sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Akademikus: 3 isu HI yang patut dibahas di debat keempat Pilpres 2019

Hubungan internasional menjadi salah satu tema dalam debat keempat pilpres 2019 besok.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 29 Mar 2019 19:08 WIB
Akademikus: 3 isu HI yang patut dibahas di debat keempat Pilpres 2019

Ketua Program Studi Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Paramadina Shiskha Prabawaningtyas berharap baik calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo maupun capres nomor urut 02 Prabowo dapat membahas isu-isu hubungan internasional yang substansial dalam debat keempat pilpres 2019 pada Sabtu (30/3).

Hubungan internasional menjadi salah satu tema dalam debat besok. Selain itu, juga ada ideologi, pemerintahan, serta pertahanan dan keamanan.

Shiskha mengatakan, terkait hubungan internasional salah satu yang patut diperdalam dalam debat merupakan isu diplomasi maritim Indonesia.

"Saya berharap hal-hal terkait identitas diplomasi maritim kita akan dibahas. Kemudian juga apa yang sudah dilakukan selama ini dan apa yang akan terus dilakukan dalam diplomasi maritim itu," jelas Shiskha usai diskusi publik di Universitas Paramadina, Gedung Tempo, Jakarta, Jumat (29/3).

Menurutnya, seringkali yang menjadi persoalan dalam hubungan luar negeri adalah keberlanjutan kebijakan antara satu masa pemerintahan, ke masa pemerintahan lainnya.

"Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar, negara maritim, dan di pemerintahan Jokowi isu maritim jadi prioritas utama. Jadi, harus dipastikan kebijakan diplomasi maritim kita itu berkesinambungan," lanjutnya.

Shiskha menekankan bahwa jangan sampai ketika ada perubahan pemerintahan, kebijakan diplomasi maritim yang sudah diupayakan selama lima tahun terakhir tidak dilanjutkan.

"Isu keberlanjutan diplomasi ini masih harus diperkuat karena poin penting politik luar negeri itu sebenarnya keberlanjutan dan kesinambungan," kata dia.

Sponsored

Selain itu, Shiskha juga ingin agar diplomasi ekonomi menjadi salah satu isu yang dibicarakan oleh kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Dia menilai lanskap diplomasi ekonomi global kini sudah berubah dengan kondisi ekonomi sejumlah negara yang tengah bergejolak, contohnya seperti hubungan perdagangan Amerika Serikat dan China.

"Saya kira pembahasan tentang sejauh mana fokus diplomasi ekonomi ke depannya dan bagaimana itu sejalan dengan kepentingan masyarakat dalam negeri itu penting dibicarakan," jelasnya.

Keterlibatan aktif Indonesia menjadi isu terakhir yang dia harapkan akan menjadi sorotan dalam debat capres 2019.

"Dalam konteks ini, bisa dibahas lebih dalam mengenai komitmen Indonesia dalam membantu penyelesaian konflik Palestina dan komitmen Indonesia memerangi persoalan terorisme global maupun regional," lanjut dia.

Shiskha berpendapat bahwa kritik terbesar bagi hubungan internasional dan kebijakan luar negeri merupakan kepentingan nasional. Menurutnya, akan sangat menarik jika kedua capres menjabarkan solusi mereka terkait cara mereka akan menyeimbangkan kebutuhan internasional dengan kepentingan nasional.

"Kebijakan luar negeri yang ditawarkan nanti harus seimbang antara cara membuat pemetaan kondisi global yang berubah, menyesuaikan kebijakan dengan arah dunia, tetapi juga tetap menaruh fokus pada kepentingan Indonesia," ujarnya.