logo alinea.id logo alinea.id

Subsidi tarif MRT belum dibahas di DPRD DKI

Ketua Komisi B DPRD DKI Abdurrahman Suhaimi mengaku, belum menerima surat resmi dari PT MRT atau pun jajaran eksekutif

Akbar Persada
Akbar Persada Selasa, 12 Feb 2019 14:37 WIB
Subsidi tarif MRT belum dibahas di DPRD DKI

Dua komisi yang membidangi perekonomian dan keuangan, yakni komisi B dan C DPRD DKI Jakarta belum sama sekali membahas rencana pemberian subsidi pada tarif moda raya terpadu (MRT). Padahal, moda transportasi itu direncanakan mulai efektif beroperasi mengangkut penumpang pada Maret 2019.

Ketua Komisi B DPRD DKI Abdurrahman Suhaimi mengaku, belum menerima surat resmi dari PT MRT atau pun jajaran eksekutif untuk membahas pemberian subsidi pada tarif MRT.

"Sebelumnya sudah ada komunikasi dari Asisten Perekonomian DKI, tapi saya tanya ke staf komisi, ternyata belum ada surat yang masuk untuk membahas (subsidi) itu," ujarnya kepada Alinea.id, Selasa (12/2).

Pengakuan yang sama juga disampaikan Sekretaris Komisi C DPRD DKI James Arifin Sianipar. Dia mengatakan, pemberian subsidi pada tarif MRT wajib melalui persetujuan DPRD DKI. Proses itu juga yang sebelumnya dilakukan pada pemberian subsidi tarif Transjakarta.

"Pemberian subsidi itu juga ada kajiannya tidak bisa asal diberikan. Karena ini menggunakan uang rakyat di APBD. Berapa hitungan ideal untuk diberikan kembali kepada rakyat," terangnya.

Sementara itu Direktur Keuangan dan Administrasi PT MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan, tak bersentuhan langsung pada pembahasan pemberian subsidi pada tarif MRT. Proses tersebut ditangani langsung Asisten Perekonomian Sekretaris Daerah (Sekda), Dinas Perhubungan (Dishub), dan Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) DKI Jakarta.

"Tapi memang tarif itu seharusnya sudah selesai dan diumumkan beberapa bulan sebelum operasional, satu atau dua bulan sebelumnya lah," katanya.

Tanpa subsidi PT MRT memperkirakan besaran tarif MRT Rp17.000-Rp20.000 per penumpang. Angka tersebut diperoleh dari kajian konsultan dengan memperkirakan jumlah rata-rata penumpang harian sebanyak 175.000 orang per hari dan biaya investasi.

Sponsored

Dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan tingkat pengembalian investasi, PT MRT mengusulkan agar besaran tarif tersebut disubsidi Pemprov DKI. Idealnya, setiap penumpang dikenakan tarif berkisar Rp8.500 sampai Rp10.000. 

Tuhiyat menyampaikan, untuk mendapatkan angka subsidi yang ideal, ada dua jenis tarif yang dipertimbangkan. Masing-masing tarif penumpang dan tarif keekonomian.

"Nah selisih dari dua jenis itu adalah subsidi. Jadi yang sekarang akan didiskusikan di DPRD adalah besaran tarif yang akan dibebankan penumpang," terangnya.

Meski tampak mendesak untuk menentukan subsidi tarif, Tuhiyat optimistis DPRD dapat merampungkan pemberlakuan tarif ideal sebelum tenggat waktu pengoperasian pada Maret. Yang perlu dikhawatirkan menurutnya, yakni sumber dana untuk subsidi tersebut. Tuhiyat mengaku belum mengetahui pasti apakah subsidi tersebut sudah dialokasikan ke dalam APBD DKI tahun 2019.

"Info yang saya dapat dari Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) sudah  include di APBD 2019, cuma belum didetilkan saja. Kalau pembahasannya masih cukup waktu, justru saya khawatir kalau dana subsidinya itu belum masuk ke APBD," ungkapnya.