sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

'Bunuh diri’ new normal Covid-19 di Indonesia

Beberapa negara melonggarkan pembatasan sosial. Bersiap menjalankan new normal. Sementara di Indonesia, kasus Covid-19 masih tinggi.

Robertus Rony Setiawan Akbar Ridwan
Robertus Rony Setiawan | Akbar Ridwan Jumat, 22 Mei 2020 12:42 WIB
'Bunuh diri’ new normal Covid-19 di Indonesia
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 29521
Dirawat 18308
Meninggal 1770
Sembuh 9443

Rabu (20/5) siang, sebuah supermarket di bilangan Slipi Jaya, Jakarta Barat, ramai pengunjung. Salah seorang warga Tanti Carlitawati merasa khawatir dengan kondisi massa yang berkerumun.

Namun, di tengah ancaman tertular SARS-CoV-2 penyebab Coronavirus disease (Covid-19) ia terpaksa harus belanja ke supermarket itu untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

“Mau gimana lagi, yang penting pakai masker sama hati-hati. Tapi, ini padat sekali,” kata Tanti ditemui reporter Alinea.id di Slipi Jaya, Jakarta Barat, Rabu (20/5).

Kondisi supermarket itu memang ramai di hari-hari menjelang Idulfitri. Namun, warga tetap tertib mengantre menuju kasir, dengan mengatur jarak sekitar satu meter.

Sementara itu, salah seorang warga yang tinggal di Tanjung Duren, Jakarta Barat Samuel Fabian mengatakan, ia hanya sekali dalam seminggu bepergian keluar rumah. Selain membeli kebutuhan pokok, biasanya ia bepergian terkait pekerjaannya sebagai pegawai polis asuransi.

Untuk menghindari risiko tertular virus, Fabian mengenakan masker. Ia juga selalu membawa penyanitasi tangan dan membiasakan mandi sehabis bepergian. Akan tetapi, Fabian mengaku, ada perasaan terpaksa memakai masker.

“Kadang-kadang aja pakai masker, lihat-lihat kondisi. Tapi karena sekarang itu jadi hal baru, ya gue mau enggak mau harus pakai,” katanya saat dihubungi, Kamis (21/5).

Dunia bersiap new normal

Sponsored

Pembeli memakai masker pelindung terlihat di luar sebuah toko barang saat pembukaan kembali sebagian toko setelah pemerintah Austria memudahkan pembatasan menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di Wina, Austria, Selasa (14/4/2020). Foto Antara/Reuters/Leonhard Foeger.

Sudah nyaris enam bulan dunia diterpa krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19. Merujuk data dari Woldometers.info, per Kamis (21/5) sudah lima juta lebih orang di 213 negara terinfeksi Coronavirus jenis baru. Sebanyak 330.015 orang dinyatakan meninggal dunia dan 2.035.842 sembuh.

Pandemi mengubah gaya hidup warga menjadi lebih peka terhadap kebersihan dan kesehatan. Salah satunya memakai masker dan menjaga jarak fisik, seperti yang dilakukan Tanti dan Fabian. Kondisi serupa dijalankan manusia di belahan dunia mana pun saat ini.

Di Amerika Serikat misalnya, masker menjadi bentuk gaya hidup baru setelah pandemi mengancam. Dilansir dari Los Angeles Times edisi 3 April 2020, profesor bidang ilmu obat pencegahan dan penyakit infeksi di Vanderbilt University, Amerika Serikat, William Schaffner mengatakan bahwa perilaku baru warga memakai masker terlihat dalam aktivitas keseharian.

Sebelum virus Corona menjangkiti banyak orang di Amerika Serikat, penduduknya cenderung membangun stereotipe masker sebagai aksesori warga keturunan Asia.

“Kini kami tampaknya mulai menjadikan pemakaian masker penutup wajah sebagai hal yang biasa,” kata William Schaffner.

Bahkan, Schaffner menyebut, kebiasaan itu akan berlanjut meski krisis kesehatan akibat penularan SARS-CoV-2 berakhir.

Amerika Serikat menjadi negara yang paling parah terimbas Covid-19. Berdasarkan data Worldometers.info per Jumat (22/5), Negeri Paman Sam ini ada di urutan pertama negara-negara di dunia dengan kasus infeksi paling besar, yakni 1,6 juta orang. Sebanyak 96.314 orang meninggal dunia.

Beberapa negara, dengan kasus infeksi yang melandai, melonggarkan pembatasan sosial atau lockdown. Negara-negara itu membuka kembali restoran, mal, kantor, dan sekolah dengan protokol kebersihan dan kesehatan yang ketat.

Sejumlah pengunjung mengikuti prosedur jaga jarak fisik dan diperiksa suhu tubuhnya sebelum memasuki mal di Padang, Sumatera Barat, Rabu (20/5/2020). Foto Antara/Iggoy el Fitra.

Di Jerman, seperti dikutip dari Deutsche Welle (DW) edisi 1 Mei 2020, beberapa restoran dan bar di Kota Berlin, Brandenburg, Hesse, Saxony, dan Thuringia diizinkan dibuka kembali sejak 15 Mei 2020.

Pembukaan kembali bisnis kuliner itu disertai aturan-aturan ketat, berupa pembatasan jarak fisik, jumlah pengunjung, pemakaian masker, dan mencuci tangan. Dilansir dari The Guardian edisi 15 Mei 2020, pihak restoran di Jerman disarankan mencatat kontak pelanggannya untuk melacak jika terjadi infeksi Coronavirus.

Di Austria, seperti dikutip dari The Guardian, juga membuka kembali restoran, kafe, bar, gereja, dan beberapa museum, dengan aturan pengunjung harus mengenakan masker dan menjaga jarak fisik. Negara tersebut juga berencana mengizinkan acara dengan kehadiran 100 orang.

Sementara di Australia, seperti dikutip dari ABC News edisi 17 Mei 2020, perusahaan real estat komersial negara itu mengembangkan konsep kantor jaga jarak fisik. Selain ada stiker di lantai untuk menunjukkan jarak antarorang, ada pula tanda panah merah sesuai arah jarum jam agar staf kantor bergerak dengan aman, tanpa tabrakan.

Restoran besar juga dibuka kembali dengan membatasi pengunjung. Bioskop-bioskop juga akan dibuka, dengan menyiapkan protokol ketat, seperti pemeriksaan suhu tubuh dan jarak kursi satu meter.

Di Vietnam—yang disebut-sebut sukses melawan Covid-19 dengan jumlah infeksi per Jumat (22/5) hanya 324 orang, sembuh 264 orang, dan tak ada kematian—seperti dilansir dari Saigoneer edisi 23 April 2020 sudah mengizinkan warganya beraktivitas seperti biasa, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Pemerintahnya pun memutuskan membuka kembali operasional bisnis. Masker wajib dipakai bagi warga yang berada di ruang publik. Selain mengenakan masker, warga Vietnam pun kini sudah terbiasa mengenakan penutup wajah semacam topi, dengan pelindung plastik.

Masih muskil di Indonesia

 Warga melintas didekat papan himbauan wajib mengenakan masker, cuci tangan dan jaga jarak di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, Selasa (28/4/2020). Foto Antara/Mohammad Ayudha.

Di Indonesia, dengan jumlah penularan yang masih masif, sudah ada pernyataan untuk “berdamai” dengan Covid-19. Berdasarkan data dari Worldometers.info per Kamis (21/5) jumlah kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 20.162, dengan 1.278 orang meninggal dunia dan 4.838 orang sembuh.

Pada 18 Mei 2020, dalam video conference usai rapat terbatas, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyatakan bahwa Presiden Jokowi memberi sinyal warga bersiap untuk menghadapi era normal baru.

Muhadjir pun mengatakan, di dalam rapat bersama Presiden itu dibahas pula mengenai pengurangan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kata Muhadjir, upaya itu dilakukan untuk memulihkan dan meningkatkan produktivitas.

Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, tetapi dengan menerapkan protokol kesehatan demi mencegah penularan virus.

“Maka dari itu, sampai dengan vaksin ditemukan, kita harus bisa selalu berhadapan dengan virus ini,” ujar Wiku dalam dialog virtual dari Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Selasa (12/5).

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengawali fase normal baru ini. Melalui Surat Edaran Nomor S-336/MBU/05/2020, Menteri BUMN Erick Thohir menginstruksikan seluruh direktur utama di lingkungan BUMN menyiapkan antisipasi skenario new normal yang dimulai pada 25 Mei 2020.

Menurut Deputi bidang Sumber Daya Manusia, Teknologi, dan Informasi Kementerian BUMN Alex Denni, ada empat skenario yang menjadi perhatian. Pertama death zone, dengan vaksin yang belum ditemukan dan perilaku masyarakat yang belum berubah.

Kedua, virus masih mengancam dan vaksin belum ditemukan, namun perilaku disiplin masyarakat sudah berubah. Ketiga donkeyman, yakni ketika vaksin sudah ditemukan, tetapi perilaku masyarakat kembali seperti semula.

Terakhir longer life hope, yakni ketika vaksin telah ditemukan dan masyarakat tetap disiplin. Saat ini, kata Alex, posisi Indonesia berada di tengah-tengah, antara death zone dan normal baru.

"Kami berharap BUMN bisa menjadi lokomotif untuk mengajak masyarakat bersama-sama menuju normal baru secara alamiah," ujarnya dalam konferensi pers virtual BUMN, Senin (18/5).

Menanggapi hal itu, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra berpendapat, yang perlu dipahami adalah pandemi global virus mematikan yang menyerang sistem pernapasan ini belum bisa diprediksi kapan berakhir. Bukan tidak mungkin, ujar Hermawan, pandemi masih berlanjut pada 2021.

“Tahun ini kita bisa menyebutnya the year with Covid-19. Jadi, tahun yang disibukkan dengan Covid-19,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (20/5).

Hermawan menerangkan, ketika bicara tatanan hidup baru dengan menerapkan protokol kesehatan, hal itu bukan berarti kembali hidup dalam keadaan sebelum pandemi terjadi.

“Justru kita menyesuaikan diri, adaptability dengan adanya Covid-19 yang masih terus menular. Saat ini saja kita belum melewati masa kritis atau titik puncaknya,” ucapnya.

Karenanya, Hermawan memandang, kebiasaan mencuci tangan pakai sabun, mengenakan masker, menjaga jarak fisik, termasuk menjaga daya tahan tubuh masih wajib dilakukan.

Di sisi lain, sosiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Bagong Suyanto mengatakan, ketika vaksin belum ditemukan mau tidak mau warga harus “berdamai” dengan Covid-19. Namun, ia memandang, saat ini cara berdamai yang diterapkan pemerintah terlalu fokus pada pendekatan yang sifatnya memberi sanksi.

“Belum dibarengi dengan pendekatan persuasif yang bisa mengubah perilaku seseorang,” kata Bagong saat dihubungi, Rabu (20/5).

Dihubungi terpisah, dosen senior bidang kesehatan masyarakat di University of Derby, Inggris, Dono Widiatmoko menuturkan, perlu disiapkan metode yang tepat bila pemerintah ingin menerapkan new normal. Dono pun menyinggung, hidup berdamai dengan Covid-19 belum layak diterapkan di Indonesia karena perkembangan kasusnya masih tinggi.

Infografik new normal. Alinea.id/Oky Diaz.

“Kalau (kasusnya) masih meningkat, itu namanya bunuh diri. Untuk di Indonesia saya kira terlampau dini,” kata Dono saat dihubungi, Kamis (21/5).

Ia membandingkan dengan kondisi penurunan kasus infeksi dan jumlah kematian di Inggris. Lantas, lanjut Dono, kondisi itu disikapi Pemerintah Inggris dengan usaha lanjutan yang tepat untuk mencegah munculnya gelombang kedua penularan.

Di samping itu, Dono menekankan, upaya aktif mencegah penularan Coronavirus masih perlu dilakukan dengan giat, di tengah ketidakpastian kapan pandemi akan berakhir.

“Kita juga belum dapat memastikan apa yang terjadi. Pengetahuan kita masih terbatas. Yang bisa kita lakukan ialah kita mencegah penularan virus ini sekuat-kuatnya,” tuturnya.

Berita Lainnya