sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pakar biologi molekuler minta pemerintah jelaskan logika di balik 3T dan 5M

Dengan demikian masyarakat bisa menilai sendiri dan mematuhi protokol kesehatan tanpa adanya sanksi dari penegak hukum.

Firda Junita
Firda Junita Kamis, 21 Jan 2021 11:30 WIB
Pakar biologi molekuler minta pemerintah jelaskan logika di balik 3T dan 5M
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Sejak WHO mendeklarasikan virus Covid-19 sebagai pandemi pada Maret 2020, pemerintah seharusnya lebih meningkatkan intelektualitas dan pemikiran masyarakat terkait upaya pencegahan penularan Covid-19.

“Selama ini pemerintah hanya memberi tahu harus ini dan itu, tanpa tahu prosesnya. Yang missing pemerintah tidak menjelaskan lebih dalam logika di balik 3T (testing, tracing, treatment) dan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas),” kata pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo saat interview “Meluruskan Hoaks Vaksin” bersama Alinea.id, Kamis (21/1).

Dalam masalah seperti itu, kata dia, pemerintah harus menjelaskan alasan ilmiah pentingnya 3T ke masyarakat, mengapa testing dan tracing itu sangat penting. Dengan demikian, masyarakat bisa menilai sendiri dan mematuhi protokol kesehatan tanpa adanya sanksi dari penegak hukum.

Testing dan tracing merupakan kunci mencegah penularan virus Covid-19 semakin meluas. Ia berharap, proses vaksinasi yang ditargetkan selesai dalam 12 hingga 15 bulan itu, seiring dengan proses testing dan tracing yang dipercepat juga.

“Untuk masyarakat, kita harus menyaring informasi yang benar atau tidak, jangan asal share. Untuk pemerintah, jangan abaikan sikap kritis masyarakat, tetapi jelaskan dengan informasi yang sesuai dengan bahasa dan tingkat pemikiran mereka. Supaya mereka bisa menilai pemerintah memang serius, intinya kepercayaan kedua belah pihak,” tukasnya.

Terkait isu bahwa vaksin mengandung bahan-bahan yang berbahaya, Ahmad menegaskan, hal itu tidak benar.

“Jelas vaksin tidak mengandung bahan berbahaya seperti boraks, formalin, dan lain lain. Masyarakat perlu cross check apakah informasi itu benar, karena ini narasi yang sering diungkap antivaksin. Kita punya BPOM, tidak mungkin BPOM memberikan izin edar EUA (Emergency Use Authorization) kalau vaksin berbahaya,” kata Ahmad.

Berikutnya, Ahmad menyayangkan masyarakat yang masih memiliki ketidakpercayaan pada pemerintah terkait vaksinasi. Banyak keluarga yang menolak disuntik karena efikasi vaksin Sinovac yang lebih rendah dibanding vaksin lain.

Sponsored

“Efikasi bukan satu-satunya jalan, katakanlah efikasi vaksin Eropa 95%, tetapi untuk mendistribusikan itu merupakan hal yang sulit. Untuk segala keterbatasan dari negara berkembang, vaksin Sinovac yang lebih bersahabat dengan kita. Masyarakat harus mau divaksin supaya mencapai herd immunity,” papar dia.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad juga memberikan klarifikasi terkait informasi hoaks yang beredar di masyarakat yang menyebutkan bahwa vaksin Sinovac mengandung vero cell atau sel vero.

“Sel vero hanya digunakan sebagai media pembiakan virus untuk proses perbanyakan virus sebagai bahan baku vaksin. Setelah mendapatkan virus yang cukup, sel vero tersebut akan dipisahkan dan dibuang, berarti kandungan final vaksin itu murni partikel virus yang dimatikan (inactivated virus),” tuturnya.
 

 

Berita Lainnya