logo alinea.id logo alinea.id

Kurangi beban pencemaran sungai, KLHK bangun IPAL komunal

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berfungsi menurunkan beban pencemaran air. Pemerintah membangun sekitar 200 IPAL sepanjang 2018.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Senin, 11 Feb 2019 07:49 WIB
 Kurangi beban pencemaran sungai, KLHK bangun IPAL komunal

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meresmikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal Wetland-Biocord dan pencanangan pengembangan Ekoriparian Sungai Cidadap, Karawang.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan IPAL ini akan menurunkan beban pencemaran air, seperti telah dilakukan di Sungai Citarum.

“Pembangunan IPAL Wetland-Biocord ini agar masyarakat mampu mengolah air limbah dapur, mandi dan cuci. Selama ini limbah dibuang langsung ke Sungai Cidadap yang bermuara ke Sungai Citarum,” kata Siti dalam keterangan resmi, Senin (11/2).

Pembangunan IPAL Wetland Biocord tahap 1 mulai dibangun pada 2017. Kapasitasnya mencapai 700 meter kubim (m3) perhari. IPAL ini berfungsi mengolah air limbah kegiatan rumah tangga dari 350 KK yang bermukim di Blok L Perumnas Bumi Teluk Jambe.

Selanjutnya, karena tingkat pencemaran masih cukup besar, maka pada tahun 2018 dibangun lagi IPAL Wetland-Biocord tahap 2. Kapasitasnya sebesar 2.000 m3 perhari untuk mengolah air limbah dari 1.000 KK pemukim di Blok K Perumnas yang sama.

Dengan total kapasitas 2.700 m3, pengoperasian IPAL ini berhasil menurunkan beban pencemaran yang masuk ke aliran DAS Citarum berupa limbah organik sebesar 91,8 ton COD pertahun dan padatan tersuspensi 19,7 ton TSS pertahun.

Selain pembangunan IPAL, KLHK juga membangun Ekoriparian Citarum Karawang. Kawasan ini menjadikan areal bantaran sungai Cidadap di Desa Sukaluyu sebagai tempat wisata dengan konsep edukasi lingkungan.

Pengembangan ekoriparian ini diharapkan dapat membantu mengubah pola pikir masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Siti menegaskan, masyarakat sebagai ujung tombak dalam peningkatan kualitas air sungai sangat penting perannya dalam pengelolaan, pemanfaatan, pengembangan dan dalam menjamin keberlanjutan fungsi ekoriparian.

Sponsored

Sampai saat ini, sudah terbangun sarana pengolahan air limbah dapur, mandi dan cuci dengan teknologi wetland serta biocor, saung kompos dan jembatan penghubung antara area wetland tahap 1 dan area eetland tahap 2.

Selain itu, tanaman obat keluarga, pohon endemik, arboretum bambu, budidaya tanaman hidroponik, area sport lapangan basket, futsal, voli, badminton dan lain-lain.

Kawasan kumuh

Siti mengakui bantaran sungai sangat rawan menjadi kawasan liar dan kumuh. Banyaknya bangunan rumah yang dibangun tanpa izin menjadi fenomena di wilayah hilir Sungai Citarum. 

“Sepanjang 120 kilometer (km) dari 300 km panjang sungai Citarum, sangat banyak gambaran lokasi kumuh dan buruk dari aspek lingkungan tersebut,” kata dia.

Selain di Citarum, masih banyak kawasan kumuh lainnya di berbagai daerah lain di Indonesia. Untuk itu, kata Siti, pada 2018 pemerintah membangun sekitar 200 IPAL di seluruh Indonesia. “Dan akan ditingkatkan secara lebih masif lagi ke depan pada lokasi-lokasi yang tidak mengalami hambatan soal tanahnya,” kata dia.