sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tito Karnavian: Pemerintah tinggal urus PA 212

Tito Karnavian menyebut situasi politik Indonesia telah mulai stabil pasca-Pemilu 2019.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Selasa, 26 Nov 2019 17:41 WIB
Tito Karnavian: Pemerintah tinggal urus PA 212
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan situasi politik Indonesia telah mulai stabil pasca-Pemilu 2019. Hal itu setidaknya terlihat dari rekonsiliasi antara kubu Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi. 

Tito berkelakar kini pemerintah hanya perlu mewaspadai manuver-manuver politik dari Persaudaraan Alumni (PA) 212 saja. 

"Terutama semenjak gabungnya 01 sama 02. Tinggal urusannya 212 saja," kata Tito dalam sambutannya di Kongres Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) 2019 di Hotel Borobudur, Jakarta Selasa (26/11).

PA 212 merupakan salah satu kelompok masyarakat pendukung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. Namun, setelah Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto didapuk menjadi salah satu pembantu Jokowi, hubungan PA 212 dan Prabowo mulai renggang. 

Prabowo bahkan sempat dikabarkan tak bakal diundang PA 212 dalam ajang Reuni 212 di kawasan Monumen Nasional (Monas) Jakarta, Desember mendatang. Padahal, Prabowo sempat menjadi tamu kehormatan dalam Reuni 212 pada 2018. 

Terlepas dari polemik PA 212, Tito mengatakan, banyak negara memandang positif situasi politik di Indonesia pascapemilu. Menurut Tito, situasi politik yang kondusif bahkan turut mendorong mengalirnya investasi asing ke dalam negeri.

"Dalam pandangan luar, misalnya pandangan Malaysia kemarin, ketika saya hendak bertemu banyak tokoh di sana, politik Indonesia itu stabil sekarang," ujar dia. 

Dalam lawatannya ke luar negeri, Tito mengaku bertemu banyak pengusaha besar asal Malaysia. Menurut dia, para pengusaha Malaysia bahkan lebih tertarik berinvestasi di Indonesia ketimbang di negaranya sendiri. 

Sponsored

"Saya tanya alasannya mengapa seperti itu? Terus dia mendekati saya. Dia bilang, 'Kita mulai prioritas Indonesia.' Saya bilang, 'Kenapa tidak di Malaysia saja?' Kata mereka, 'Waduh, Pak, politik masih tidak stabil nih'," ujar Tito. 

Berita Lainnya