close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Caleg Partai Gerindra Melly Goeslaw manggung dalam kampanye akbar Prabowo-Gibran di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Jawa Barat, Februari 2024. /Foto Instagram @melly_goeslaw
icon caption
Caleg Partai Gerindra Melly Goeslaw manggung dalam kampanye akbar Prabowo-Gibran di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Jawa Barat, Februari 2024. /Foto Instagram @melly_goeslaw
Pemilu
Jumat, 22 Maret 2024 06:26

Laris-manis caleg pesohor di dapil Jabar

Melly Goeslaw , Denny Cagur, Verell Bramasta, dan sejumlah pesohor lainnya sukses memenangi kontestasi elektoral di dapil Jawa Barat.
swipe

Dapil-dapil di Jawa Barat kembali meloloskan sejumlah selebritas ke Gedung DPR RI pada Pileg 2024. Berbasis rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, tercatat ada 10 pesohor yang lolos dari 11 dapil Jabar. Ada yang berstatus petahana dan ada pula yang baru pertama kali ikut pileg. 

Para pendatang baru yang berjaya, semisal Melly Goeslaw (Gerindra), Denny Cagur (PDI-Perjuangan),  dan Verell Bramasta (Partai Amanat Nasional/PAN). Adapun petahana yang berhasil mempertahankan kursi di DPR, semisal Dede Yusuf (Demokrat), Nico Siahaan (PDI-P), dan Tommy Kurniawan (PAN). 

Untuk kursi DPD RI, ada dua pesohor yang lolos dari dapil Jabar, yakni pelawak Alfiansyah Bustomi alias Komeng dan pesinetron Jihan Fahira. Tak tanggung-tanggung, Komeng mencatat sejarah sebagai caleg DPD dengan raihan suara tertinggi, yakni 5,3 juta suara. Sebagai perbandingan, pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD hanya bisa mengantongi 2,8 juta suara di Jabar pada Pilpres 2024. 

Guru besar ilmu politik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Dermawan merinci sejumlah faktor yang membuat dapil-dapil Jabar jadi langganan lumbung suara bagi para pesohor. Yang pertama ialah kedekatan geografis Jabar dengan pusat pemerintahan dan mudahnya akses informasi di provinsi tersebut. 

Faktor kedua ialah keberpihakan parpol terhadap caleg pesohor di dapil Jabar. Menurut Cecep, banyak parpol menempatkan kaum selebritas pada nomor urut pertama di Pileg 2024. Parpol seolah paham caleg-caleg pesohor di Jabar potensial menang. 

"Jadi, begitu orang milih partai, suaranya jatuh ke nomor 1. Itu juga menjadi pertimbangan. Ketiga, memang kelihatannya popularitas calon-calon dari partai yang notabene kader-kader partai kelihatannya tidak begitu dikenal," ucap Cecep kepada Alinea.id, Rabu (20/3).

Faktor lainnya ialah lemahnya ikatan partai (party id) terhadap pemilih di Jabar. Karena tak punya kedekatan dengan ideologi parpol, pemilih di Jabar cenderung mencoblos wajah-wajah yang familiar di benak mereka. 

"Masyarakat Jawa Barat banyak pertimbangannya lebih berat kepada kepopuleran daripada ideologi partai, daripada ketokohan partai. Kenapa demikian? Bisa jadi ini soal komunikasi politik yang dilakukan oleh partai kepada konstituen. Mungkin ini yang masih kurang dan barangkali partai hanya bekerja saat pemilihan," kata Cecep. 

Tak hanya masyarakat kelas bawah, menurut Cecep, masyarakat kelas menengah ke atas juga banyak yang tidak mengenal seluk beluk caleg yang bertarung di dapil mereka. Walhasil, caleg pesohor jadi pilihan lantaran sudah dikenal melalui berbagai media dan program hiburan televisi.  

"Bagi masyarakat tertentu, tidak terlalu penting partai apa yang memperjuangkan artis itu. Buktinya hampir semua artis itu terpilih. Hal ini juga terjadi pada pertarungan DPD. Suara Komeng melesat. Karena sudah dikenal sehingga masyarakat pilih dia," ucap Cecep.

Pendapat berbeda diutarakan analis politik dari Universitas Jember Muhammad Iqbal. Menurut dia, masyarakat umum juga mencermati kinerja dan citra para pesohor yang berlaga di pentas Pileg 2024, baik yang berstatus petahana maupun pendatang baru. 

"Keterkenalan bukan faktor kunci. Karakter dan kapasitas kandidat dalam merawat relasi modal sosial adalah kunci utama. Selebihnya akan ditopang oleh daya gerak dan dongkrak mesin partai. Sosok artis atau figur publik, bila sejauh sebelum pemilu sudah terkenal berkarakter public darling, bisa menjadi modal elektoral yang kuat," ucap Iqbal kepada Alinea.id, Kamis (21/3).

Menurut Iqbal, perilaku para pesohor diperhatikan serius oleh masyarakat umum. Sebagai orang-orang yang terbiasa berada di depan panggung, para pesohor pun piawai memamerkan citra positif mereka. Opini publik terhadap para pesohor pun biasanya sudah terbangun jelang pencoblosan. 

"Misalnya dikenal sebagai sosok yang humble, sopan dan minim haters atau menuai simpati publik besar pada momentum tertentu. Itu bisa sangat potensial menghasilkan elektoral yang besar... Boleh jadi para artis itu telah terjalin relasi sosial dan opini publik yang baik hingga sukses merebut simpati pemilihnya," kata Iqbal. 

Citra positif yang berdampak pada tingkat elektabilitas pesohor, menurut Iqbal, bisa dilihat pada kesuksesan Mulan Jameela mempertahankan kursi DPR RI. Iqbal berpendapat Mulan meraup simpati dari pemilih "emak- emak" ketika mengkritik soal kompor listrik yang justru menyulitkan rumah tangga yang daya listriknya rendah.

"Sebaliknya artis Krisdayanti justru menciptakan sentimen negatif yang tinggi ketika pernyataannya yang mengumbar besaran gaji dan tunjangan anggota DPR. Bisa jadi pemilih menilai Krisdayanti tidak sensitif di tengah keterhimpitan ekonomi wong cilik," kata Iqbal.

Pada Pileg 2024, Krisdayanti maju di dapil V Jawa Timur yang meliputi Kabupaten Malang, Kota Batu, dan Kota Malang. Bersatus sebagai petahana, politikus PDI-P itu meraup 70.082 suara. Kursi untuk PDI-P dari dapil itu jatuh ke tangan Ahmad Basarah dan Andreas Eddy Susetyo yang sama-sama meraup kisaran 80 ribu suara. 

 

img
Kudus Purnomo Wahidin
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan