logo alinea.id logo alinea.id

Islam modernis dan abangan jadi penentu kemenangan Jokowi

NU  bukan satu-satunya faktor pendorong kemenangan pasangan calon (paslon) nomor urut 01.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Jumat, 19 Jul 2019 22:40 WIB
Islam modernis dan abangan jadi penentu kemenangan Jokowi

Nahdlatul Ulama (NU) dikatakan sebagai organisasi masyarakat (ormas) Islam paling berpengaruh dalam kemenangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Namun hal tersebut tidak dibenarkan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mutzaki.

Menurut Amin, NU  bukan satu-satunya faktor pendorong kemenangan pasangan calon (paslon) nomor urut 01. Ada dua golongan lain, yaitu kelompok Islam modernis dan Islam abangan. 

"Kelompok modernis itu, walau hanya 6% menjadi pendukung Jokowi, tapi mereka memiliki kemapuan retorika politik dan juga kemampuan aktualitas politik yang cukup canggih," ungkap Amin di Hours Cafe, Jakarta Utara, Jumat (19/7).

Secara tidak sadar telah menguatkan basis Jokowi-Ma'ruf Amin merangkul umat Islam dengan pendekatan teoritis agama. Padahal secara ekspresi mereka kurang nampak.

Amin menegaskan, dalan konteks ekspresi, ormas Islam yang selalu nampak hanyalah NU. Akan tetapi kelompok ini memiliki representasi politik lebih dari massa riil yang mendukung Jokowi-Ma'ruf.

Adapun kelompok abangan, adalah Islam Jawa yang tidak tergabung dalam PNBU. Mereka rata-rata mendukung Jokowi lantaran faktor partai, yakni PDIP sebagai partai yang dekat dengan mereka.

Jumlah kelompok Islam abangan, dipercayai sangatlah banyak. Hanya saja mereka kurang terakomodasi oleh demokrasi yang ada. Masyarakat hanya mengetahui kelompok Islam itu, NU dan Muhammadiyah.

Jika NU dan Muhammadiyah dapat dihitung secara kualitatif, kelompok Islam abangan tidak demikian. Pasalnya secara konseptual masyarakat sekarang cenderung enggan menggunakan Islam Abangan sebagai sistem yang definitif.

Sponsored

"Mungkin lebih dari 50% dari populasi pemilih yang abangan ini. Entah bagaimana pula kemudian demokrasi kita tidak mengakomodasi tentang itu. Islam abangan itu seolah sesuatu yang tampaknya memiliki kesan inferior, padahal itu secara riil merupakan kekuatan nyata," tegas Amin.