logo alinea.id logo alinea.id

Kivlan Zen tak bawa bukti dikonfrontir dengan Habil Marati

Jika nanti hasil konfrontasi tidak ada bukti, maka polisi diminta membebaskan Kivlan.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Selasa, 18 Jun 2019 19:56 WIB
Kivlan Zen tak bawa bukti dikonfrontir dengan Habil Marati

Tersangka dugaan kepemilikan senjata api ilegal, Kivlan Zen, akan dikonfrontasi dengan Habil Marati dan Iwan Kurniawan, eksekutor yang berencana akan membunuh empat tokoh nasional. Dalam konfrontasi itu, Kivlan tak membawa satu pun barang bukti. 

Tiba di Polda Metro Jaya sekitar pukul 16.55 WIB, Kivlan datang didampingi kuasa hukumnya, Muhammad Yuntri. Kivlan tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia langsung masuk ke ruang penyidik.

Muhammad Yuntri mengatakan, kliennya sudah siap dipertemukan dengan Habil Marati dan Iwan Kurniawan. Pihaknya mengaku menfokuskan diri pada konfrontasi langsung. 

“Sementara barang bukti belum dibawa,” kata Yuntri di Mapolda Metro Jaya, Selasa (18/6).

Selain dikonfrontir dengan Habil dan Iwan, Yuntri menambahkan, kliennya juga akan dikonfrontir dengan Titi dan Azmi. Keduanya merupakan saksi dalam kasus percobaan pembunuhan yang menjerat Habil Marati sebagai tersangka.

"Iya nanti ada lima orang, ada Habil Marati, Iwan Kurniawan, Pak Kivlan, Titi dan Azmi. Ini semua pihak yang ada di unit II terkait dengan tersangka Habil Marati," ujar Yuntri.

Pada pemeriksaan Kivlan sebelumnya, Senin (17/6), Yuntri membantah semua keterangan yang disampaikan tersangka Iwan Kurniawan yang disebut sebagai saksi kunci dalam kasus yang menjerat Habil Marati.

"Karena saksi kunci daripada Habil Marati itu Iwan. Nah, kita bantah semua itu, nanti akan dibuktikan ketika dikonfrontasi apa iya ada keterlibatan pak Kivlan di situ," ucapnya.

Sponsored

Jika nantinya hasil konfrontasi tidak dapat membuktikan keterlibatan Kivlan, maka menurit dia, polisi wajib membebaskan mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) tersebut.

"Ini akan menentukan apakah benar atau tidak daripada berita yang disangkakan kepada Habil Marati, kalau tidak sesuai ya nanti Pak Kivlan dibebaskan dari situ," ucap dia.

Sebelumnya, Kivlan mengakui telah menerima uang dari Politikus PPP Habil Marati. Ia menerima 4.000 dolar Singapura atau setara Rp42.400.000.

"Mengakui, tapi tidak sesuai dengan tuduhan. Uang itu hanya untuk demo (Supersemar). Tidak ada kaitan sama sekali dengan masalah pembelian senjata, membunuh tidak ada sama sekali," kata Yuntri.

Dalam pemeriksaan terakhirnya Senin (17/6), Kivlan memberikan nomor rekening ke penyidik untuk mengecek uang yang masuk. 

"Dicek tadi rekening. Dikasihkan rekeningnya, bahwa terima ke rekening ia terima dan sampaikan ada. Yang satu Rp50 juta. Yang satu lagi 4.000 dolar Singapura untuk kegiatan antikomunis atau supersemar yang di Monas," tutur Yuntri.

Yuntri menerangkan, uang Rp50 juta itu diberikan Kivlan kepada anak buahnya Iwan Kurniawan yang saat ini juga telah ditetapkan sebagai tersangka. Uang itu digunakan untuk tour ke daerah-daerah mengantisipasi gerakan-gerakan komunis.

Namun, Iwan yang menyanggupi mendatangkan 1.000 orang , ternyata batal. Ketika itu Iwan sempat menghilang. Adapun Yuntri mengungkapkan Kivlan dan Habil saling kenal sejak setahun yang lalu. Mereka kenal lewat sebuah grup di media sosial WhatsApp. Adapun uang yang diterima Kivlan, kata Yuntri, diberikan secara sukarela oleh Habil. Tak ada imbalan apa pun yang diharapkan Habil.

"Sukarela saja. Mereka kan kenal dari WA grup. Itu grup untuk diskusi saja tentang masalah kebangsaan. Itu ada gerakan GMBI, karena di diskusi itu berkembang butuh uang untuk keperluan gerakan antikomunis, beliau (Habil) kasih," terang Yuntri.

Meski telah kenal satu tahun, Yuntri menyebut kliennya tak terlau dekat dengan politikus PPP itu. "Dekat juga enggak, jauh juga enggak, tapi kenal baik," ucap Yuntri.

Seperti diketahui, Habil Marati disebut sebagai donatur eksekutor yang akan membunuh empat pejabat negara. Ia menyerahkan uang Rp60 juta kepada para calon eksekutor. Saat ini, Habil Marati telah ditahan polisi.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary mengungkapkan Habil memberi uang kepada mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen (Purn) Kivlan Zen sebesar 15 ribu dolar Singapura atau setara Rp150 juta.

Selanjutnya, Kivlan memberikan uang itu kepada anak buahnya, Iwan Kurniawan alias Helmi Kurniawan untuk membeli senjata laras panjang dan pendek. Senjata itu disebut untuk menembak mati empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei.