sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Eks Presiden ACT Ahyudin menjelaskan soal gajinya yang selangit

Ahyudin menyatakan, jika pekerja di lembaga sosial digaji kecil, apalagi ditiadakan, tak akan ada profesional yang mau menekuni dunia ini.

Immanuel Christian
Immanuel Christian Rabu, 06 Jul 2022 13:26 WIB
Eks Presiden ACT Ahyudin menjelaskan soal gajinya yang selangit

Mantan Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahyudin, memberikan penjelasan atas pemberitaan gaji besar para petinggi institusi filantropi itu. Menurut Ahyudin, sumber dana renumerasi atau gaji yang diterimanya adalah akumulasi gaji dari banyak lembaga, bukan hanya dari ACT.

Ahyudin menjelaskan, ACT hanya salah satu dari sekian lembaga yang pernah dia pimpin. "Selain ACT, ada lembaga lain sebagai sumber renumerasi semua SDM (Sumber Daya Manusia)," kata Ahyudin dalam keterangan, Rabu (6/7).

Lembaga yang dimaksud ialah Global Wakaf, Global Zakat, Global Qurban, MRI, dan DMIII (Disaster Management Institute of Indonesia). Ada juga lembaga lain di bawah Global Wakaf, seperti Lumbung Ternak Wakaf, Lumbung Beras Wakaf, dan Lumbung Air Wakaf.

Semua lembaga-lembaga tersebut, kata Ahyudin, dibawahi oleh satu holding perkumpulan legal, yaitu GIP (Global Islamic Philanthropy). "Di mana saya menjadi presidennya," ujar Ahyudin.

Seperti diberitakan sebuah majalah mingguan, salah satu pengeluaran ACT adalah untuk menggaji pendiri dan presiden ACT yang jumlahnya mencapai Rp250 juta per bulan. Kemudian pejabat senior vice president Rp200 juta per bulan, vice president Rp80 juta, dan direktur eksekutif Rp50 juta. Selain itu, para petinggi yayasan ini juga mendapat fasilitas kendaraan mewah.

Bagi Ahyudin, semua leader lembaga adalah tim leader inti di GIP, seperti presiden, senior vice presiden, vice presiden, direktur eksekutif dan direktur. Sumber dana GIP dari semua lembaga yang dibawahinya. 

Ahyudin menyebut, dalam semua lembaga yang dibawahi GIP, ia berperan sebagai ketua dewan pembina yayasan. Sedangkan leader GIP yang lainya (para SVP,  VP dan BOD lainnya) adalah tim pengurus di legal yayasan. 

GIP menjadi holding dari semua lembaga yang sudah berlangsung sejak GIP dilahirkan sekitar 2013. Renumerasi profesional bagi semua SDM lembaga mulai dijalankan setelah pencapaian penerimaan dana (dominan donasi) secara akumulatif mencapai Rp500 miliar lebih per tahun, yaitu sejak 2018-2021.

Sponsored

Ia menjabarkan, sekilas gambaran tentang akumulasi jumlah dana (donasi) diterima semua yayasan (ACT, Global Wakaf, Global Qurban, Global Zakat) di bawah GIP sebagai bagian dari alasan mengapa lembaga memberikan gaji relatif besar.

Dalam kurun waktu 5 tahun sejak 2017-2021, kata dia, total dana (donasi) terhimpun mencapai hampir Rp3 triliun. Nilai itu dalam bentuk uang tunai dan sebagian dalam bentuk aset dan natura yang diterima oleh semua yayasan di bawah GIP.

"Total akumulasi donasi selama 17 tahun sejak 2005 hingga 2021 sekitaran Rp4 triliun lebih," ucap Ahyudin.

Ia mencontohkan Global Qurban telah memperoleh amanah lebih dari 100 ribu ekor setara kambing dalam 5 tahun terlahir, mulai 2017-2021.

Ia mengaku ingin mengangkat posisi lembaga amal sosial di tanah air itu tinggi, berkelas, memiliki prestise, dan profesional. Yang juga penting adalah mampu menghadirkan kebermanafaatan yang besar bagi masyarakat luas. 

"Dengan demikian diharapkan banyak para profesionalis hebat di negeri ini ikut terjun ke dunia sosial," ujar Ahyudin.

Ahyudin menjelaskan, apabila gaji di lembaga sosial kecil, apalagi ditiadakan, tidak mungkin orang-orang hebat dan profesional tertarik mengelola lembaga amal sosial. Melalui kiprah lembaga-lembaga amal sosial ini ia ingin Indonesia menjadi bangsa besar, terbaik, menjadi bangsa tangan diatas bukan bangsa tangan di bawah. 

"Bukan bangsa pengutang, tetapi menjadi bangsa pemberi bantuan. Ini semua hanya bisa dicapai jika orang-orang terbaik di negeri ini tertarik terjuni industri sosial sehingga mampu membangun lembaga amal yg besar kelas dunia, memberi manfaat sosial bukan hanya kepada bangsanya sendiri, tetapi juga kepada bangsa lain di seluruh duniia," tutur Ahyudin.

Bagi dirinya, visi sosial seperti ini diharapkan mampu menstimulus gerakan entrepreneurship bisnis secara meluas di masyarakat. Pasalnya, membangun gerakan sosial yang masif tanpa semua itu menjadi sulit bahkan mustahil.

"Semoga penjelasan ini bisa mencerahkan masyarakat sekalligus meluruskan pemberitaan media yang berkembang saat ini," tuturnya.

Berita Lainnya
×
tekid