close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono re-launching program Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK). Youtube/Kemenkes.
icon caption
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono re-launching program Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK). Youtube/Kemenkes.
Nasional
Kamis, 01 September 2022 08:51

Kemenkes lakukan re-launching program SHK

Program SHK berguna menekan risiko hipotiroid kongenital pada bayi.
swipe

Kementerian Kesehatan melakukan peluncuran ulang (re-launching) program Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) di Puskesmas Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, pada Rabu (31/08). Implementasi ini akan dilakukan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Hipotiroid kongenital merupakan kelainan yang terjadi akibat kekurangan hormon tiroid sejak bayi berada di dalam kandungan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan stunting atau gangguan pertumbuhan pada bayi. Tubuh pendek (dwarfism), kesulitan bicara, hingga keterbelakangan mental merupakan beberapa kondisi yang dapat ditemukan dalam anak dengan diagnosis ini.

Berdasarkan prevalensi global, 1 dari 3.000 kelahiran mengalami hipotiroid kongenital. Ini berarti dari sebanyak 4,4 juta bayi baru lahir di Indonesia, sebanyak 1.500 mengalami kondisi hipotiroid kongenital.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, dalam pidatonya Wamenkes menekankan pentingnya memeriksakan SHK atau kekurangan hormon tiroid bawaan pada bayi berusia 1-3 hari.

“Mulai hari ini, semua bayi yang lahir di Indonesia harus diperiksa SHK untuk menjaring apabila ada risiko kelainan dalam tumbuh kembang anak,” ujar Wamenkes Dante Saksono dalam pidatonya seperti disiarkan secara daring, Rabu (31/8).

SHK sendiri merupakan uji saring yang dilakukan dengan pengambilan sampel darah pada tumit bayi. Darah diambil sebanyak 2-3 tetes untuk diperiksakan di laboratorium. Bila terdiagnosa positif hipotiroid kongenital, penanganan dan pengobatan harus segera dilakukan sebelum bayi berusia 1 bulan agar terhindar dari gangguan pertumbuhan.
    
Wamenkes mengharapkan dengan memfasilitasi SHK, semakin banyak orang tua dan juga fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia dapat turut serta dalam mencegah hipotiroid kongenital pada anak bangsa.

“Setetes darah yang berasal dari tumit anak-anak akan menyelamatkan mereka seumur hidupnya untuk bisa berkembang dan tumbuh sebagai insan Indonesia yang sehat dan berpotensi maksimal di kemudian hari,” tutur Dante.

img
Priscilla Violetta Prawira Putri
Reporter
img
Ayu mumpuni
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan