close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
88% orang pernah menyebarkan hoaks. Freepik
icon caption
88% orang pernah menyebarkan hoaks. Freepik
Nasional
Selasa, 14 Maret 2023 21:59

88% orang pernah menyebarkan hoaks

Masyarakat diimbau memeriksa sumber informasi yang diragukan kebenarannya dengan mengeceknya ke situs berita.
swipe

Sebanyak 88% orang pernah menyebarkan berita bohong atau hoaks meski sebatas meneruskan informasi yang diterimanya. Ini menunjukkan masih minimnya literasi digital.

Sementara itu, berdasarkan survei indeks literasi digital nasional 2021, yang diselenggarakan Kominfo dan Katadata Insight Center, Indonesia masuk kategori "sedang" dengan angka 3,49 dari 5. 

Kepala Unit ICT Universitas Dipa (Undipa) Makassar, Erfan Hasmin, mengatakan, hoaks memiliki ciri-ciri tertentu. Misalnya, judul tulisannya provokatif dan sensasional demi memancing perhatian khalayak.

Oleh sebab itu, masyarakat diimbau memeriksa sumber informasi yang masih diragukan kebenarannya ke suatu situs berita. Hoaks diproduksi situs berita yang tidak populer.

"Hoaks memiliki dampak negatif, seperti menimbulkan perpecahan di masyarakat, menurunkan reputasi seseorang, hingga publik yang tidak lagi percaya akan sebuah fakta lantaran begitu seringnya terpapar hoaks," kata Erfan dalam keterangan, Selasa (14/3).

Erfan melanjutkan, hoaks adalah konten berupa teks, gambar, suara, video, atau gabungannya yang dikemas semenarik mungkin agar memperoleh kepercayaan masyarakat. Menurutnya, orang cenderung memercayai hoaks jika informasinya sesuai opini atau keyakinannya. 

Sekretaris Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Sulawesi Selatan (ISKI Sulsel), Andi Widya Syadzwina, menambahkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan hoaks tumbuh subur. Contohnya, rasa ingin tahu dan berbagi sebuah informasi sangat tinggi di masyarakat. 

Menurut Andi, hal ini disebabkan sejumlah faktor. Salah satunya adalah kemajuan teknologi komunikasi dan penetrasi media sosial yang begitu pesat. Paduan keduanya menjadikan hoaks cepat tersebar ke mana-mana.

"Bahkan, berita yang sebenarnya hoaks bisa dianggap benar atau diyakini kebenarannya apabila sudah tersebar begitu luas (viral, red). Padahal, dampaknya sangat buruk di masyarakat maupun di dunia maya," paparnya.

Karenanya, Andi meminta masyarakat tidak tergesa-gesa membagikan sebuah informasi atau berita yag diterima. Sebaiknya mencermati terlebih dahulu berita tersebut, apakah bermanfaat atau tidak, penting atau tidak, serta mendesak atau tidak. 

"Prinsipnya adalah BTS. B adalah baca, jangan hanya judulnya saja; T adalah teliti sumbernya; dan S adalah share (bagikan) bila bermanfaat," urainya.

img
Immanuel Christian
Reporter
img
Fatah Hidayat Sidiq
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan