logo alinea.id logo alinea.id

Critical eleven, menit-menit paling gawat dalam penerbangan

Critical eleven merupakan sebelas menit paling kritis di dunia penerbangan.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Selasa, 30 Okt 2018 16:15 WIB
Critical eleven, menit-menit paling gawat dalam penerbangan

Pesawat Lion Air JT610 yang lepas landas (take off) dari Bandar Udara Soekarno-Hatta ke Pangkal Pinang, kemarin pagi (29/10) jatuh di Laut Jawa, utara Bekasi, Jawa Barat. Pesawat yang membawa 189 orang itu lepas landas sekitar pukul 06.20 WIB.

Pada Senin (29/10) pukul 06.32 WIB, Jakarta Air Traffic Controller (Jakarta Control) kehilangan kontak dengan pesawat itu. Sebelumnya, pilot sempat menghubungi Jakarta Control, dan menyampaikan masalah flight control, ketika berada di ketinggian 1.700 kaki. Pilot meminta naik ke ketinggian 5.000 kaki.

Kecelakaan pesawat saat lepas landas memang bukan hal baru di Indonesia. Pada 5 September 2005 lalu, pesawat Boeing 737-200 milik Mandala Airlines gagal lepas landas dari Bandara Polonia Medan menuju Jakarta.

Fatalnya, pesawat ini menghantam pagar bandara dan menubruk perumahan penduduk. Dari 117 penumpang, hanya 17 yang selamat. Warga pun menjadi korban. Sebanyak 49 warga tewas dalam insiden ini.

Dalam dunia penerbangan dikenal istilah critical eleven. Menurut situs Flightsafety.org, critical eleven bisa diartikan sebagai sebelas menit paling kritis di dunia penerbangan, dengan perincian tiga menit setelah lepas landas dan delapan menit sebelum mendarat (landing). Statistik mencatat, 80% kecelakaan pesawat terjadi saat fase critical eleven.

Penanganan sigap

Posisi jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di Laut Jawa, utara Bekasi, Jawa Barat. (www.flightradar24.com/data/flights/jt610).

Proses lepas landas dan mendarat menjadi hal yang paling penting dalam dunia penerbangan. Pesawat tak bisa meninggalkan darat, sebelum dinyatakan layak lepas landas. Begitu pula dengan proses mendarat. Semua harus dipersiapkan dengan matang.

Pengamat penerbangan Alvin Lie membenarkan, kondisi pesawat ketika lepas landas dan akan mendarat merupakan kondisi yang paling kritis. Sebab, saat tinggal landas, pesawat akan bergerak dengan tenaga maksimum dan kecepatan yang cukup untuk lepas landas, dan belum mencapai ketinggian ideal.

Sponsored

“Pesawat banyak manuver pada ketinggian yang rendah, sehingga kalau ada masalah, pilot tidak punya cukup waktu dan tidak punya ruang gerak yang cukup untuk melakukan pendaratan yang normal,” kata Alvin, ketika dihubungi, Senin (29/10).

Pilot salah satu maskapai swasta Eko Puja Sulandhono mengatakan, ada beberapa faktor yang harus dipastikan aman sebelum lepas landas, antara lain mesin pesawat, cuaca, tekanan angin, dan landasan pacu.

Menurutnya, waktu tiga menit saat lepas landas, yang termasuk menit paling kritis, berlangsung sangat singkat ketimbang saat mendarat. Sebelum lepas landas, kata Eko, pilot harus memeriksa kesiapan secara menyeluruh.

“Jika ditemukan kendala, pilot tidak boleh menerbangkan pesawat atau membatalkan take off,” kata Eko, Senin (29/10).

Begitu pula ketika pesawat sudah terlanjur dalam proses lepas landas, tapi diketahui ada masalah, maka pilot mesti menghentikan pesawat dan mengembalikan lagi ke posisi di darat. Menurut Eko, pilot harus tetap waspada, bila terjadi kondisi tertentu, dan penanganannya pun harus sigap.

Saat ingin lepas landas, lanjut Eko, jika ada masalah dan penanganannya salah, akibatnya bisa fatal. Untuk membatalkan lepas landas pun harus cepat prosedurnya.

“Jika lambat, maka pesawat sudah terlanjur meluncur. Padahal sisa runway habis, maka pesawat bisa tergelincir,” kata dia.

Patuhi prosedur

Sejumlah pramugari melakukan pelatihan penyelamatan penumpang saat pendaratan darurat di laut atau air di Pusat Pelatihan milik Lion Group di Balaraja, Tangerang, Banten, Jumat (5/10). (Antara Foto).

Sementara itu, Eko menjelaskan, pendaratan pesawat dilakukan usai pesawat bergerak turun (descent) dengan kecepatan yang konstan. Saat dalam posisi ini, harus dilakukan pengaturan daya mesin pesawat.

Posisi sudut pergerakan turun secara umum tiga derajat menuju bandara. Kondisi pergerakan turun itu disebut dengan istilah approaching. Tahapan akhir dari approaching itu adalah pengambilan posisi untuk mendarat.

Ketika mendaratkan pesawat, menurut Eko, waktu kritis berlangsung lebih panjang dari waktu lepas landas. Hal ini disebabkan oleh prosedur mendarat, yang memang tak secepat lepas landas.

“Pilot memiliki jeda waktu lebih lama untuk mengambil keputusan saat akan mendaratkan pesawat,” ujar Eko.

Eko menjelaskan, meski mesinnya mati, sebenarnya pesawat masih bisa melayang. Bila terjadi kendala teknis yang lain, menurutnya, pilot masih punya jeda waktu panjang untuk berpikir, menganalisa, dan menuntaskan masalah, karena posisi pesawat masih di udara.

Lebih lanjut, Eko menerangkan, kelalaian yang terjadi ketika lepas landas dapat mengakibatkan petaka saat pesawat sudah di udara dalam posisi terbang normal (cruise). Contohnya, ketika terjadi kendala teknis yang diabaikan.

“Memang pas take off tidak ada impact apa-apa, tapi pas sudah di atas bisa jadi masalah serius,” katanya.

Di sisi lain, Eko mengatakan, fatalitas akibat kecelakaan seharusnya bisa diminimalisir jika pilot, awak, dan seluruh penumpang pesawat mematuhi instruksi yang berlaku. Prosedur mengoperasikan pesawat, serta evakuasi pesawat pun berlaku secara internasional.

Prosedur ini kerap diterangkan awak kabin, ketika akan lepas landas. Penumpang pun bisa membaca kartu petunjuk yang sudah disediakan.

Akan tetapi, Eko menuturkan, mayoritas kebanyakan abai dengan pemberitahuan dari pramugari dan pramugara maskapai.

“Biasanya penumpang cuek. Contoh, pelampung yang ada di bawah kursi. Karena mereka cuek, maka kalau ada pendaratan darurat nyawa hilang,” kata Eko.

Kecelakaan pesawat Lion Air kali ini merupakan tragedi penerbangan yang memakan korban jiwa paling banyak sejak 1997. Pada 1997, pesawat Garuda Indonesia jatuh di Medan, Sumatra Utara akibat kabut asap. Sebanyak 234 orang menjadi korban jiwa.

Menurut Manajer Humas AirNav Indonesia Yohanes Harry Sirait, belum bisa dipastikan apakah kecelakaan pesawat Lion Air tersebut masuk dalam critical eleven atau tidak. Yohanes mengatakan, hal itu baru bisa dipastikan dari kotak hitam dan investigasi KNKT.

Meski demikian, ada baiknya hal-hal yang akan memicu kecelakaan di fase critical eleven mesti jadi perhatian semua pihak yang terkait, terutama awak dan penumpang pesawat.