sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Perpeloncoan era pandemi: Saat sang senior tetap keji meski hanya ketemu lewat layar

Meski digelar secara daring, acara pengenalan kampus bagi mahasiswa baru masih tetap diwarnai perpeloncoan.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Minggu, 27 Sep 2020 17:05 WIB
Perpeloncoan era pandemi: Saat sang senior tetap keji meski hanya ketemu lewat layar
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 365.240
Dirawat 64.032
Meninggal 12.617
Sembuh 289.243

Akun Twitter dan Instagram milik Ababil Ababil, @ababil_kuadrat mendadak "populer" pada pertengahan September lalu. Permintaan berteman (friend request) datang beramai-ramai. Direct message (DM) pun membanjiri kotak pesan akunnya. 

Sayangnya, akun-akun yang mengirimkan friend request itu tak dikenal Ababil. Mereka tiba-tiba muncul tak lama setelah Ababil memviralkan kasus perpeloncoan pada masa orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) di Fakultas Teknik (FT) Universitas Bengkulu (Unib). 

"Siang saya upload, malamnya banyak banget yang ngancem dan minta agar di-take down. Akhirnya, saya take down karena banyak banget yang meneror dengan akun fake (palsu)," ujar Ababil saat dihubungi Alinea.id, Rabu (23/9) lalu.

Meskipun unggahan itu telah dihapus, teror ancaman tak kunjung berhenti. Merasa terganggu, Ababil pun memutuskan untuk bikin sebuah utas (thread) di akun Twitter miliknya. "Langsung banyak lagi yang nge-DM. Saya dapat ancaman lagi," ujar dia.

Dalam utas tersebut, Ababil menyertakan tangkapan layar (screenshot) percakapan-percakapan di sebuah grup WhatsApp dan potongan-potongan video. Rata-rata anggota grup WhatsApp itu adalah teman-teman lama Ababil di Bengkulu. 

Seperti Ababil yang kini berstatus sebagai mahasiswa baru di  Universitas Gadjah Mada (UGM), para penghuni grup itu juga umumnya baru saja "menginjakkan kaki" di kampusnya masing-masing.

Informasi mengenai perpeloncoan di Universitas Bengkulu diketahui Ababil dari salah satu temannya di grup tersebut. Pada mulanya, mereka sedang membicarakan kejamnya ospek di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). 

"Awalnya, kami lagi buka-bukaan soal ospek di kampus masing-masing. Gara-gara ada yang bahas soal ospek di Unesa. Lagi ngomongin video (perpeloncoan) di Unesa, tiba-tiba ada yang nyeletuk, 'Ini mah enggak ada apa-apanya sama di Unib'," ungkap Ababil. 

Sponsored

Tak hanya curhat, sobat Ababil itu pun mengirimkan bukti video di grup WhatsApp mereka. Di salah satu video, tampak seorang maba FT Unib tengah berdiri sembari dimaki-maki. Konon, maba tersebut sudah dua jam berdiri seperti itu. 

Pada video lainnya, seorang perempuan berjilbab terlihat tengah diinstruksikan untuk mencorat-coret mukanya dengan lipstik sebagai hukuman. Entah apa kesalahan maba baru FT Unib itu.  

"Ternyata ospeknya parah banget. Ini lebih (kejam) dari Unesa. Saya pun konfirmasi sama temen SMA saya yang kuliah di sana dan dia membenarkan bahwa ospeknya memang seperti itu," ujar Ababil.

 

Di grup WhatsApp, Ababil menyarankan agar praktik perpeloncoan itu diungkap ke jagat maya. Rekan-rekan Ababil segera setuju. Ababil dan seorang rekannya kemudian mengunggah bukti-bukti perpeloncoan di Unib di medsos masing-masing.

Tak lama setelah itu, Ababil pun "dicolek". Menurut Ababil, akun-akun yang mengancamnya milik para mahasiswa senior di FT Unib. "Karena pihak yang terancam dari viralnya ini, ya, kakak-kakak tingkat di Unib dari fakultas tersebut," ujar dia. 

Praktik-praktik perpeloncoan itu diperkirakan terjadi pada 11-13 September. Menurut Ababil, saat ini rekan-rekannya yang kuliah di FT Unib masih trauma akibat perpeloncoan tersebut. "Belum berani berbicara (soal perpeloncoan) yang mereka terima," ujarnya.

Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) cabang Bengkulu, Surya Sinabutar mengaku tengah menelusuri kasus perpeloncoan yang diungkap Ababil. Namun demikian, pihak rektorat terkesan menutupi peristiwa tersebut. 

"Kemungkinan masih belum mau berinteraksi langsung dengan pihak luar.  Info yang ada pihak rektorat dan beberapa pimpinan UNIB langsung ke rumah maba tersebut untuk menemuinya," ujar Surya kepada Alinea.id, Selasa (22/9).

Sebelumnya, pihak rektorat Unib menyatakan telah membentuk tim pencari fakta untuk menyelidiki dugaan perpeloncoan yang terjadi pada masa ospek di FT Unib. Rektor Unib Ridwan Nurazi berjanji memberikan sanksi bagi mereka yang melanggar aturan dalam peristiwa tersebut. 

