close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menghadiri aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Tenis Indoor Senayan, Jakarta, Rabu (1/5). /Antara Foto
icon caption
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menghadiri aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Tenis Indoor Senayan, Jakarta, Rabu (1/5). /Antara Foto
Pemilu
Rabu, 08 Mei 2019 17:11

Boikot media nasional, Prabowo dinilai kontradiktif

Prabowo dianggap sudah tidak percaya lagi kepada institusi nasional.
swipe

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi menilai calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sudah tidak percaya lagi kepada institusi nasional. Selain kerap melontarkan tudingan miring kepada penyelenggara pemilu, Prabowo juga dinilai mulai memboikot media nasional.

"Sudah menuding KPU (Komisi Pemilihan Umum) yang tidak-tidak, sekarang wartawan nasional pun dilarang meliput. Ini kan seperti sudah tidak percaya institusi nasional dan lebih percaya asing dalam menyelesaikan persoalan dalam negeri," kata Ari kepada wartawan di Jakarta, Rabu (8/5).

Prabowo diketahui mengundang perwakilan kedutaan besar negara sahabat dan wartawan asing di kediamannya, Jalan Kertanegara IV, Jakarta, Senin (6/5) malam. Dalam pertemuan itu, Prabowo curhat telah dicurangi dalam Pilpres 2019. Tak satu pun wartawan media nasional diundang ke pertemuan itu. 

Ari menilai langkah Prabowo cenderung kontradiktif. Pasalnya, ia kerap mengampanyekan dirinya sebagai sosok nasionalis dan menolak intervensi asing dalam persoalan-persoalan negara. 

"Prabowo selama kampanye kan mendaku seolah-olah dia paling nasionalis, dan bahkan sambil menggebrak-gebrak meja menuding banyak pihak sebagai antek asing," ujar Ari.

Lebih jauh, Ari menilai manuver-manuver politik Prabowo usai pencoblosan 17 April 2019 kian membabi buta. Ia menduga Prabowo telah terjebak dalam skenario sejumlah elite politik di lingkarannya. 

"Elite di lingkar politik terdekat Prabowo inilah yang ditengarai politikus Demokrat Andi Arief sebagai genderuwo yang ikut bertanggung jawab terhadap informasi sesat kemenangan 62% bagi pasangan 01," ujar Ari. 

Sebelumnya, anggota Direktorat Komunikasi dan Media Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ariseno Ridhwan menepis anggapan kubunya tak mau terbuka kepada media-media nasional. Ariseno berkilah, media nasional tidak diundang dalam sesi wawancara antara Prabowo dengan media asing karena terbatasnya tempat.  

"Jadi, pertemuan antara Pak Prabowo dan Pak Sandi serta para pimpinan BPN Prabowo-Sandi bersama media internasional di kediaman Pak Prabowo itu bersifat undangan dan terbatas. Bukan kita melarang dan menghalang-halangi media nasional untuk masuk," kata Ariseno. 

Prabowo diketahui memiliki hubungan yang tidak baik dengan media nasional. Dalam sejumlah kesempatan, Prabowo kerap menyindir pemberitaan media yang tidak berimbang sepanjang Pilpres 2019. Prabowo bahkan tak segan-segan menyebut nama media yang dia anggap kerap menyudutkan dia selama masa kampanye. (Ant)

img
Christian D Simbolon
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan