sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Psikolog: Polisi gunakan narkoba agar bisa selesaikan tugas

Jumlah polisi pemakai dan penjual narkoba sangat tergantung wilayah dan waktunya.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Senin, 26 Okt 2020 08:19 WIB
Psikolog: Polisi gunakan narkoba agar bisa selesaikan tugas
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 563.680
Dirawat 80.023
Meninggal 17.479
Sembuh 466.178

Oknum polisi ditangkap Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau karena terlibat penyelundupan 16 kilogram sabu. Jika benar penyalahgunaan, maka pelaku harus dihukum.

Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menilai, alasan utama oknum polisi menjadi pengguna atau pengedar narkoba, karena kerakusan dan keinginan memperkaya diri sendiri lewat cara jahat.

“Tampaknya motifnya semata-mata adalah ekonomi,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Senin (26/10).

Dari segi psikologis, telah banyak studi menyatakan menggeluti pekerjaan sebagai polisi, apalagi reskrim tergolong sangat berat. Tekanan masyarakat, intervensi politik, tuntutan organisasi, beban penuntasan kasus, kejahatan yang semakin kompleks, hingga masalah pribadi, bakal menguras stamina. Padahal, stamina seseorang terbatas dan kesehatan jiwanya juga rentan terganggu.

“Tugas-tugas harus dituntaskan dalam waktu yang juga terbatas. Nah, apa barang yang bisa mendongkrak stamina dalam tempo cepat dan memperbaiki suasana hati? Narkoba. Jadi ironis memang, polisi bisa saja melarikan diri ke narkoba agar bisa menyelesaikan tugas dan menyesuaikan diri dengan segala kompleksitas tadi,” tutur Reza.

Di sisi lain, pentingnya polri melakukan penataan tugas dan perhatian terhadap kesehatan personal dengan menggerakkan peran organisasi secara keseluruhan.

Menurut Reza, jumlah polisi pemakai dan penjual narkoba sangat tergantung wilayah dan waktunya. Namun, kasus polisi penjual narkoba memang lebih banyak daripada pemakai.

Polisi penjual narkoba, bisa juga disebut sebagai bentuk korupsi polisi yang berkaitan dengan narkoba atau drug-related corruption. Skandal kejahatan dalam tubuh kepolisian memang perlu dibongkar dan diekspos.

Sponsored

Pengungkapan kasus kejahatan di lingkungan Polri bisa jadi prestasi, karena kecenderungan aparat penegak hukum untuk menutup-nutupi kesalahan atau penyimpangan oleh sejawat. Namun, pengungkapan hal yang sejatinya memalukan bagi Polri tersebut, berpotensi menumbuhkan kepercayaan dan penghormatan publik terhadap institusi kepolisian.

“Kalau perlu, dihitung-hitung berapa nilai kerugian yang diakibatkan oleh skandal polisi menjadi drug dealer (atau bahkan drug trafficker). Penghitungan ini dibutuhkan agar kepada lembaga terpampang angka kerugian nyata yang sepatutnya dikompensasi oleh negara kepada masyarakat selaku pembayar pajak,” ujar Reza.

Sebelumnya (23/10), Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau menangkap oknum polisi berinisial IZ (55) yang berpangkat komisaris polisi (Kompol). IZ menjabat sebagai kepala seksi identifikasi Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau. IZ ditangkap di Jalan Soekarno Hatta/Arengka 1, Pekan Baru Riau, dengan luka tembak di bagian lengan atas dan terpapar proyektil peluru yang bersarang di punggungnya. Polisi melumpuhkan IZ dengan timah panas saat proses penangkapan.

Geliat staycation pengusir penat

Geliat staycation pengusir penat

Jumat, 04 Des 2020 16:55 WIB
Kasak-kusuk posisi staf khusus menteri

Kasak-kusuk posisi staf khusus menteri

Kamis, 03 Des 2020 16:21 WIB
Berita Lainnya