sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dicatut peneror diskusi UGM, Muhammadiyah sebut adu domba

Muhammadiyah sangat mendukung nalar kritis dan kajian ilmiah.

Ardiansyah Fadli
Ardiansyah Fadli Minggu, 31 Mei 2020 17:10 WIB
Dicatut peneror diskusi UGM, Muhammadiyah sebut adu domba
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 373.109
Dirawat 64.032
Meninggal 12.857
Sembuh 297.509

Oknum peneror kegiatan diskusi mahasiswa Constitutional Law Society (CLS) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatut ormas Muhammadiyah Klaten.

Diskusi bertajuk 'Meluruskan Persoalan Pemberhentian Presiden Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan' itu sejatinya dihelat pada 29 Mei 2020. Namun batal digelar karena panitia diskusi mendapatkan teror.

Menanggapi hal itu, Sekertaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti menegaskan, ancaman tersebut bukan berasal dari Muhammadiyah alias oknum yang mengatasnamakan ormas tersebut.

"Saya menduga, orang tersebut oknum yang hanya menebar teror dan mengadu domba Muhammadiyah dengan pihak lain. Terbukti, nomor HP yang dipakai berbeda," kata Abdul Mu'ti dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Minggu (31/5). 

Mu'ti menjelaskan, saat ini PP Muhammadiyah tengah menelusuri dan mengumpulkan informasi terkait oknum yang mencatut dan mencoreng nama baik organisasinya itu.

Dia bahkan meminta pihak berwajib dalam hal ini kepolisian untuk mengusut tuntas aksi itu. "Muhammadiyah meminta kepada kepolisian untuk dapat melacak pemilik nomor HP tersebut. Termasuk klarifikasi kepada pihak UGM," tegasnya.

Dia menambahkan, Muhammadiyah tidak mengetahui mengenai adanya seminar yang diselenggarakan oleh mahasiswa UGM tersebut. 

Untuk itu, kata dia, jika ada oknum yang mengatasnamakan Muhammadiyah Klaten dan mengancam peserta diskusi dapat dipastikan bukan bagian dari Muhammadiyah.

Sponsored

Lebih jauh Abdul Mu'ti menilai, sebagai organisasi yang bergerak dalam pendidikan, Muhammadiyah sejak awal sangat mendukung nalar kritis dan kajian ilmiah sebagai bagian dari amar ma'ruf nahi munkar.

Bahkan Muhammadiyah menolak dan menentang cara-cara kekerasan dalam bentuk apapun dalam menyampaikan gagasan dan dakwah. 

"Karena itu cara-cara kekerasan, termasuk teror seperti yang dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan Muhammadiyah,  jelas bukan merupakan karakter dan kepribadian kader dan warga Muhammadiyah," tutupnya. 

Berita Lainnya