close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Badan Geologi Kementerian ESDM segera memeriksa morfologi dan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang diduga menyebabkan tsunami di Selat Sunda. / Facebook
icon caption
Badan Geologi Kementerian ESDM segera memeriksa morfologi dan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang diduga menyebabkan tsunami di Selat Sunda. / Facebook
Nasional
Minggu, 23 Desember 2018 05:40

Tsunami Selat Sunda akibat erupsi Anak Gunung Krakatau

Kementerian ESDM segera memeriksa morfologi dan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang diduga menyebabkan tsunami di Selat Sunda.
swipe

Badan Geologi Kementerian ESDM segera memeriksa morfologi dan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang diduga menyebabkan tsunami di Selat Sunda.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar mengatakan tsunami yang terjadi di Selat Sunda diduga akibat erupsi Anak Gunung Krakatau.

"Keterkaitan dengan tsunami ini, kami masih menduga apakah ada longsor material dari lereng Gunung Anak Krakatau atau bukan," kata dia kepada media melalui telekonferensi di Kantor Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Minggu (23/12) dini hari.

Menurut Rudy, gunung tersebut secara visual dan morfologi berkemungkinan untuk longsor karena aktivitas vulkanik.

Dia menambahkan tipe letusan Gunung Anak Krakatau yang terpantau tim Badan Geologi bertipe strombolian atau melontarkan material vulkanis ke atas gunung.

Tim mencatat lontaran material vulkanis gunung itu bisa mencapai tinggi 1.500 meter ke atas.

"Kemudian tadi juga dilaporkan jam 21.03 WIB memang terjadi lagi letusan. Hanya karena cuacanya kurang mendukung untuk pemantauan visual, kita tidak melihat lontaran ketinggiannya," ungkap Rudy.

Namun demikian, setiap letusan di Gunung Anak Krakatau juga dibarengi dengan lelehan lava yang turun mengikuti lereng.

Pihaknya bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan memeriksa morfologi gunung itu untuk mengetahui penyebab gelombang tsunami yang bisa disebabkan karena longsoran material vulkanis di lautan.

Sebelumnya telah terjadi gelombang tsunami bersamaan dengan gelombang tinggi pasang air laut di Selat Sunda yang menerjang kawasan di Provinsi Banten maupun Provinsi Lampung pada Sabtu malam (22/12).

Hingga pukul 05.00 WIB, jumlah korban tewas dari Pandeglang saja mencapai 17 orang. Sebanyak 230 orang lainnya menderita luka berat dan ringan. (Ant).

img
Sukirno
Reporter
img
Sukirno
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan