sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mengapa muncul petir saat gunung api meletus?

Beberapa gunung api yang erupsi, menyebabkan badai petir. Mengapa bisa terjadi?

Fandy Hutari
Fandy Hutari Selasa, 14 Mei 2024 06:33 WIB
Mengapa muncul petir saat gunung api meletus?

Beberapa gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang hampir bersamaan. Pertengahan April 2024, Gunung Ruang di Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara meletus. Erupsi beberapa kali terjadi setelahnya.

Lalu, pada 11 Mei 2024, Gunung Ibu di Pulau Halmahera, Maluku Utara, meletus. Diikuti letusan Gunung Dukono di lokasi dan tanggal yang sama. Kemudian, pada 12 Mei 2024 giliran Gunung Semeru di Jawa Timur yang erupsi.

Terutama letusan Gunung Ruang dan Ibu, menimbulkan fenomeda alam berupa badai petir, seiring dengan lontaran lava pijar dan abu vulkanik.

Petir vulkanik pada letusan Gunung Ruang terjadi di lapisan troposfer bumi. Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hendra Gunawan, seperti dikutip dari Antara, petir vulkanik tersebut terjadi akibat suhu tinggi yang memanaskan ion-ion gas, sehingga muncul loncatan muatan listrik.

Gumpalan abu yang keluar dari kawah Gunung Ruang, tulis Antara, menciptakan cuaca sendiri berupa kilatan-kilatan petir. Proses pembentukan petir saat gunung meletus terjadi ketika kolom erupsi yang mengandung partikel-partikel abu vilkanik, air, maupun gas saling tabrakan.

Peneliti gunung api dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dini Nurfiani, dinukil dari Antara, mengatakan di dalam kolom erupsi bisa terjadi klaster area yang bermuatan negatif dan positif.

"Jika kolom erupsi bertambah besar atau tinggi, area yang berbeda muatan tersebut akan terpisah jauh dan menciptakan kilatan," kata Dini kepada Antara.

BBC menulis, petir saat letusan gunung berapi pertama kali dicatat pengacara dan penulis Romawi kuno, Pliny the Younger dalam sebuah surat kepada seorang teman. Ia menggambarkan kilat zigzag yang menyertai letusan Gunung Vesuvius, yang menghancurkan Pompeii pada tahun 79.

Sponsored

Badai petir yang termasuk paling dahsyat terjadi kala gunung bawah laut di Kepulauan Tonga, Hunga Tonga-Hunga Ha’apai meletus pada Januari 2022. Gunung itu melontarkan 10 kilometer kubik batuan, abu, dan sedimen langsung ke langit, menghasilkan semburan setinggi 36 mil.

Megatsunami dengan gelombang setinggi 45 meter terlempar keluar akibat letusan itu, menghancurkan Kepulauan Tonga dan menyebabkan kerusakan hingga ke Rusia, Hawaii, Peru, dan Chili. Letusan juga memicu badai petir paling hebat yang pernah ada.

BBC melaporkan, badai petir yang dipicu gumpalan vulkanik di atas Hunga Tonga-Hunga Ha’apai mencapai 2.600 kilatan petir setiap menit. Hampir 200.000 kilatan petir menerangi bagian dalam awan abu gelap selama 11 jam. Semburan aliran listrik yang terang meningkat 12-19 mil di atas lautan.

Para peneliti gunung api dari Amerika Serikat dalam Geophysical Research Letters (20 Juni 2023) yang meriset soal badai petir di letusan gunung Hunga Tonga-Hunga Ha’apai menulis, erupsi menghasilkan cincin petir terbesar yang pernah diamati—mencapai radius 140 kilometer.

Cincin petir awal menyebabkan pergerakan gelombang gravitasi berskala besar di awan payung bagian atas, yang dibentuk osilasi dramatis dari puncak yang melampaui batas. Hasil penelitian menunjukkan, letusan menghasilkan tingkat petir tertinggi yang pernah tercatat.

Untuk memperkirakan ketinggian petir, para peneliti mengamati beberapa jenis data yang berbeda. Salah satunya dari gelombang radio yang diciptakan oleh petir. Mereka juga memeriksa citra satelit dari semburan letusan dan cahaya inframerah dari kilatan petir.

Penelitian ini mengungkapkan, petir mulai terjadi pada ketinggian lebih dari 20 kilometer di atas permukaan laut. Dikutip dari Science News Explores, petir biasanya tak dimulai setinggi itu. Tekanan udara pada ketinggian tersebut biasanya terlalu rendah untuk membentuk petir yang besar. Ini adalah saluran plasma panas yang membentuk petir dalam badai petir.

“Meningkatnya semburan letusan mungkin telah peningkatkan tekanan udara di atas gunung berapi,” kata peneliti dari U.S. Geological Survey, Cascades Volcano Observatory, Alexa R. Van Eaton, yang merupakan salah satu peneliti laporan tersebut kepada Science News Explores.

“Itu mungkin cukup untuk menciptakan petir di tempat yang sangat tinggi.”

Dilansir dari BBC, para peneliti menduga, badai petir berkembang karena pelepasan magma berenergi tinggi, yang meledak melalui lautan dangkal. Batuan cair menguapkan air laut, lalu naik menjadi gumpalan abu dan puing-puing. Lebih dari 146 juta ton uap air terlempar ke stratosfer bumi, akibat letusan tersebut, menambah 10% jumlah air yang ditemukan di stratosfer hanya dalam beberapa hari.

Interaksi antara abu vulkanik, molekul air, dan partikel gumpalan es—yang terbentuk saat tetesan air menjadi sangat dingin di atmoster—menghasilkan muatan listrik yang besar. Maka, menciptkan kondisi sempurna untuk terjadinya petir.

Dalam U.S. Geological Survey Professional Paper (2010), para peneliti yang mengamati badai petir dari letusan Gunung Augustine di Alaska pada 2006 menulis, petir vulkanik merupakan kandungan jumlah air di kolom erupsi, yang berasal dari magma. Kemungkinan lebih banyak dibandingkan kandungan air pada atmosfer di area gunung itu. Kandungan air di magma bakal terlepas ketika letusan.

Terlepas dari itu, pakar tsunami yang dipicu gunung api di British Geological Survey Keyworth, David Tappin, dikutip dari BBC mengingatkan, ada sekitar 42 gunung berapi di seluruh dunia yang berpotensi meletus dahsyat seperti Hunga Tonga-Hunga Ha’apai.

“Letusan yang memecahkan rekor ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita untuk bersiap menghadapi letusan yang lebih besar lagi, tetapi sebagian besar dari kita tidak siap menghadapi dampak dari peristiwa itu,” kata Tappin kepada BBC.

Berita Lainnya
×
tekid