Ilustrasi ospek mahasiswa baru secara daring. Foto Instagram @yovangumay__

Fenomena perpeloncoan verbal 

Sebagaimana disinggung Ababil, praktik perpeloncoan juga terekam terjadi saat Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa yang digelar secara daring pada 8 hingga 11 September lalu. 

Dalam sebuah potongan video yang beredar di media sosial, terlihat seorang maba perempuan berjilbab dibentak oleh sejumlah anggota komisi disiplin PKKMB FIP Unesa. Sang maba dicecar lantaran tidak memakai ikat pinggang tak terlihat di layar. 

Tak lama setelah kasus itu mencuat, Rektor Unesa Nurhasan menyatakan peristiwa itu terjadi karena kesalahan koordinasi di FIP. Tak ada sanksi kepada pihak panitia. "Masalah yang ada akan diselesaikan dengan cara kekeluargaan," kata Nurhasan dalam rilis pers kepada media. 

 

Koordinator Pusat Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) Remy Hastian Putra Muhammad menyesalkan masih ada panitia ospek kampus yang memelonco maba meskipun acara tahunan itu digelar secara daring. Apalagi, praktik-praktik perpeloncoan sudah dilarang. 

"Dari orientasi pengenalan kehidupan kampus harusnya tidak terjadi hal-hal yang demikian. Hal-hal yang mungkin arahnya itu malah membuat atau bahkan bisa dikatakan merusak dari tujuan akademik itu sendiri," ujar Remy kepada Alinea.id, Selasa (22/9).

Praktik perpeloncoan dalam ospek atau PKKMB sejatinya memang sudah dilarang. Pada 2015, Menristek Dikti M Natsir bahkan pernah merilis buku pedoman khusus antipelonco bagi kampus. Setiap musim ospek, Kemenristek Dikti juga rutin mengeluarkan surat edaran untuk melarang praktik perpeloncoan dan menjanjikan sanksi bagi mereka yang melanggar. 

Tak hanya itu, pelaku perpeloncoan juga sebenarnya bisa kena jerat pidana. Dalam kasus Unib dan Unesa, misalnya, para pelaku bisa dijerat pasal tentang perbuatan tidak menyenangkan atau pasal tentang kejahatan terhadap kemerdekaan orang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). 

Soal bentakan dan makian, KUHP membaginya menjadi tiga jenis, yakni perintah untuk melakukan sesuatu, perintah untuk tidak melakukan sesuatu, atau peringatan atas sesuatu. Jika perintah disampaikan dengan cara yang tidak disenangi, maka perintah tersebut bisa dikategorikan sebagai perbuatan yang tidak menyenangkan. 

Selain potensial menimbulkan persoalan hukum, Remy mengatakan, perpeloncoan juga sudah tidak lagi relevan dalam ospek. Alih-alih membangun karakter dan solidaritas di kalangan mahasiswa, menurut dia, perpeloncoan malah bakal melanggengkan "lingkaran setan" kekerasan di kampus. 

"Mahasiswa itu seperti kertas putih yang mereka belum tahu apa-apa soal kehidupan kampus. Ketika mereka sudah dicoret pulpen warna merah dan warna biru itu sebenarnya mereka terhitung sudah dibentuk ke hal demikian," kata dia. 

Ilustrasi ospek tatap muka. /Foto Antara

Arahkan pengenalan kampus 

Pengamat pendidikan Andreas Tambah menilai budaya perpeloncoan seharusnya sudah dihapus di lingkungan kampus. Menurut dia, praktik-praktik perpeloncoan sudah tidak relevan lagi untuk membentuk karakter mahasiswa.

"Yang ada malah kekerasan, baik secara verbal maupun secara fisik, yang menimbulkan sakit hati. Akhirnya, pada saat dia menjadi senior, dia membalas ke juniornya. Bahkan, mungkin lebih kasar lagi. Nah, ini harus dihentikan," kata dia kepada Alinea.id, Selasa (22/9).

Andreas mengatakan, ada banyak cara untuk mendidik mahasiswa baru agar lebih berkarakter. Di era pandemi, misalnya, mahasiswa baru bisa diturunkan ke lapangan untuk turut mengedukasi publik mengenai bahaya Covid-19.

"Dia bisa bergerak mengikuti petugas kamtib atau pihak kepolisian untuk membagikan masker dan lain sebagainya. Paling tidak keliling kampunglah untuk menyampaikan edukasi ke masyarakat. Saya pikir lebih bermanfaat begitu ketimbang dimaki-maki," jelas Andreas. 

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nizam menyayangkan praktik perpeloncoan masih terjadi di sejumlah kampus. Ia menegaskan praktik-praktik semacam itu sudah tidak lagi diperkenankan. 

"Kami ingatkan agar terbentuk kampus yang aman dari bullying dan kekerasan seksual. Sehat yaitu no drug, no smoking, sehat jasmani, rohani, spiritual, emosional, sosial, dan lingkungan. Selain itu, nyaman yaitu inklusif dan ramah difabel," ucapnya kepada Alinea.id, Rabu (23/9).

Kendati demikian, Nizam enggan berkomentar lebih jauh tatkala ditanya mengenai sanksi yang seharusnya diberikan kepada perguruan tinggi negeri maupun swasta yang masih mempraktikkan perpeloncoan pada masa pengenalan kampus. 

Berita Lainnya