logo alinea.id logo alinea.id

MRT itu bernama Ratangga

Ratangga bermakna perjuangan, bukan sekedar nama tanpa makna

Soraya Novika
Soraya Novika Senin, 10 Des 2018 22:25 WIB
MRT itu bernama Ratangga

Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta bersama dengan PT MRT baru saja meresmikan nama baru untuk kereta moda raya terpadu (MRT) yakni 'Ratangga'.

Menurut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, pemilihan kosakata 'Ratangga' ditujukan tidak lain adalah untuk melestarikan bahasa dan budaya negara lebih kuat lagi pada seluruh fasilitas umum di Indonesia.

"Dengan ini penamaan rangkaian kereta MRT secara resmi dinyatakan berubah menjadi 'Ratangga'. Ratangga bermakna perjuangan, bukan sekedar nama tanpa makna. Nama ini membawa pesan penuh makna, saya berharap semua fasilitas umum di Indonesia khususnya Jakarta bisa menyerap akar sejarah budaya dan bahasa kita," ujar Anies usai meninjau kesiapan Kereta MRT rute Bundaran Hotel Indonesia (HI) - Lebak Bulus di Depo MRT Lebak Bulus, Senin (10/12).

Nama tersebut diharapkan bisa menjadi doa untuk kereta MRT yang akan beroperasi pada Maret 2019 mendatang. "Semoga Ratangga akan selalu teguh dan kuat mengangkut para pejuang Jakarta," ujarnya. 

'Ratangga' sendiri memiliki arti kereta kuda yang kuat dan dinamis yang diambil dari Kitab Sutasoma karya Empu Tantular.

Di samping itu, menurut Direktur PT MRT Wiliam Sahbandar, pemilihan kata 'Ratangga' untuk seluruh rangkaian moda transportasi tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama antara Gubernur DKI Jakarta dan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Pemilihan kata Ratangga sendiri awalnya dicanangkan oleh Pak Anies yang kemudian direkomendasikan bersama dengan Badan Bahasa," ungkap William.

Sponsored

Di akhir peresmian nama baru tersebut, Gubernur Anies menutupnya dengan menulis kalimat berbunyi, "Dari gagasan pejuang, dilaksanakan oleh putra-putri bangsa yang tangguh, hadir monumen baru yang memancarkan semangat kerja keras dan cerdas, di sini kata Ratangga menemukan personifikasinya! Selamat untuk semua yang terlibat dan memanfaatkannya" di atas backdrop peresmian disertai tanda tangan pribadinya.

Kereta MRT Jakarta fase I rute Bundaran HI-Lebak Bulus dibangun sepanjang 16 kilometer. Sepanjang rute tersebut, terdapat setidaknya 13 stasiun yang akan dilewati sepanjang perjalanan di mana dua di antaranya yaitu Bundaran HI dan Lebak Bulus merupakan stasiun utama.

Sejauh ini, persiapan operasional fase I moda transportasi itu sudah mencapai 97,5%. Nantinya, rute Bundaran HI-Lebak Bulus akan menggunakan 16 rangkaian kereta, namun hanya 14 rangkaian saja yang akan beroperasi sedangkan sisanya dijadikan sebagai cadangan.

Satu gerbong kereta MRT bisa memuat 200-300 penumpang dengan jumlah maksimal sekitar 1.800 penumpang untuk satu rangkaian kereta (enam gerbong kereta).

Kecepatan rangkaian kereta MRT bisa mencapai 80 kilometer per jam di bawah tanah dan bisa meningkat hingga 100 kilometer per jam di permukaan tanah.

Menurut pantauan reporter Alinea.id yang ikut meninjau 'single-trip' kereta MRT sore tadi, waktu tempuh dari Stasiun Bundaran HI hingga Depo Lebak Bulus hanya membutuhkan 15 menit saja tanpa pemberhentian.

Saat, dikonfirmasi lebih dalam, William membenarkan perhitungan tersebut, serta menambahkan, "Total waktu tempuh yang dibutuhkan bila berhenti di masing-masing 13 stasiun yang dilewati hanya butuh 30 menit saja, dan itu sudah di-planning beroperasi on-time setiap hari," jabarnya.