sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Seniman tolak TIM jadi kawasan bisnis

TIM seharusnya dibangun menjadi pusat seni, bukan sebagai tempat bisnis seperti adanya hotel bintang lima.

Mona Tobing
Mona Tobing Minggu, 01 Des 2019 09:00 WIB
Seniman tolak TIM jadi kawasan bisnis
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk merevitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) kembali mendapat penolakan dari seniman di TIM. 

Para seniman TIM terus menyampaikan ekspresi penolakan terkait dengan rencana komersialisasi kawasan itu oleh PT Jakarta Propertindo.

"Kami menolak TIM dijadikan pusat bisnis," kata Budi salah seorang seniman teater di Jakarta, Sabtu (30/11).

Menurut Budi, TIM seharusnya dibangun menjadi pusat seni, bukan sebagai tempat bisnis seperti adanya hotel bintang lima. Budi mengingatkan kalau TIM bukan milik siapa pun, tapi milik bersama.

"Kemarin sudah ada pertemuan dengan pihak Jakpro tapi kami masih sama. Menolak dibangunnya hotel bintang lima dan menjadikan TIM sebagai tempat berbisnis," ucap Budi.

Menurut Budi, dibandingkan hotel bintang lima sebaiknya dibangun lebih banyak fasilitas untuk para seniman. Seperti ruang pameran yang layak.

Toh, para seniman sebenarnya tidak menolak adanya pembangunan TIM, asalkan TIM menjadi pusat seni yang memenuhi syarat.

Andri, seorang seniman yang juga ikut hadir dalam aksi aspirasi menolak pembangunan hotel ini, keberatan akan rencana pembangunan Hotel. Melihat kondisi saat ini, hotel sudah banyak di kawasan Cikini. Sehingga tidak perlu lagi adanya hotel di TIM.

Sponsored

Sebaliknya, pembangunan harusnya lebih mengarah kepada perbaikan fasilitas-fasilitas tempat seni. Plus, membangun laboratorium seni untuk para seniman. (Ant)

Berita Lainnya