sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Nasib 25 anak korban kekerasan aparat saat penggusuran Tamansari

Ada bayi berusia 3 bulan yang jadi korban kekerasan aparat saat penggusuran di Tamansari.

Rizki Febianto
Rizki Febianto Jumat, 24 Jan 2020 09:35 WIB
Nasib 25 anak korban kekerasan aparat saat penggusuran Tamansari
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 410.088
Dirawat 58.418
Meninggal 13.869
Sembuh 337.801

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung melaporkan adanya tindak kekerasan yang dilakukan aparat kepada beberapa anak pada saat menertibkan dan membongkar bangunan di lahan RW 11, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Jawa Barat pada 12 Desember 2019. 

LBH melaporkan hal tersebut ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). LBH juga turut membawa orang tua dan kedua anaknya yang merupakan salah satu korban kekerasan oleh aparat pada saat penggusuran. Dalam laporan tersebut, LBH mencatat ada 25 anak dengan berbagai usia yang menjadi korban kekerasan. 

"Yang kira-kira berumur dari yang paling muda, ada bayi berumur 3 bulan. Lalu, sampai ada yang berumur 13 tahun," kata salah satu pengacara LBH Bandung, Riefqi Zulfikar, saat dihubungi reporter Alinea.id pada Kamis (23/1).

Riefqi menjelaskan, salah satu anak berusia 13 tahun berinisial S dipukuli oleh aparat hingga tulang bahunya patah. Sementara anak lainnya, banyak yang terdampak mentalnya dan mengalami trauma. 

"Kemudian juga ada K, yang berumur 6 tahun. Ketika melihat sekumpulan orang banyak, maka ia akan ketakutan, karena menganggap akan ada penggusuran lagi. Itulah bentuk traumatik yang dialami oleh K," tutur Riefqi. 

Lebih jauh lagi, Riefqi juga menyebut ada bayi berumur 3 bulan yang mengalami gangguan pernapasan dan peradangan mata karena terkena gas air mata. 

"Ada bayi berumur 3 bulan yang ketika penggusuran diungsikan ke gedung masjid, ketika 12 Desember di sore hari, tapi masjid ditembaki gas air mata," ujarnya. 

Riefqi menyayangkan sikap pemerintah dan dinas terkait yang terkesan cuek terhadap permasalahan ini. Padahal, banyak anak-anak masih trauma secara psikologis karena penggusuran itu. Untuk memulihkan mereka pun tidak mudah.

Sponsored

"Anak-anak masih trauma secara psikologis, kemudian tingkatan pemulihannya juga masih sulit, karena sampai saat ini belum ada yang namanya upaya-upaya dari Pemerintah Bandung maupun dinas-dinas terkait, seperti dinas sosial dan dinas kesehatan," tutur Riefqi. 

Karena itu, Riefqi meminta Pemerintah Kota Bandung untuk memberikan kepeduliannya terhadap warga Tamansari. Salah satunya dengan memberikan tempat tinggal sementara yang layak karena anak-anak dan warga di sana masih menumpang di masjid setempat untuk dijadikan tempat tinggal sementara. 

"Jadi, sampai saat ini mereka masih tinggal di masjid, yang fasilitasnya belum memadai 100%, belum ada shelter yang layak yang diberikan pemerintah," ujar Riefqi. 

Riefqi juga meminta KPAI untuk meninjau langsung ke Tamansari agar mereka mengetahui tentang bagaimana kekerasan pada anak terjadi dan dampaknya pascapenggusuran. 

"Kami juga meminta KPAI untuk menegur pemerintah kota Bandung untuk segera memulihkan secepatnya, agar anak-anak ini kondisinya dapat seperti semula, seperti sebelum adanya penggusuran," kata Riefqi.

Berita Lainnya