sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kebiasaan merokok tidak berkurang drastis di tengah pandemi Covid-19

Jika biasanya membeli rokok berharga mahal, mereka berusaha menghemat dengan mencari yang lebih murah.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Minggu, 10 Mei 2020 17:16 WIB
Kebiasaan merokok tidak berkurang drastis di tengah pandemi Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 80094
Dirawat 37247
Meninggal 3797
Sembuh 39050

Kehilangan pekerjaan tidak berarti konsumsi merokok berkurang drastis. Buktinya, para buruh, pekerja swasta, SPG, pelayan restoran, hingga ojol tidak menghentikan kebiasaan merokok selama pemberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSSB).

“Awalnya saya pikir orang yang merokok menjadi sedikit dengan kondisi yang dibatasi. Tetapi, saya lihat mereka masih saja merokok. Padahal penghasilan sudah tidak ada,” ujar Ketua RW 07 Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, Sari Budhi Handayani, dalam diskusi virtual, Minggu (10/5).

Saat rapat membentuk Kampung Siaga Covid-19, kata dia, para ketua RT masih merokok. Bahkan, mereka tetap bersikukuh merokok, meski sudah diingatkan terkait krisis finasial dan bahayanya.

“Ternyata mereka masih merokok di dalam rumah atau menyingkir ke teras dan di pinggir gang. Saya lihat mereka berbagi. Merokok sudah menjadi hal biasa. Yang pada saat itu bisa beli sebungkus, mereka akan memberi,” tutur Pimpinan Kelompok Perempuan Rawajati itu.

Jika biasanya membeli rokok berharga mahal, maka mereka berusaha menghemat dengan mencari yang lebih murah. Asalkan, tetap bisa merokok. Ketika disarankan membeli makan daripada rokok, mereka malah berdalih akan pusing jika tidak merokok.

Kebiasaan merokok yang tidak pudar kala situasi serba sulit juga terlihat pada perokok anak. Saat pemberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) anak SMA masih terlihat merokok, tetapi terlebih dahulu menjauh dari rumah kediamannya.

“Di tempat saya masih bisa ke luar rumah. Rumah daerah saya itu sempit dan berdempetan. Mungkin sumpek di rumah. Jadi, boleh ke luar rumah tetapi berjarak. Saya lihat anak SMA yang sudah tidak dekat dengan rumahnya sedang merokok. Ketika saya lewat langsung dibuang,” ujar Sari.

Menurut Sari, kelas 2 SMA merupakan batasan para orang tua melumrahkan anaknya merokok. Bahkan, para bapak telah terbiasa berbagi rokok dengan anak-anak.

Sponsored

Terkait ronda dan penjaga portal, para pemuda relawan di kampungnya juga meminta rokok. Sari mengaku terus disindir karena hanya menyediakan teh dan kopi. Ia pun menyiasati dengan menawarkan makanan dan minuman untuk sahur dan berbuka puasa. Apalagi semua kegiatan tersebut bersumber dari keuangan internal RW bukan sumbangan pemerintah.

“Terus banyak yang menyindir, 'bu rokoknya dong biar ada semangat'. Rokok itu yang menemani mereka bergadang. Para Ketua RT dan karang kalau saya melarang mereka merokok ketika rapat, akhirnya rapatnya jadi malas-malasan,” ucapnya.

“Jadi, di tengah pandemi Covid-19, mereka malah rela makannya dikurangi, yang penting bisa merokok dan minum kopi,” terang dia lagi.

Berita Lainnya