Nasional / Telisik

Hercules dan jejak preman masa Orde Baru

Istilah preman pertama kali dikenal di Medan, Sumatra Utara, pada masa kolonial. Berasal dari bahasa Belanda, vrije man.

Hercules dan jejak preman masa Orde Baru
Hercules Rosario Marshal, diduga menjadi otak yang memerintahkan puluhan preman untuk menguasai lahan dan memeras penghuni rumah toko milik PT Nila Alam. /Facebook.com/Hercules-Do-Rosario-Marshal

Lama tak terdengar, Rosario de Marshal, atau dikenal dengan nama Hercules, kembali membuat berita. Pria asal Dili, Timor-Timur (kini Timor Leste), tersebut terjerat perkara, lagi-lagi, premanisme. Pada 21 November 2018, Hercules ditangkap di rumahnya, bilangan Kembangan, Jakarta Barat.

Hercules diduga menjadi otak yang memerintahkan puluhan preman untuk menguasai lahan dan memeras penghuni rumah toko milik PT Nila Alam di Kalideres, Jakarta Barat.

Rekam jejak Hercules, yang dikenal publik sebagai bos preman, memang panjang. Menurut Agus Pramono dalam buku Rahasia di Balik Layar Kick Andy, nama Hercules berasal dari sandi di radio komunikasi, saat operasi militer di Timor Postugis (nama sebelum menjadi Timor-Timur), medio 1970-an.

Kala itu, tulis Agus, Hercules menjadi penjaga gudang amunisi tentara Indonesia, yang sedang menumpas Frente Revolucionaria de Timor Leste Independente (Fretilin). Hercules mendapat musibah, tangan kanannya buntung, dan harus diterbangkan ke Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta.

“Pada 1987, Hercules mulai masuk ke Tanah Abang. Di tempat inilah kehidupannya mulai dikenal. Hampir setiap hari terjadi pertikaian antargeng. Hercules berhasil menjatuhkan satu demi satu seterunya, hingga dirinya disegani di wilayah itu,” tulis Agus.

Preman dan organisasinya

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat AKBP Edy Suranta Sitepu bersama jajarannya menunjukkan barang bukti dalam rilis perkembangan kasus penguasaan lahan yang melibatkan anggota kelompok Hercules, di Polres Metro Jakarta Barat, Jumat (23/11). (Antara Foto).

Menurut Maruli CC Simanjuntak dalam buku Preman-Preman Jakarta, istilah preman pertama kali dikenal di Medan, Sumatra Utara, pada masa kolonial. Kata preman, tulis Maruli, berasal dari bahasa Belanda, vrije man (lelaki bebas). Istilah ini, dahulu mengacu pada kaum laki-laki yang menolak bekerja di perkebunan Belanda.

Konotasi preman menjadi stigma kriminalitas baru ada pada 1978. Jérôme Tadié dalam bukunya Wilayah Kekerasan di Jakarta menyebutkan, kata preman berkonotasi kriminal itu ditemukan dalam novel Ali Topan, Detektif Partikelir karya Teguh Esha.

“Pada 1979, sebuah organisasi yang hanya merekrut preman atau mantan narapidana, mengkhususkan diri pada bidang ‘keamanan’ didirikan dengan nama Preman Sadar atau Prems,” tulis Tadié dalam bukunya Wilayah Kekerasan di Jakarta.

Tadié mencatat, selama masa Orde Baru ada sekitar 60 geng pemuda berdiri. Mereka terdiri dari anak-anak muda yang hanya nongkrong di perempatan jalan hingga anak kompleks militer yang memiliki pistol dari ayahnya.

Periode 1970-an, kehidupan jalanan semakin riuh. Sejumlah organisasi “kemasyarakatan” preman dibentuk. Menurut Tadié, organisasi-organisasi ini secara resmi memiliki tujuan mempekerjakan mantan narapidana, preman jenis apapun, agar mereka kembali menjadi anggota masyarakat dan memiliki pekerjaan.

Magister Jurusan Sejarah Universitas Indonesia Muhammad Fauzi mengatakan, organisasi bagi preman tak hanya memudahkan pemimpin mengendalikan kekuasaannya dalam ruang lingkup tertentu, serta mengontrol sumber-sumber ekonomi di dalamnya, tapi juga dimanfaatkan untuk tujuan politik, dalam sebuah ruang yang menjadi wilayah dan jangkauan kekuasaannya.

“Organisasi juga dibutuhkan untuk menunjukkan keberadaan preman sebagai sebuah kelompok yang perlu dilihat, diperhitungkan, atau disegani. Organisasi tentunya dapat menjadi pertimbangan pula dalam suatu negosiasi dengan pihak lain,” kata Fauzi, yang menulis tesis Jagoan Jakarta dan Penguasaan di Perkotaan 1950-1960, ketika dihubungi, Minggu (25/11).

Organisasi preman menguasai wilayah tertentu di sebuah kota. Maruli dalam bukunya Preman-Preman Jakarta, di daerah Blok M, Jakarta Selatan ada sejumlah organisasi preman yang terkenal. Salah satunya Legos, yang dibentuk pada 1960-an.

Sebagian besar anggota organisasi ini merupakan anak-anak pejabat yang berdomisili di wilayah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Menurut Maruli, salah seorang pemimpin Legos yang disegani bernama Suhas, anak seorang diplomat yang pernah bertugas di Pakistan.

“Kegiatannya, pemalakan dan pengutipan uang jasa keamanan dari toko-toko di Blok M,” tulis Marulis.

Lokasi berkumpulnya preman Flores di Melawai, Jakarta Selatan. (Repro buku Preman-Preman Jakarta).

Selain itu, sebut Maruli, di Blok M ada kelompok preman Flores. Anggotanya 70% berasal dari Flores, dan kerap berkerumun di Bar LM, yang ada di Jalan Melawai Raya, Jakarta Selatan.

Ada pula organisasi preman yang bersentuhan dengan kekuasaan. Salah satunya, Tadié menyebut Yayasan Bina Kemanusiaan, yang beranggotakan orang Makassar, dibentuk pada 1981.

Ahli geografi urban dan peneliti di Institut de Recherche pour le Developpement, Prancis ini menjelaskan, Yayasan Bina Kemanusiaan mendapatkan dana dari aktivitas perjudian. Organisasi ini dibentuk di bawah perlindungan salah seorang kerabat Tien Soeharto, dan berhubungan intim dengan Golongan Karya.

“Mereka dimanfaatkan sebagai kekuatan untuk memenangkan Pemilu, mengingat pengetahuan mereka tentang wilayahnya, kekuatan, dan kenekatan, serta keberadaan mereka di tengah masyarakat,” tulis Tadié.

Selain Yayasan Bina Kemanusiaan, ada The Prems di Jakarta, Fajar Menyingsing di Semarang, dan Massa 33 di Jawa Timur. Menurut pemimpin Fajar Menyingsing Bathi Mulyono dalam wawancaranya dengan majalah Tempo edisi 6 Oktober 2014, semasa Ali Moertopo berkuasa, para preman dibina dalam sejumlah organisasi.

Ali Moertopo pada 1970-an merupakan Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN). Ali merupakan orang di balik Operasi Khusus (Opsus) yang memberangus lawan-lawan politik Soeharto di dekade awal Orde Baru. Pada 1978 hingga 1983, Ali menjadi Menteri Penerangan.

“Tugas saya adalah menghancurkan organisasi massa para buruh yang menjadi onderbouw partai agar buruh hanya setia kepada Golongan Karya, kata Bathi kepada majalah Tempo edisi 6 Oktober 2014, dalam artikel “Jeger-Jeger Petrus”.

Usai Pemilu 1982, preman dan orang-orang yang dituding sebagai penjahat dijinakkan Orde Baru dengan cara kekerasan.

Dor! Petrus

Awalnya, gali (akronim gabungan liar), sebuah istilah untuk geng penjahat yang lihai merampok dan melakukan tindak kekerasan, terutama di wilayah Yogyakarta, membuat resah pemerintah pada 1970-an. Menurut Tadié, gali adalah sasaran utama operasi khusus untuk memberangus preman, yang kemudian dikenal dengan sebutan petrus (penembak misterius) pada 1983.

Merujuk pada laporan khusus majalah Tempo edisi 6 Oktober 2014, petrus berawal dari permintaan Soeharto supaya aparat keamanan menindak penjahat pada 1 Januari 1982. Gayung bersambut. Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) Soedomo kemudian melakukan rangkaian operasi keamanan.

Masih menurut artikel berjudul “Jeger-Jeger Petrus” dalam majalah Tempo, Leonardus Benjamin Moerdani yang baru diangkat menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan Panglima Kopkamtib, pada Maret 1983 meneruskan operasi yang bermula dari Soedomo.

Lokasi penemuan mayat korban petrus di Jakarta pada 1980-an. (Repro buku Wilayah Kekerasan di Jakarta).

Dari Yogyakarta, aksi petrus meluas ke Jakarta pada Mei 1983. “Hingga awal Agustus 1983 ditemukan 60-an mayat di Jakarta,” tulis Tadié dalam Wilayah Kekerasan di Jakarta.

Berdasarkan laporan riset J. van der Kroef yang didapatkan dari Lembaga Bantuan Hukum, menurut Tadié, diperkirakan jumlah orang hilang saat peristiwa petrus mencapai 4.000 hingga 10.000 jiwa.

Masih merujuk tulisan Tadié, penemuan mayat itu terutama di permukiman padat atau kampung, yang waktu itu tengah mengalami perubahan besar, seperti Manggarai, Tanjung Priok, dan sekitar Grogol. Mayat-mayat pun ditemui di pinggir kota lokasi pembangunan properti, seperti di selatan Kelapa Gading, dan tol Jagorawi.

Menariknya, mayat-mayat ini memiliki ciri yang sama: bertato. Lantas, apa reaksi preman-preman itu?

Ada empat reaksi menurut Tadié. Pertama, mereka berusaha menghapus tato di tubuhnya, dengan membakarnya (setrika). Kedua, mereka melarikan diri ke daerah lain. Tadié menyebut, saat peristiwa petrus, ada eksodus besar preman ke Makassar. Ketiga, mereka meminta perlindungan kepada aparat kepolisian. Terakhir, mereka yang habis masa tahanannya, tetap memilih berada di dalam lembaga pemasyarakatan.

Operasi Clurit, yang dikenal orang sebagai petrus, berhenti pada medio 1985. Menarik melihat temuan Tadié dalam buku Wilayah Kekerasan di Jakarta. Menurutnya, usai petrus, tempat-tempat yang sebelumnya diduduki kelompok preman tertentu, berubah di Jakarta. Misalnya saja, orang Banjar yang mulanya mengendalikan wilayah di selatan Manggarai, menghilang tiba-tiba.

Selain itu, banyak preman yang bergabung dengan organisasi nasionalis, seperti Pemuda Pancasila. “Tindakan ini didorong oleh rasa takut karena mereka menyadari perlunya back-up negara untuk memastikan kelangsungan hidup mereka,” tulis Tadié.

Pascapembunuhan besar-besaran preman, pemerintah Orde Baru tak pernah mengakui mereka adalah dalang semua itu. Bahkan, Benny Moerdani, sapaan akrab Leonardus Benjamin Moerdani, membantah terus-menerus pasukan keamanan terlibat dalam pembantaian itu. Dia menyebut, pembunuhan itu akibat perang antargeng kriminal.

Pengakuan secara tersirat kepada publik justru datang dari Soeharto. Pada 1989, dia menerbitkan otobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH.

”Orang-orang jahat itu sudah bertindak melebihi batas perikemanusiaan […]. Apa hal itu mau didiamkan saja? Dengan sendirinya, kita harus mengadakan treatment, tindakan yang tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor! dor! Begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan, ya, mereka mau tidak mau harus ditembak,” kata Soeharto dalam buku itu.

Pada 1998, dalam sebuah wawancara, Benny Moerdani yang wafat pada 2004 pun sempat mengakui tindakan pasukan intelijen dalam operasi pembunuhan preman. Seperti dikutip dari buku Suharto: Sebuah Biografi Politik karya Robert Edward Elson, Benny menjelaskan, pengadilan tak mampu mengatasi gelombang kejahatan.

“Sejalan dengan itu, pasukan intelijen membuntuti setiap penjahat yang dicurigai untuk memastikan bahwa penjahat tersebut memang benar, seperti kenampakannya. Kalau dugaan itu sudah diperkuat, penjahat itu dihabisi begitu saja,” kata Benny, seperti dikutip dari buku Suharto: Sebuah Biografi Politik karya Robert Edward Elson.

Bagaimanapun, Hercules merupakan bagian dari cerita dunia kelam pemimpin kelompok preman di Jakarta. Sebelum ditahan polisi karena kasus barunya, Hercules pernah tercatat melakukan aksi tindak kriminal. Misalnya, pada 2005, Hercules dan kelompoknya menyerang kantor Indopos, dan pada 2013 merusak ruko di kompleks PT Tjakra Multi Strategi.

Menurut Fauzi, Hercules memang memiliki pengaruh penting di Jakarta. Koneksi dan jejaring dia dengan tokoh-tokoh seperti disebut dalam banyak media, kata Fauzi, tampak sudah menjadi pengetahuan umum warga Jakarta.

Meski begitu, preman pun membuat banyak orang terinspirasi mencipta karya. Misalnya saja musisi Ikang Fawzi yang pada 1987 melantunkan lagu hit “Preman”: Pak cik pak pak preman preman.


Berita Terkait