Krisis kemanusiaan melanda Papua Nugini (PNG) akibat kekeringan ekstrem yang dipicu oleh fenomena cuaca El Niño. Sebanyak 8 juta jiwa dilaporkan terdampak langsung oleh krisis pangan, air bersih, hingga pemadaman listrik massal yang melumpuhkan berbagai aktivitas publik.
Berdasarkan laporan The Guardian (30/10/2026), koalisi masyarakat sipil, serikat pekerja, dan lembaga keagamaan di PNG mendesak pemerintah untuk segera menetapkan status darurat nasional.
Pasalnya, sungai-sungai utama kini telah mengering, kebun-kebun warga gagal panen, serta banyak fasilitas kesehatan dan sekolah terpaksa mengurangi jam operasional akibat krisis air bersih. Di wilayah dataran tinggi pedesaan, keluarga bahkan terpaksa menjatah makanan hanya satu kali sehari.
Dampak kekeringan juga menjalar hingga ke ibu kota Port Moresby. Penurunan debit air di bendungan pembangkit listrik memaksa perusahaan listrik negara menerapkan pemadaman bergilir yang diperkirakan berpotensi berlangsung hingga 10 bulan ke depan.
Pemerintah PNG melalui Perdana Menteri James Marape menyatakan instruksi kepada otoritas lokal di setiap distrik untuk bersiap menghadapi musim kering berkepanjangan serta menyiapkan skema anggaran penanganan bencana.