sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kata seniman soal TIM akan dibangun hotel bintang lima

Keputusan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) mendirikan hotel tidak sejalan dengan visi menjadikan TIM sebagai pusat kesenian.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Selasa, 26 Nov 2019 12:54 WIB
Kata seniman soal TIM akan dibangun hotel bintang lima
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 78572
Dirawat 37226
Meninggal 3710
Sembuh 37636

Seniman Radhar Panca Dahana angkat bicara soal polemik revitalisasi Taman Ismail Marzuki yang salah satunya akan membangun hotel bintang lima di kawasan pusat kesenian tersebut. Menurutnya, keberadaan hotel dalam revitalisasi yang dilakukan Pemprov DKI itu memiliki pendekatan yang keliru karena hanya mengedepankan sisi komersial.

“Iya dianggap sebagai cost center melulu, duit doang. Mereka bikin jalan keluar yang keliru. Nah ini makanya seperti kami bilang mau revitalisasi apa pun boleh saja, tapi ajak bicara seniman sebagai stakeholder utama dari TIM itu mereka yang menggerakkan TIM itu karya-karya yang membuat reputasi," kata Radhar di Jakarta, Selasa (26/11).

Radhar mengatakan, keputusan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) mendirikan hotel tidak sejalan dengan visi menjadikan TIM sebagai pusat kesenian, terutama bagi para seniman yang telah besar dan tumbuh bersama dalam wadah untuk berekspresi itu.

"Karena kebudayaan itu bukan cost. Kebudayaan itu investasi. Selama ini pendekatannya kesenian itu seolah-olah buang duit gitu. Itu keliru besar," kata Radhar.

Investasi kebudayaan yang dimaksud Radhar adalah investasi dari segi imateriil yang tidak dapat dibandingkan dengan keuntungan yang nantinya didapatkan dari biaya sewa hotel yang dijanjikan oleh Jakpro.

"Ukurannya berbeda, ukurannya bagaimana kita membuat manusia yang berintegritas. Punya kepribadian, tidak korup, tidak bohong, tidak manipulatif dan lain lain," ujar sastrawan itu.

Oleh karena itu, seluruh seniman yang aktif di Taman Ismail Marzuki mengeluarkan sebuah pernyataan yang bernama 'Pernyataan Cikini' yang isinya menolak Jakpro mengelola TIM dan mendirikan hotel di pusat kesenian itu.

Menurut Radhar yang juga ketua dari para seniman TIM, hingga saat ini dirinya serta seniman lainnya yang menandatangani Pernyataan Cikini tidak pernah diajak untuk berdiskusi oleh Jakpro terkait pembangunan hotel bintang lima yang akan bernama Wisma TIM.

Sponsored

"Jakpro itu hanya ngomong sama beberapa orang, tapi tidak mewakili dan merepresentasi seniman di Jakarta. Mereka merepresentasi kepentingan mereka pribadi,” kata Radhar.

“Saya bilang ke teman-teman, ‘nanti juga mereka kejedot’ dan mereka sudah kejedot kena PHP akhirnya mereka kembali mendukung kita, ada orang-orang begitu.” (Ant)

Berita Lainnya