close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi pengemudi bus jarak jauh. Alinea.id/Firgie Saputra
icon caption
Ilustrasi pengemudi bus jarak jauh. Alinea.id/Firgie Saputra
Nasional
Rabu, 10 November 2021 16:52

Cerita para supir menaklukkan Trans-Jawa: "Enggak usah emosi, berabe nanti..."

Jalur Trans-Jawa terkenar angker di kalangan para supir bus jarak jauh.
swipe

Meski hanya diterangi cahaya lampu seadanya, Agus Febrianto, 31 tahun, terlihat masih sibuk merawat bus tunggangannya yang terparkir di belakang terminal Poris Plawad, Tangerang, Banten, Senin (8/10) malam itu. 

Dengan cekatan, pria asal Bandung, Jawa Barat itu membongkar bagian mesin Mercedes-Benz yang terpasang di sasis bus Kaiser Guptaka jurusan Jakarta-Denpasar tersebut. Sistem pelumasan dicek, cengkraman rem pada roda bus berulangkali dites. 

"Semua harus diperiksa sebelum jalan biar enggak ada kendala. Kami armada dengan jarak tempuh yang lumayan jauh. Performa bus harus prima betul biar enggak ada masalah di jalan," ucap Agus saat berbincang dengan Alinea.id di sela-sela kesibukannya. 

Mengecek kondisi kendaraan secara berkala, kata Agus, sudah menjadi kewajiban para pengemudi bus jarak jauh. Apalagi, bus yang ia kemudikan sudah dijadwalkan untuk membawa rombongan penumpang ke Denpasar, Bali, keesokan harinya. 

"Kami enggak mau coba-coba kalau mesin enggak sehat bawa armada lewat Tol Trans-Jawa," ucap pria yang sudah berprofesi sebagai supir bus sejak 2009 itu. 

Dibangun sejak 1984, Tol Trans-Jawa kini memiliki panjang hingga 1.167 kilometer. Menghubungkan puluhan kota di Jawa, jalan tol itu membentang dari Pelabuhan Merak, Cilegon Banten, hingga Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. 

Saking panjangnya, menurut Agus, lintasan tol Trans Jawa tak mungkin "dilahap" sendirian.  Supaya tidak kelelahan, ia bergantian bersama dua rekannya di balik kemudi. Apalagi, jalur Tol Trans-Jawa punya sejumlah titik rawan, semisal di lintasan Tol Pejagan, Tol Pasuruan-Probolinggo, Cipali, dan Subang.

"Makanya, kami bawa supir dua supaya bisa gantian kalau supir satunya capek. Misalnya, saya bawa sampai Weleri, Kendal. Nanti diganti supir satunya. Terus ganti lagi di rumah makan kedua di Situbondo. Abis itu, saya bawa ke Denpasar," ucap Agus.

Di antara jalur-jalur tol tersebut, menurut Agus, Tol Pasuruan-Probolinggo jadi momok paling menakutkan bagi para supir bus. Selain karena jalanan yang berlubang, ruas jalan tol juga cenderung bergelombang. 

"Kalau belum tahu medan jalan itu, (kendaraan) bisa loncat. Pokoknya, masuk daerah Probolinggo hati-hati. Kalau tempat lokasi (kecelakaan) Vanessa, itu masih aman. Kalau Tol Pasuruan-Probolinggo, saya jujur, enggak nyaman bawa bus," ucap Agus. 

Vanessa yang dimaksud Agus ialah artis dan selebgram Vanessa Angel. Pekan lalu, mobil yang ditumpangi Vanessa dan empat orang lainnya mengalami kecelakaan tunggal di Tol Nganjuk. Dalam peristiwa itu, Vanessa dan suaminya meninggal. Dari hasil penyidikan sementara, kecelakaan terjadi karena supir Vanessa mengantuk saat ngebut. 

Agus mengatakan peristiwa kecelakaan karena supir kelelahan lazim terjadi di sepanjang jalan Tol Trans-Jawa. Menurut dia, banyak supir kerap terlena memacu kecepatan kendaraan mereka karena kondisi jalanan yang lengang di jalur tol saat malam. 

Idealnya, lanjut Agus, kecepatan maksimal kendaraan saat melintas di jalur tol berada di kisaran 80-100 kilometer per jam. "Lebih dari itu (kecepatannya), sangat bahaya. Apalagi, kalau kita mengemudi dalam keadaan ngantuk," kata Agus.

Selain karena faktor kondisi fisik supir dan jalan yang buruk, menurut Agus, kecelakaan di jalur Tol Trans-Jawa juga bisa terjadi karena kelakuan pengemudi lain. Ia menyebut banyak pengemudi mobil pribadi yang ugal-ugalan di jalur tol tersebut. 

"Mereka kayak adu cepat. Dia (para supir mobil pribadi) nyalip bus itu kayak enggak memerhatikan jarak aman. Mereka nyalipnya agak seenaknya. Padahal, bahaya buat dia, ya, buat saya juga," ucap Agus.

Sejumlah bus terparkir di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Senin (30/3/2020). Foto Antara/Aditya Pradana Putra

Jaga kondisi fisik dan emosional 

Ali Hasan, pengemudi bus Putra Luragung Sakti jurusan Jakarta- Kuningan, Jawa Barat, membenarkan Tol Trans-Jawa punya banyak lintasan angker. Ia mencontohkan kondisi ruas jalan tol di Cikopo-Palimanan (Cipali) yang berlubang dan bergelombang. 

"Cipali itu kurang bagus dan enggak rata. Ada beberapa titik jalan itu bergelombang. Kelihatannya rata, tapi bergelombang. Jadi, saya harus lebih hati-hati," ucap Ali kepada Alinea.id di Terminal Poris Plawad, Tangerang, Senin (8/10).

Menurut Ali, banyak pengemudi yang menjadikan jalur Tol Trans-Jawa, termasuk ruas Tol Cipali, sebagai jalur adu cepat kendaraan. Ali bahkan mengaku berulangkali hampir bertabrakan dengan kendaraan pribadi yang oleng saat menyalip bus yang ia bawa. 

"Memang lebih cepat dengan adanya tol. Tapi, banyak kendaraan yang saya tahu itu pengemudinya lelah atau ngantuk dan mestinya istirahat, tapi tetap digas. Itu sering banget saya lihat di Tol Cipali. Seharusnya dia istirahat di rest area, tapi maksain," ucap pria berusia 54 tahun itu.

Ali mengaku hanya berani memacu armadanya di kisaran 80-90 kilometer per jam di Tol Cipali. Berkaca pada pengalaman bertahun-tahun melintasi tol, menurut Ali, banyak kecelakaan terjadi lantaran pengemudi memacu kendaraannya melebihi batas maksimal. 

"Karena kalau di tol itu, kedip ngantuk sedikit aja udah enggak tahu ke mana mobil larinya. Itu karena kendaraan posisi kencang. Jadi, kalau capek dan ngantuk, jangan sekali-kali maksain kalau di Tol Trans Jawa mah. Gunanya rest area dibangun itu, ya, untuk istirahat," ucap pria asal Indramayu, Jawa Barat tersebut. 

Johan Azis, pengemudi bus Sinar Jaya jurusan Jakarta-Surabaya, menuturkan salah satu kunci tetap aman dalam berkendara di jalur Tol Trans-Jawa ialah sabar. Menurut dia, banyak kecelakaan terjadi karena pengemudi emosi kendarannya disalip kendaraan lain.

"Kalau saya, karena bawa penumpang, ya, enggak mau terlalu emosi bawa mobil. Kalau disalip, ya, udah biarin aja. Enggak usah emosi, berabe nanti ujungnya," ucap Johan saat berbincang dengan Alinea.id di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (8/10).

Johan mengaku sudah berulangkali menyaksikan kecelakaan maut terjadi di jalur Tol Trans-Jawa. Menurut dia, kebanyakan peristiwa kecelakaan terjadi lantaran pengemudi memacu kendaraan pribadinya terlampau kencang. 

"Kadang (pengemudi) keasyikan. Padahal, kalau ngantuk atau meleng dikit, melintas (di jalur Tol Trans-Jawa) rawan celaka. Semua supir bus yang lewat Tol Trans-Jawa kayaknya hampir semua sudah lihat mobil oleng, baik itu bus maupun mobil pribadi," ucap pria berusia 47 tahun itu. 

Berbeda dengan Ali dan Agus, Johan mengaku sering memacu armadanya hingga kecepatan 100-120 kilometer per jam. Itu dilakukan untuk mengejar target menempuh jarak Jakarta- Surabaya dalam waktu sekitar 10 jam. 

Membawa bus berkecepatan cukup tinggi, Johan juga sering "parno" bakal mengalami kecelakaan. "Tapi, untungnya saya ada supir cadangan. Karena kalau ke Surabaya dikasih supir dua buat gantian kalau capek," imbuh pria asal Tegal, Jawa Tengah itu. 

Petugas menempelkan stiker pada truk saat operasi penertiban 'over dimension' dan 'over load' di KM 41 tol Jakarta -Cikapek, Karawang, Jawa Barat, Jumat (13/3/2020). /Foto Antara

Perkuat pengawasan 

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno mengamini kondisi Tol Trans -Jawa tidak ideal. Ia menyebut banyak titik rawan yang potensial menyebabkan terjadinya kecelakaan. 

"Saya enggak heran para supir bus bakal mengeluh. Bahaya seperti jalan berlubang dan sebagainya karena itu dampak dari (truk) ODOL (over dimension, over loading). Kendaraan yang over dimensi," ucap Djoko kepada Alinea.id, Selasa (9/10).

Menurut Djoko, banyak truk ODOL yang dibiarkan melintas jalur Trans-Jawa meskipun melanggar aturan. Padahal, banyak ruas jalan di jalur Tol Trans-Jawa yang tak sanggup menahan berat dari truk-truk tersebut. Jika dipacu dalam kecepatan tinggi, truk-truk obesitas itu bisa membuat jalan retak dan berlubang. 

"Di jalan tol itu tidak ada upaya penilangan. Yang berwajib menilang kan polisi, bukan petugas jalan tol. Petugas jalan tol tidak punya kewenangan menindak mereka. Jadi, kasihan mereka. Jalan sudah rusak, lalu polisi tidak melakukan penindakan," ucap Djoko.

Djoko menyebut petugas juga terkesan membiarkan para pengemudi adu cepat di jalur tol Trans-Jawa. Menurut dia, hanya ruas jalur tol saja yang saat ini dilengkapi speed gun atau alat pemantau kecepatan untuk mengawasi para pengemudi yang ugal-ugalan. 

"Batas kecepatan maksimum 100 kilometer per jam itu hanya tertulis saja. Masalahnya itu. Sanksinya ada, tapi tidak diterapkan. Ruas tol Mojokerto-Surabaya itu yang bagus itu sudah ada speed gun untuk memantau batas kecepatan. Tapi, tetap enggak seluruhnya," tutur Djoko. 

img
Kudus Purnomo Wahidin
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan