close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Calon presiden nomor urut 1 Anies Baswedan. /Foto Instagram @aniesbaswedan
icon caption
Calon presiden nomor urut 1 Anies Baswedan. /Foto Instagram @aniesbaswedan
Politik
Selasa, 30 April 2024 11:34

Anies dan asa mempertahankan nyala api gerakan perubahan 

PKB dan NasDem, dua parpol pengusung Anies, kian akrab dengan kubu Prabowo-Gibran.
swipe

Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bakal bertahan di jalur perubahan. Anies menyebut perjuangan menuju perubahan tak akan berhenti ketika ajang Pilpres 2024 usai. Jika memungkinkan, Anies berencana membesarkan gerakan perubahan yang ia usung saat jadi calon presiden.

"Jadi, perjuangan itu panjang, bertahun-tahun, membutuhkan stamina, konsistensi, ketekunan, dan keteguhan," kata Anies di hadapan pendukungnya dalam syawalan nasional yang digelar Keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO, di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (28/4). 

Meski begitu, Anies tidak akan langsung tancap gas. Ia mengaku akan rehat sejenak sebelum kembali eksis menjalankan gerakan perubahan yang ia kampanyekan bersama pasangannya, Muhaimin Iskandar, saat Pilpres 2024. 

"Gagasan yang diemban tidak boleh diturunkan. Rencana yang sudah di pundak tidak boleh dihentikan. Itu yang harus kita bawa terus ke depan," ujar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) era Jokowi itu. 

Perubahan merupakan tema kampanye Anies selama pilpres. Tak dimaksudkan mengubah kebijakan pemerintah secara drastis, Anies meniatkan gerakan perubahan sebagai upaya penyempurnaan program-program pemerintah yang ada saat ini. 

Anies kemungkinan akan sendirian di jalur perubahan. Pasalnya, Koalisi Perubahan, koalisi parpol pengusung Anies-Muhaimin, sudah resmi bubar. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai NasDem, dua parpol anggota koalisi itu, juga diisukan bakal segera merapat ke pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (Prabowo-Gibran). 

Analis politik dari Universitas Jember (Unej) Muhammad Iqbal mengapresiasi langkah Anies bertahan di jalur perubahan. Menurut dia, Anies konsisten menjaga posisi politik meskipun kalah bertarung dalam kontestasi elektoral. 

"Politik pragmatis dan oportunistik yang kental mewarnai palagan politik nasional kerap mengecewakan dan potensial menciptakan distrust society (ketidakpercayaan publik) kepada elite atau partai politik," ucap Iqbal kepada Alinea.id, Senin (29/4).

Meski begitu, Iqbal menyebut langkah Anies merawat gerakan perubahan tak akan mudah. Apalagi, Anies bukan elite parpol dan pejabat publik. Anies juga bukan pengusaha kaya yang punya kekuatan finansial untuk mengongkosi kelompok-kelompok relawan yang terbentuk selama Pilpres 2024. 

"Gerakan perubahan memang memerlukan sokongan dan infrastruktur besar. Bila mengandalkan satu dua lembaga, niscaya tak ada yang mampu mewujudkannya. Maka, ia harus menjadi gerakan semesta bersama rakyat setidaknya dimulai dari kesadaran kolektif dari jutaan pemilih Anies yang bersiap melanjutkan gerakan tersebut," kata Iqbal. 

Meski ditinggalkan parpol pendukungnya, Iqbal meyakini Anies tak akan dilupakan para konstituennya selama tetap konsisten di jalur perubahan. Pada Pilpres 2024, setidaknya ada 40 juta pemilih yang mencoblos pasangan Anies-Muhaimin. 

"Hanya pada diri sosok pemimpin yang teguh dan visioner, jalan perubahan bisa tak lekang oleh waktu dan tak lapuk oleh situasi apa pun. Setidaknya Anies Baswedan sudah membuktikan dirinya yang relatif baru dua tahun bertarung dalam pilpres mampu meyakinkan 40 juta pemilih dengan visi dan misi perubahan," ucap Iqbal. 

Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun, Musni Umar berpendapat, sikap Anies yang konsisten menjaga "api" gerakan perubahan bisa berbuah manis. Jika terus dirawat, gerakan perubahan bisa bertransformasi menjadi kekuatan politik nonpartai yang besar. 

"Asalkan Anies konsisten, para relawan, pendukung dan pemilihnya yang berjumlah 40 juta orang lebih dalam Pilpres 2024  tidak bergeser dan pindah mendukung capres terpilih," ucap Musni Umar kepada Alinea.id, Senin (29/4).

Menurut Musni, Anies perlu mengorganisasi relawan dan pemilihnya menjadi lebih terstruktur seperti layaknya organisasi masyarakat (ormas). Ormas itu juga bisa difungsikan untuk menjadi wadah partisipasi politik publik yang ingin mengawasi kinerja rezim Prabowo- Gibran.

"Tujuannya antara lain, pertama, tempat berhimpun dan berpartisipasi para relawan, pendukung, dan pemilihnya. Kedua, tempat menampung visi, misi. Ketiga, sarana dan wadah untuk mensosialisasikan visi dan misi perubahan," jelas Musni Umar. 

 

img
Kudus Purnomo Wahidin
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan