sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tumbal bocah dan praktik keji ilmu hitam orang tua

Anak-anak kerap menjadi korban perlakuan keluarga terdekat, bahkan karena alasan yang tak rasional.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Rabu, 15 Sep 2021 17:08 WIB
Tumbal bocah dan praktik keji ilmu hitam orang tua

AP, bocah berusia enam tahun itu meronta-ronta dan menjerit kala ibunya hendak mencongkel mata kanannya. Dibantu ayah, paman, dan kakeknya, tubuh mungil AP tak kuasa melawan perilaku biadab itu. Untung saja, seorang paman korban bernama Bayu berhasil merebut AP dari perbuatan keji ibu, ayah, paman, dan kakeknya itu.

Kejadian pada awal September 2021 di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan tersebut tak hanya membuat mata kanan AP mengalami kerusakan. Bocah kecil itu juga mengalami trauma.

Diduga perilaku keji itu didorong motif pesugihan dan orang tua korban terpengaruh ilmu hitam. Belakangan, dicurigai pula kakak kandung AP, yakni DS berusia 22 tahun, yang meninggal dunia pada akhir Agustus 2021 juga akibat dicekoki dua liter garam dan dianiaya orang tuanya.

Kasus di Gowa menyeret paman dan kakek korban sebagai tersangka. Sedangkan ibu dan ayah AP masih dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dadi, Makassar, Sulawesi Selatan untuk menjalani pemeriksaan kondisi kejiwaannya.

Praktik tumbal anak

Peristiwa serupa juga terjadi sebelumnya di beberapa daerah. Pada akhir April 2021 misalnya, seorang anak berusia dua tahun tewas disiksa ibunya sendiri, YN, dan pria selingkuhannya, RH, di Bengkalis, Riau. Sebelum meninggal, sekujur tubuh bocah itu penuh luka lebam.

Dikutip dari Kompas.com edisi 1 Mei 2021 pelaku, yakni RH mengatakan, korban kerasukan dan harus diruwat dengan cara dimandikan air bunga. RH yang sering menenggak minuman beralkohol mengaku bisa melihat roh jahat yang ada di tubuh bocah itu.

Lantas, pelaku menganiaya korban dengan cara mencekoki cabai rawit dan dibanting beberapa kali. Ibu kandung korban, yang menganggap bocah itu nakal, juga pernah menampar, mencubit, dan menggertak akan memukul korban menggunakan selang minyak.

Sponsored

Tak kalah miris, di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada pertengahan Mei 2021 terungkap kasus penganiayaan anak dengan motif nyaris mirip. Mengutip Antara, Rabu (19/5), korban ALH yang berusia tujuh tahun tewas karena dianiaya ayah dan ibu kandung, serta dukun dan asisten dukun. Jenazah korban bahkan disimpan di rumah orang tuanya hingga sudah tinggal kulit dan tulang.

Ilustrasi aktivitas paranormal./Foto Unsplash.com.

Penyiksaan biadab itu terjadi pada awal Januari 2021. Bocah tak berdosa tersebut dianggap nakal dan dituding kerasukan genderuwo. Korban lantas diruwat, dengan cara dimasukkan kepalanya ke dalam bak mandi berisi air hingga tewas.

Awal 1990-an pun terjadi pembunuhan sadis terhadap seorang bocah, yang melibatkan neneknya sendiri. Tempo edisi 1 Agustus 1992 menulis peristiwa itu dengan judul “Nenek Maut di Probolinggo”.

Ketika itu, di Probolinggo, Jawa Timur seorang bocah perempuan berusia lima tahun dimutilasi untuk digulai neneknya sendiri, bernama Mbah Sujiwo. Kepada polisi, Mbah Sujiwo mengatakan sudah menyembelih, memotong tubuh korban menjadi 79 bagian, menaburinya dengan bumbu untuk digulai. Pelaku mengaku mendapat perintah bisikan gaib untuk memakan daging anak kecil.

Awal 1980-an, dikutip dari Tempo edisi 16 Oktober 1982 berjudul “Saya tak Menggigit, Kata Sang Ibu” tak kalah sadis. Pelakunya lagi-lagi orang tua sendiri, dengan korban anaknya yang masih bayi berusia tiga bulan.

Disebutkan dalam artikel tersebut, ibu dan ayah korban memakan hidup-hidup bayinya sendiri, dengan motif tumbal ilmu hitam agar mereka menjadi kaya mendadak. Sebelum kejadian, ayah korban mengaku mimpi memakan ayam rebus bersama istrinya.

Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Sukron Kamil mengatakan, kasus kekerasan anak yang berlatar mistik atau klenik sangat erat kaitannya dengan praktik irasional yang lumrah di masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah.

Praktik semacam pesugihan, kata Sukron, tumbuh subur di tengah masyarakat yang masih percaya takhayul sebagai kekuatan alternatif. Hal ini adalah pengaruh alam pikiran lama yang masih bercokol di benak sebagian masyarakat.

Sukron menilai, kendati pendidikan modern sudah menggeser praktik supranatural, tetapi tak sedikit orang yang masih terpengaruh alam pikiran lama. Sehingga praktik pesugihan dan perdukunan tak benar-benar hilang.

“Mengapa menyebut dukun dengan sebutan orang pintar? Itu memperlihatkan bahwa orang Indonesia memang sudah sejak lama menggunakan pendekatan supranatural,” tuturnya saat dihubungi Alinea.id, Senin (13/9).

Dalam praktiknya, sebagian masyarakat juga masih ada yang mengandalkan dukun ketimbang pergi ke dokter kalau sakit. “Meskipun sains telah menggeser mitologi-mitologi itu,” ucapnya.

Menurut dia, masih banyaknya orang yang percaya pada kekuatan supranatural, membuat jasa dukun tak kehilangan peminat. Sehingga eksis hingga kini.

“Kendati secara empiris tidak bisa dibuktikan, bahkan secara rasional, selama ada yang butuh ya masih eksis,” ucapnya.

Perlindungan kepada anak

Sukron menjelaskan, pada sejumlah kasus, anak-anak memang kerap digambarkan sebagai sesuatu yang ditumbalkan dalam praktik supranatural. “Sebagai contoh praktik pesugihan kalau bersumber dari mitologi ya harus mengorbankan anak- anak," kata Sukron.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati pun tak bisa menyembunyikan kekesalannya ketika mendengar kabar bocah nahas yang matanya dicongkel di Gowa, Sulawesi Selatan itu. Terlebih pelakunya adalah orang tua sendiri, dengan alasan praktik pesugihan.

“Itu orang tuanya mikir apa enggak bahwa anak punya harkat dan martabat yang harus dijaga,” katanya ketika dihubungi, Minggu (12/9).

Ilustrasi anak korban kekerasan./Foto Unsplash.com.

Di mata Rita, kasus itu sangat ironis. Seharusnya orang tua menjadi pelindung anak, malah mengeksploitasi secara ekstrem untuk kepentingan di luar nalar. “Orang tua harus sadar, anak bukan barang yang bisa dieksploitasi,” ujarnya.

Kasus penganiayaan terhadap anak di Gowa, kata Rita, patut menjadi perhatian banyak pihak. “Kasus seperti ini jangan terulang,” ujarnya.

Supaya tak terjadi kembali, ia mengingatkan agar sistem kontrol lingkungan seperti tetangga, perlu dioptimalkan. Pasalnya, ia melihat, kasus penganiayaan terhadap anak terjadi lantaran sikap tak acuh dari tetangga.

"Tetangga itu penting untuk melihat saudara dan tetangga, agar kasus-kasus seperti ini tidak terjadi lagi. Karena memang sebenarnya mereka yang paling dekat," kata Rita.

KPAI, kata Rita, bakal mendorong proses hukum yang maksimal untuk pelaku penganiayaan anak berlatar pesugihan di Gowa karena kasus itu sudah sangat melanggar norma kemanusiaan.

Sementara untuk korban, Rita menyebut, perlu direhabilitasi secara serius dalam jangka waktu yang lama. Katanya, tidak mudah untuk memulihkan kondisi psikis anak yang menjadi korban kekerasan dalam keluarga.

Selain itu, korban juga perlu pengasuh pengganti orang tua yang tepat, yang berasal dari keluarga besar. Tujuannya, agar trauma yang diderita tak berkepanjangan.

Dihubungi terpisah, psikolog dari Universitas Indonesia (UI) sekaligus pemilik sekolah Taman Kreativitas Anak Indonesia (TKAI) Rose Mini Agoes Salim pun sepakat, kasus penganiayaan terhadap anak yang melibatkan orang terdekat, bisa membuat korban mengalami trauma panjang.

“Bisa membuat anak sulit percaya dengan orang lain,” tuturnya, Selasa (14/9).

“Anak kecil dalam tingkat perkembangan psikologis. Dia sedang belajar antara trust dan mistrust.”

Ia mengatakan, biasanya yang dipercayai seorang anak adalah keluarga terdekat. Bila kekerasan terjadi dari keluarga terdekat, maka yang terjadi mistrust. “Dan enggak percaya lagi sama orang lain,” kata dia.

Dalam jangka panjang, Rose menyebut, kehilangan kepercayaan pada seseorang di usia dini bisa memperburuk mental di kehidupan masa depan. Sang anak bisa terjebak dalam ketidakpastian karena tak yakin orang lain akan memberi perlindungan kepada dirinya.

Untuk memulihkan mental anak korban kekerasan yang dilakukan keluarga, menurut Rose, dibutuhkan waktu yang tak sebentar. Diperlukan beragam cara untuk memulihkan rasa percaya anak korban kekerasan. Salah satunya dengan menumbuhkan rasa perlindungan bagi anak.

“Tapi kalau itu enggak ada, maka anak akan mengalami situasi yang sulit. Karena untuk ketemu orang baru, dia harus menimbulkan rasa sayang,” ujarnya.

“Ini masalah yang bukan hanya ditangani oleh polisi. Tapi juga harus ditangani orang-orang yang mengerti secara psikologis.”

Rose mengaku miris melihat kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Gowa dan Temanggung karena sampai mengorbankan anak demi kepentingan yang tak rasional. Ia berpendapat, kasus di Gowa dan Temanggung menunjukkan masih ada orang tua yang belum paham dan salah kaprah dalam menyikapi pola tumbuh kembang anak.

Infografik Alinea.id/Bagus Priyo.

“Misalnya anak tiba-tiba nakal. Padahal, sebenarnya itu merupakan bagian dari tugas perkembangan anak,” katanya.

“Anak memang lagi suka lari ke mana-mana. Tapi, kalau orang tuanya enggak ngerti, dia pikir nih anak nakal. Terus diruwat dan sebagainya. Itu salah kaprah.”

Lebih lanjut, Rose mengatakan, untuk menghindari terjadinya kekerasan terhadap anak di dalam keluarga, perlu dilakukan edukasi kepada orang tua melalui puskesmas atau aparat desa.

“Sebab, ketidakpahaman orang tua ini membuat mereka kemudian bisa dipengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang tidak wajar,” ucap Rose.

Ia pun mengimbau masyarakat agar meninggalkan praktik pesugihan. Apalagi yang sampai harus mengorbankan anak. Dukun, kata dia, belum tentu bisa memberikan sesuatu.

"Kita harus berpikir, kalau mau kaya ya harus kerja. Apalagi sekarang lagi pandemi, banyak yang terpuruk. Orang mungkin jadi gelap mata dan ingin yang cepat (kaya)," kata Rose.

Berita Lainnya