close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Adakah Idulfitri jatuh di tanggal berbeda? Foto Istimewa
icon caption
Adakah Idulfitri jatuh di tanggal berbeda? Foto Istimewa
Nasional
Minggu, 01 Mei 2022 11:20

Adakah Idulfitri jatuh di tanggal berbeda?

Realitas ini semakin memprihatinkan sebab upaya penyatuan kalender Islam akan semakin berliku dan semakin sulit direalisasikan.
swipe

Kriteria imkan rukyat baru (3,6.4) dalam menentukan awal Ramadan 1443 Hijriah diperkirakan akan menimbulkan sejumlah persoalan. Salah satunya memperpanjang daftar perbedaan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

Pakar falak Muhammadiyah Susiknan Azhari menjelaskan hal itu menyusul langkah Kementerian Agama resmi menggunakan kriteria imkan rukyat baru (3, 6.4). Kriteria dari MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) ini digunakan menentukan awal Syawal tahun ini.

"Terkesan prosesnya kurang transparan dan dipaksakan tanpa memperhatikan masukan yang berkembang dalam musyawarah. Para pengkaji menganggap kehadiran kriteria baru akan memperpanjang daftar perbedaan dalam awal bulan," terang Susiknan, dikutip dari Muhammadiyah.or.id, Minggu (1/5).

Susiknan mengutip hasil penelitian Muslih Husein bahwa jika menggunakan kriteria baru MABIMS ini, sejak tahun 1443/2022 sampai 1485/2065 akan terjadi 31 kali perbedaan. Rinciannya: 6 kali di awal Ramadan, 11 kali di awal Syawal, dan 14 kali di awal Zulhijah. 

Realitas ini, kata Susikna, semakin memprihatinkan sebab upaya penyatuan kalender Islam akan semakin berliku dan semakin sulit direalisasikan.

Selain itu, kata dia, keterbatasan waktu sosialisasi kriteria baru MABIMS ini menimbulkan sejumlah persoalan. Banyak hal yang belum dirumuskan dan disepakati bersama. 

Akibatnya, kata Susiknan, muncul pandangan pribadi. Misalnya, markaz yang digunakan dalam perhitungan, model yang digunakan geosentrik atau toposentrik, dan penggunaan Fatwa MUI tentang Idulfitri 1401 H/1951 M.

2 Mei vs 3 Mei

Dalam kalender yang beredar di lingkungan anggota MABIMS, seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam, awal Syawal 1443 H jatuh pada Selasa, 3 Mei 2022. Sementara di Indonesia, baik kalender Muhammadiyah, Almanak PB NU, Almanak Islam Persis, dan Taqwim Standar Indonesia menetapkan awal Syawal 1443 H jatuh pada Senin, 2 Mei 2022.

"Berdasarkan hal tersebut dan hasil Temu Kerja di Yogyakarta 1441/2020 secara teoritis Lebaran dilaksanakan secara serentak (Senin, 2 Mei 2022). Namun, adanya kriteria baru harus dikaji ulang posisi ketinggian hilal dan elongasi serta hasil rukyat di lapangan," kata Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini.

Sebagian besar ahli berpendapat bahwa ijtimak (konjungsi) terjadi pada Minggu, 1 Mei 2022 pukul 03:31:02 WIB. Ketinggian hilal dan elongasi di seluruh wilayah Indonesia membelah menjadi dua. 

Sebagian sudah memenuhi kriteria baru (3, 6.4), sebagian lagi belum terpenuhi. Namun, jika berpedoman pada wilayatul hukmi, kata dia, secara teoritis awal Syawal 1443 H harusnya jatuh pada Senin, 2 Mei 2022.

Sementara itu, pandangan minoritas menyatakan ketinggian hilal hari Minggu, 1 Mei 2022 sudah memenuhi kriteria sedangkan elongasi belum memenuhi. Makanya, awal Syawal 1443 untuk sebagian kecil wilayah jatuh pada Selasa, 3 Mei 2022 M.

"Perbedaan kesimpulan tentang posisi hilal tersebut dikarenakan perbedaan acuan dalam proses perhitungan. Salah satu pihak menggunakan geosentrik dan pihak lainnya menggunakan toposentrik," terang Susiknan.

Bagaimana dengan rukyat? Menurut pengalaman sejauh ini, kata Susiknan, jika hasil hisab memenuhi kriteria yang dipedomani, maka ada laporan keberhasilan melihat hilal. 

Sebaliknya, jika hasil hisab menunjukkan belum memenuhi kriteria, maka tidak akan ada laporan keberhasilan melihat hilal alias bulan yang sedang berjalan akan digenapkan menjadi 30 hari.

Susiknan menegaskan jika Menteri Agama RI mempertimbangkan kemaslahatan dalam negeri, Lebaran akan dilaksanakan secara serempak pada hari Senin, 2 Mei 2022. Ini tidak menyalahi kesepakatan MABIMS karena belum adanya garis panduan yang disepakati bersama. 

Sebaliknya, kata dia, jika Menteri Agama lebih mengutamakan kemaslahatan MABIMS, maka perbedaan awal Syawal 1443 dalam negeri tidak dapat dihindari. Karena Idulfitri akan dilaksanakan pada Selasa, 3 Mei 2022.

Penjelasan Kemenag

Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat (penetapan) 1 Syawal 1443, Minggu (1/5) petang. Sidang yang berlangsung di Auditorium HM Rasjidi Kementerian Agama itu akan didahului proses pengamatan hilal yang dilakukan di 99 titik lokasi di seluruh Indonesia. 

Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin menyatakan, secara hisab posisi hilal di Indonesia saat sidang isbat awal Syawal 1443 sudah memenuhi kriteria baru yang ditetapkan MABIMS.

"Di Indonesia, pada 29 Ramadan 1443 H yang bertepatan dengan 1 Mei 2022 tinggi hilal antara 4 derajat 0,59 menit sampai 5 derajat 33,57 menit dengan sudut elongasi antara 4,89 derajat sampai 6,4 derajat," jelas Kamaruddin di Jakarta, 25 April lalu.

Artinya, kata dia, secara hisab, pada hari itu posisi hilal awal Syawal di Indonesia telah masuk dalam kriteria baru MABIMS.

Menurut kriteria baru MABIMS, imkanur rukyat dianggap memenuhi syarat apabila posisi hilal mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat. Ini merupakan pembaruan dari kriteria sebelumnya, yakni 2 derajat dengan sudut elongasi 3 derajat yang mendapat masukan dan kritik. 

Kamaruddin menambahkan, Pemerintah Indonesia akan menyelenggarakan Sidang Isbat menggunakan metode hisab dan rukyat, di mana posisi hilal Syawal akan dipresentasikan oleh Tim Unifikasi Kalender Hijriyah yang selanjutnya menunggu laporan rukyat dari seluruh Indonesia. 

"Rukyat digunakan sebagai konfirmasi terhadap hisab dan kriteria yang digunakan. Kedua hal yaitu hisab dan konfirmasi pelaksanaan rukyatul hilal akan dimusyawarahkan dalam sidang isbat untuk selanjutnya diambil keputusan awal Syawal 1443 H," jelasnya. 

Guru Besar Ilmu Hadis UIN Alauddin Makassar ini juga menyampaikan penjelasan tersebut dalam pertemuan pakar falak MABIMS pada 21 April 2022. Dalam pertemuan tersebut, Kamaruddin menyampaikan, penerapan kriteria baru MABIMS diharapkan memunculkan formulasi dan gagasan yang bermanfaat bagi umat Islam di negara-negara anggota MABIMS. 

"Kita perlu menciptakan suasana yang kondusif bagi umat Islam, khususnya di bidang hisab rukyat. Kami berharap, forum ini bisa menghasilkan ide-ide yang cemerlang untuk mendukung kemajuan hisab rukyat di dunia Islam secara umum," kata dia.

img
Edo Sugiyanto
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan