sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Di depan Istana, mahasiswa Papua Barat tuntut merdeka

Ratusan mahasiswa dan pemuda Papua Barat berunjuk rasa di depan Istana Negara menuntut merdeka sebagai buntut rasisme.

 Alfiansyah Ramdhani
Alfiansyah Ramdhani Kamis, 22 Agst 2019 19:02 WIB
Di depan Istana, mahasiswa Papua Barat tuntut merdeka

Ratusan mahasiswa dan pemuda Papua Barat berunjuk rasa di depan Istana Negara menuntut merdeka sebagai buntut rasisme.

Pengunjuk rasa tergabung dalam Front Rakyat Indonesia untuk West Papua, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), dan Aliansi Mahasiswa Perguruan Tinggi Indonesia. 

Mereka berunjuk rasa di seberang Istana Negara setelah sebelumnya dari depan Markas Besar TNI Angkatan Darat. Aksi dilakukan pada Kamis (22/8) siang hingga berakhir pada pukul 17.30 WIB.

Elemen mahasiswa dan pemuda ini menyuarakan aspirasi terkait rasisme yang menimpa masyarakat Papua di Jawa Timur. Tidak hanya itu, pengunjuk rasa juga menuntut untuk dapat menentukan nasib mereka sendiri.

Sekretaris II Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Albert Mangguar menyatakan cara demokratis untuk mengatasi kasus rasisme yang dialami saat ini adalah memberikan kemerdekaan bagi Papua Barat.

“Jadi kalau seandainya ormas-ormas saat pengepungan asrama di Surabaya bilang bahwa usir Papua, ya solusi paling demokratis orang Papua dipulangkan, dan NKRI keluar dari tanah Papua Barat. Itu sebagai solusi paling demokratis,” ujar Albert dalam orasinya di Jakarta, Kamis (22/8).

Albert menjelaskan pembangunan yang terjadi di Papua adalah kewajiban pemerintah sebagai pihak yang mengeruk sumber daya alam (SDA). Hal tersebut menurut Albert tak menyurutkan keinginan masyarakat Papua untuk merdeka.

"Karena mereka sudah menguras sumber daya alam kami, itu kewajiban mereka. Tapi saat ini, harapan rakyat Papua berencana sendiri gelar referendum. Tuntutannya satu,” ucap Albert

Sponsored

Dewan Perwakilan Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tinggi, Ambros meminta Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk mengusut tindakan rasisme yang menimpa sejumlah mahasiswa asal Papua di Surabaya pada Sabtu (17/8). 

Hal tersebut diutarakan karena Ambros sudah tidak percaya dengan kinerja Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) maupun Kepolisian Daerah (Polda).

“Kami minta PBB untuk segera mengintervensi, melakukan pembimbingan terhadap rasisme yang dilakukan oleh militer dan ormas reaksioner,” ujar Ambros pada kesempatan yang sama.

Ambros juga meminta kepada negara-negara di wilayah Pasifik untuk memperhatikan kasus rasisme yang dialami masyarakat Papua Barat. 

“Dan kami minta kepada negara-negara di Pasifik, tolong melihat kami di Papua Barat. Kami mulai mendapatkan tindakan rasis secara tidak manusiawi,” tutur Ambros.

Ambros memberikan pesan bagi masyarakat Indonesia bahwa rakyat Papua juga manusia yang harus dihargai dengan seutuhnya dan layaknya memiliki martabat.

Pantauan di depan Istana Negara, tepatnya Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, massa aksi mulai membubarkan diri pada pukul 17.30 WIB. Aparat kepolisian mengawal ketat aksi hingga massa membubarkan diri.