close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (kiri) bertemu Mendikbud Nadiem Makarim, Kamis (6/8)/Foto PBNU
icon caption
Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (kiri) bertemu Mendikbud Nadiem Makarim, Kamis (6/8)/Foto PBNU
Nasional
Jumat, 24 Desember 2021 15:39

PBNU sulit jauh dari politik praktis

PBNU dianggap sah-sah saja terlibat politik praktis.
swipe

Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya terpilih sebagai Ketua PBNU periode 2021-2026 dalam Muktamar PBNU ke-34 di Lampung, Jumat (24/12). Ada sejumlah harapan tertuju kepada Gus Yahya dari segenap kader PBNU, di antaranya soal irisan NU dengan politik praktis.

Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno mengatakan, PBNU sulit terbebas dari politik praktis. Dia pun memahami hal itu.

"Gak apa-apa menurut saya. Menjauhkan dari politik praktis itu gak gampang buat NU, karena banyak kader yang aktif di partai politik. Ada juga yang jadi pejabat publik. Gubernur, bupati, anggota DPR, DPRD," kata Adi saat dihubungi Alinea.id, Jumat (24/12).

Adi menegaskan, paling penting bagi NU ialah tidak menghilangkan peran dan fungsinya sebagai civil society. Kata dia, peran itu sedikit terabaikan dan malah hilang belakangan ini.

"Kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai harapan publik, harusnya NU tampil. Publik gak persoalkan NU berpolitik, tapi jangan tutup mata atas persoalan masyarakat," tutur dia.

Adi mengatakan, dirinya bahkan mendorong agar NU di bawah kepemimpinan Gus Yahya jauh masuk dalam perpolitikan di Indonesia. Menurutnya, kehadiran kader-kader NU dalam persoalan bangsa sangat dibutuhkan.

"Kader-kader NU sudah matang berpolitik. NU juga tidak mempertentangkan Islam dengan demokrasi. Selama ini NU aktif melawan kelompok radikalis. Tapi ingat, jangan hilangkan fungsi kritis. Dia (NU) lahir sebagai civil society," kata Adi.

Menurut Adi, harapan NU dujauhkan dari kesan berpolitik hanya bentuk kegelisahan para nahdliyin di partai politik. Kata Adi, tak bisa dipungkiri publik menilai jika NU identik dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belakangan ini.

"Saya kira itu sebagai bentuk kegelisahan. Kesan NU hanya milik satu parpol. PKB. Itu bentuk protes tidak langsung dari PPP secara tidak langsung," ucap Adi.

Adi meyakini, Gus Yahya tidak mencondongkan NU ke salah satu parpol ke depan. "Harusnya NU menanungi semua kadernya di semua parpol. NU membawahi semua parpol. Gus Yahya bukan orang yang partisipan. Saya kira setuju," katanya.

Sebelumnya, politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Achmad Baidowi berharap, di bawah kepemimpinan Gus Yahya, NU kembali ke jati dirinya sebagai organisasi keagamaan.

Awiek, sapaan akrab Baidowi juga meminta Gus Yahya agar membawa NU jauh dari tarikan-tarikan partai politik, terutama kesan hanya dikuasi partai politik tertentu. Menurutnya, Gus Yahya harus mampu membawa NU sebagai organisasi milik semua golongan.

img
Marselinus Gual
Reporter
img
Ayu mumpuni
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan