sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mantan pejabat Garuda Indonesia diperiksa KPK

Dia akan diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Jumat, 27 Sep 2019 11:33 WIB
Mantan pejabat Garuda Indonesia diperiksa KPK

Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap eks Executive Vice President Human Capital & Corporatiron Supplier Services PT Garuda Indonesia (Persero), Heriyanto Agung Putra. Dia akan diperiksa dalam kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce PLC pada PT Garuda Indonesia (Persero).

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka ESA (Emirsyah Satar)," kata Kepala Biro Humas KPK Febri Diansyah dalam pesan singkat, Jumat (27/9).

Emirsyah Satar merupakan mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero). Ia diduga telah menerima uang suap dari Rolls Royce untuk pembelian 50 mesin pesawat Airbus SAS pada periode 2005-2014 oleh PT Garuda Indonesia Tbk. 

Uang tersebut disampaikan pada Emirsyah Satar melalui bos PT MRA, Soetikno Soedardjo, yang saat ini menjabat sebagai beneficial owner dari Connaught International Pte. Ltd yang berlokasi di Singapura.

KPK telah menetapkan status tersangka pada Emirsyah dan Soetikno. Status yang sama juga ditetapkan pada Dirketur Teknik Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia (Persero), Hadinoto Soedigno.

Satar diduga kuat telah menerima uang dari Soetikno sebesar Rp5,79 miliar. Uang itu diduga untuk membayar satu unit rumah yang berlokasi di Pondok Indah. 

Emirsyah juga diduga menerima 680 ribu dolar Singapura dan 1,02 juta euro yang dikirim ke rekening perusahaan miliknya di Singapura, serta 1,2 juta dolar Singapura untuk pelunasan Apartemen di Singapura.

Tak hanya itu, Soetikno juga mengalirkan uang kepada Direktur Teknik Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia (Persero) Hadinoto Soedigno. Diduga Soetikno telah memberi sebesar 2,3 juta dolar Singapura dan 477 ribu Euro yang dikirim ke rekening Hadinoto Soedigno di Singapura.

Sponsored

Atas perbuatannya, Satar disangkakan pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU No 31 tahun 1999, sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto pasal 64 ayat (1) KUHP, dengan ancaman pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun. Selain itu, ia juga diancam sanksi pidana denda paling sedikit Rp200 juta dan paling banyak Rp1 miliar.

Hadinoto Soedigno disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1, juncto Pasal 64 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Sedangkan Soetikno Soedarjo, yang diduga sebagai pemberi suap, disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat 1 huruf b atau pasal 13 No 31 tahun 1999, sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto pasal 64 ayat (1) KUHP, dengan ancaman pidana paling singkat 1 tahun dan lama 5 tahun. Soetikno juga terancam pidana denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp250 juta.

Berita Lainnya

2 varian Xiaomi Mi MIX 4 muncul di TENAA

Kamis, 29 Jul 2021 15:17 WIB

ICW: Tuntutan 11 Tahun Juliari Sangat Rendah

Kamis, 29 Jul 2021 18:48 WIB

Pemkot Kediri upayakan tambah ambulans

Sabtu, 10 Jul 2021 18:32 WIB