sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Badan Geologi segera terjunkan tim perbarui kawasan rawan bencana Semeru

Sebagian tim sudah di lokasi terdampak bencana untuk mendapatkan gambar terkini bukaan kawah Semeru.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Kamis, 09 Des 2021 07:49 WIB
Badan Geologi segera terjunkan tim perbarui kawasan rawan bencana Semeru

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menerjunkan tim ahli untuk memperbarui peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Semeru, Jawa Timur (Jatim). Tim dikerahkan pekan depan.

Tim Badan Geologi sudah berada di lokasi terdampak bencana. Mereka mengambil gambar dengan pesawat tanpa awak (drone) untuk mendapatkan gambaran terkini bukaan kawah yang mengarah ke selatan dan tenggara.

"Hingga beberapa hari ke depan, kegiatan ini masih kita lakukan, terutama di sekitar bukaan kawah yang ke arah selatan dan tenggara," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Andiani, dalam keterangan tertulis, Kamis (8/12).

"Ini menjadi concern Badan Geologi sehingga banyak ahli yang akan kami turunkan, mulai dari ahli geologi lingkungan hingga ahli kebencanaan. Semua akan diturunkan, sekitar 10-15 orang. Kami akan all out," sambungnya.

Peta-peta yang dikeluarkan Badan Geologi, termasuk peta KRB, diharapkan menjadi acuan agar masyarakat memahami karakter geologi suatu tempat mengingat yang digambarkan di dalam peta merupakan prediksi.

"Gambaran di dalam peta geologi itu tidak pernah ingkar janji. Jadi mohon peta-peta yang sudah dikeluarkan Badan Geologi betul-betul dijadikan acuan, karena peta itu bercerita banyak," tuturnya.

Sekretaris Badan Geologi, Ediar Usman, menambahkan, ahli geologi tata lingkungan akan membantu memetakan wilayah mana saja yang sudah tidak bisa menjadi permukiman sekaligus memberikan rekomendasinya.

"Tentu akan dipilih wilayah yang aman dan ketersediaan air tanah yang memadai untuk kehidupan ke depannya," jelasnya.

Sponsored

Di sisi lain, masyarakat diminta menjauhi daerah-daerah aliran awan panas guguran karena masih terdapat potensi erupsi sekunder.

Pada Selasa (7/12), pukul 00.00 hingga 23.59 WIB, Badan Geologi mencatat, ada empat kali awan panas guguran dengan jarak 2.800-3.000 meter. Kemarin, tidak ada awan panas guguran, tetapi terpantau terjadi getaran-getaran dari permukaan.

Berita Lainnya