris Jenderal PBB mengenai implementasi resolusi Dewan Keamanan 1701. Namun, penyelidikan UNIFIL biasanya tidak dipublikasikan dan Reuters tidak dapat memastikan apakah akan ada tindakan PBB yang menindaklanjuti laporan tersebut.

Juru bicara UNIFIL Andrea Tenenti mengatakan dia tidak dalam posisi untuk membahas penyelidikan itu.

Temuan UNIFIL memberikan dukungan lebih lanjut terhadap penyelidikan Reuters yang diterbitkan pada 7 Desember yang menunjukkan bahwa tujuh jurnalis dari Agence France-Presse, Al Jazeera, dan Reuters, terkena dua peluru 120 mm yang ditembakkan oleh sebuah tank yang berjarak 1,34 km di Israel.

Sekelompok wartawan telah merekam penembakan lintas batas dari jarak jauh di area terbuka di sebuah bukit dekat desa Alma al-Chaab di Lebanon selama hampir satu jam sebelum serangan.

Sehari setelahnya, IDF mengatakan pihaknya sudah memiliki visual dari insiden tersebut dan sedang diselidiki. IDF belum mempublikasikan laporan temuannya hingga saat ini.

UNIFIL mengatakan dalam laporannya bahwa mereka mengirimkan surat dan kuesioner kepada IDF untuk meminta bantuan mereka. IDF membalas dengan surat tetapi tidak menjawab kuesioner.

Reuters belum melihat salinan surat IDF yang isinya dirangkum dalam laporan UNIFIL.(reuters)

img
Arpan Rachman
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan