logo alinea.id logo alinea.id

Ribuan sekolah di Jakarta tak ramah anak

Ribuan sekolah di Jakarta masih tak ramah anak terutama menjadi wilayah dengan tingkat perundungan (bullying) tertinggi di Indonesia.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Jumat, 03 Mei 2019 00:45 WIB
Ribuan sekolah di Jakarta tak ramah anak

Ribuan sekolah di Jakarta masih tak ramah anak terutama menjadi wilayah dengan tingkat perundungan (bullying) tertinggi di Indonesia. 

Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengungkapkan, bahwa jumlah sekolah yang tergolong ramah anak di DKI Jakarta masih sedikit.

"Sekolah ramah anak di DKI Jakarta termasuk rendah. Berdasarkan data yang kami tinjau, dari hampir 5.000 sekolah di DKI Jakarta, hanya 315 sekolah saja yang termasuk ramah anak," tutur Retno di Gedung KPAI, Jakarta Pusat, Kamis (2/5). 

Menurut Retno, dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya, sekolah ramah anak di DKI Jakarta tergolong rendah. Oleh karena itu, KPAI mengadakan advokasi untuk meminta kepada Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk memperbanyak sekolah ramah anak. 

"Disambut kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, tahun ini menargetkan jumlah sekolah ramah anak mencapai 1.215 pada tahun 2019," ujar Retno.

Berdasarkan hasil pengawasan KPAI dari bulan Januari sampai dengan April 2019, DKI Jakarta adalah kota terbanyak kasus kekerasan dan perundungan terhadap anak. Dari total 37 kasus terlapor, terdapat sebanyak 9 kasus kekerasan dan perundungan terjadi di DKI Jakarta. 

"Laporan kekerasan terbanyak DKI Jakarta memang karena jangkauan akses pengaduan yang dekat. Tetapi, terbatasnya sekolah ramah anak pun jadi masalahnya," ujar Retno.

Lebih lanjut, Retno menyarankan, dinas pendidikan berkoordinasi dengan dinas kebersihan, dinas kesehatan, badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), serta dinas-dinas terkait lainnya untuk memperbanyak sekolah yang masuk kategori sekolah ramah anak. 

Sponsored

Sebab, sekolah ramah anak bukan sekadar memastikan anak aman dari kekerasan, melainkan pula mampu menghadirkan kepastian rasa aman dari bencana, terjaga kebersihannya, dan kantin sehat dengan makanan berkadar gizi yang proporsional.

"Rata-rata kantin-kantin SD itu dipenuhi oleh gorengan, seperti sosis dan chicken nuget, yang sudah digoreng, diawetkan, belum lagi diberi bumbu penyedap. Kita bisa bayangkan generasi muda seperti apa yang secara makanannya sudah tidak sehat," kata Retno. 

Retno menambahkan, sekolah ramah anak itu juga seputar mendengar aspirasi anak, memberikan ruang partisipasi bagi anak untuk ikut mengawasi sekolah, mengkritisi aturan sekolah, serta mengusulkan tata tertib sekolah.