close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Penumpang antre untuk memasuki area peron di memasuki Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Jumat (25/12/2020). PT Kereta Api Indonesia telah menjual 428.000 tiket. Antara Foto/Rivan Awal Lingga/rwa/dokumentasi.
icon caption
Penumpang antre untuk memasuki area peron di memasuki Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Jumat (25/12/2020). PT Kereta Api Indonesia telah menjual 428.000 tiket. Antara Foto/Rivan Awal Lingga/rwa/dokumentasi.
Nasional
Senin, 17 April 2023 18:19

Kadin ungkap potensi perputaran uang selama libur Idulfitri

Perputaran uang tersebut, akan menyebar di sektor usaha transportasi darat (bus, rental, kereta api, mobil pribadi, motor).
swipe

Setelah tiga tahun mudik menerapkan pembatasan, tahun ini pemerintah mengakhiri PPKM dan tidak lagi mewajibkan memakai masker di ruang terbuka. Hal itu membuat antusias dan animo masyarakat melakukan mudik pada Idulfitri 1444 H sangat tinggi.

Data Kementerian Perhubungan menyebutkan, jumlah pemudik tahun ini berpotensi naik sebesar 14,2% atau mencapai 123,8 juta orang, dibanding tahun lalu sebesar 85,5 juta orang. Disamping mudik, ada juga warga yang melakukan perjalanan wisata keluarga ke berbagai destinasi wisata di Indonesia. Mengingat masa libur bersama yang demikian panjang sehingga dapat dimanfaatkan untuk menikmati kebersamaan keluarga.

"Dengan jumlah pemudik yang demikian besar, maka dipastikan ekonomi daerah yang menjadi tujuan mudik akan bergairah dan mengalami pertumbuhan yang signifikan. Asumsi perputaran uang selama libur Idulfitri 1444 H mencapai Rp92,3 triliun dan tersebar di seluruh pelosok tanah air," tutur Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang, dalam keterangan tertulisnya, Senin (17/4).

Jumlah tersebut, dihitung dari jumlah pemudik sebesar 123,8 juta orang atau setara dengan 30.752.000 keluarga. Dengan asumsi, setiap keluarga membawa uang rata-rata Rp3 juta. Angka Ini dihitung rata-rata paling minimal dan masih berpeluang di atas itu.

Perputaran uang tersebut, akan menyebar di sektor usaha transportasi darat (bus, rental, kereta api, mobil pribadi, motor), laut (kapal laut) dan udara (pesawat), kuliner, hotel/penginapan, restoran, kafe, destinasi wisata, UKM makanan khas daerah dan penjual souvenir, warung dan toko di daerah dan berbagai produk unggulan daerah. Mudik Idulfitri tahun ini, terdiri atas mudik antarkabupaten/kota, antarprovinsi, antarpulau dan antarwilayah. Antarwilayah maksudnnya dari kawasan Barat ke Tengah dan Timur atau sebaliknya.

Perputaran uang tersebut di dominasi di Pulau Jawa, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Banten dan Jabodetabek sebesar 62,5% dengan jumlah pemudik sebanyak 77,3 juta orang atau setara 19.325.000 keluarga. Sisanya menyebar ke Sumatera, Kalimantan,Bali/NTB, Sulawesi, NTT, Maluku, dan Papua.

"Dengan potensi perputaran yang cukup besar tersebut, dipastikan ekonomi daerah akan produktif, bergairah, dan mampu meningkatkan konsumsi rumah tangga. Sekaligus memberikan kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. Sehingga target pertumbuhan ekonomi kuartal I-2023 sebesar 5% diharapkan dapat tercapai. Pemerintah daerah sendiri juga akan mendapatkan kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari pajak hotel, restoran, kafé, retribusi masuk destinasi wisata, dan lain-lain selama musim libur Idulfitri ini," papar dia.

Untuk itu, dia mengharapan, agar pemerintah daerah membantu kelancaran arus mudik dan memastikan para pengusaha di daerah tujuan tidak menaikkan harga yang membuat pemudik enggan membelanjakan uangnya. Seperti tarif masuk ke lokasi wisata, tarif hotel/penginapan, harga makanan/minuman dan harga makanan khas daerah atau oleh-oleh.

"Diharapkan tidak mengalami kenaikan yang memberatkan konsumen. Pelaku usaha di daerah tujuan mudik harus dapat menciptakan pelayanan yang berkesan dan menyenangkan sehingga para pemudik tidak ragu membelanjakan uangnya selama liburan," tutur dia.

Di samping perputaran tersebut, beberapa daerah juga akan mendapatkan perputaran uang tambahan dari kiriman TKI dari luar negeri atau remitansi yang juga mengalami kenaikan menjelang Idulfitri 1444 H. Kiriman TKI kepada keluarganya di tanah air, guna persiapan perayaan Idulfitri, yang jumlahnya diperkirakan mengalami kenaikan.

Sepuluh provinsi pengirim TKI paling banyak dan akan mendapatkan kiriman remitansi dari para TKI antara lain; Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Bali, Sumut, Banten, Yogyakarta, dan DKI Jakarta.

"Sampai dengan 2021, jumlah TKI yang bekerja di luar negeri mencapai 3,2 juta orang. Jika para TKI tersebut mengirimkan uang Lebaran kepada keluarganya rata-rata Rp5 juta, maka jumlah remintasi diperkirakan mencapai Rp16 triliun," ucap dia. Sebagai gambaran dana remitansi TKI sepanjang 2021 mencapai Rp130 triliun.

Di tengah tekanan kondisi ekonomi global yang tidak pasti, momentum Idulfitri tahun ini sangat strategis mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan geliat ekonomi di seluruh tanah air di masa transisi menuju endemi Covid-19.

"Kami sangat bersyukur bahwa setiap tahun Indonesia memiliki budaya mudik merayakan Idulfitri bersama keluarga di kampung halaman dan menjadikan sebagai perputaran uang terbesar di Indonesia yang diperkirakan mencapai 25% dalam setahun. Dan momentum Idulfitri ini sangat strategis menggerakkan perputaran roda ekonomi nasional dan menopang pertumbuhan ekonomi dan konsumsi rumah tangga," harap dia.

img
Hermansah
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan