close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Foto dibuat oleh AI.
icon caption
Ilustrasi. Foto dibuat oleh AI.
Peristiwa
Sabtu, 13 Juni 2026 20:20

Budiman Sudjatmiko dihujani kritik mahasiswa di Semarang

Budiman Sudjatmiko berdialog dengan mahasiswa di Semarang. Forum berlangsung panas saat peserta menyoroti visi Indonesia Emas dan posisi Budiman di pemerintahan.
swipe

Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Republik Indonesia (BP Taskin RI), Budiman Sudjatmiko, menghadiri forum diskusi bertajuk “Indonesia Emas atau Cemas? Telaah Kritis Indonesia Hari Ini” di Embun Senja Coffee n Eatery, Semarang. Forum ini menjadi ruang adu argumen antara Budiman dan sejumlah aktivis mahasiswa.

Diskusi yang diinisiasi Kafka Forum tersebut bertujuan menjembatani organisasi mahasiswa dan masyarakat akar rumput untuk mengkritisi praktik penyelenggaraan negara secara langsung bersama praktisi pemerintahan. Acara ini dihadiri berbagai organisasi mahasiswa ekstra kampus, seperti HMI, PMKRI, KAMMI, GMKI, serta organisasi kemasyarakatan lokal.

Dalam pemaparannya, Budiman menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto saat ini menggabungkan dua pemikiran besar tokoh nasional, yakni nasionalisme kerakyatan berbasis kedaulatan sumber daya alam ala Soekarno dan konsep negara kesejahteraan berbasis industri ala Soemitro Djojohadikusumo.

Budiman juga mewanti-wanti bahaya disinformasi di tengah masyarakat yang menurutnya sengaja diproduksi untuk menciptakan perpecahan.

“Kalau disinformasinya tidak dikoreksi, mudah menciptakan distrust atau ketidakpercayaan, ketidakjelasan, dan perpecahan,” ujar mantan aktivis 1998 tersebut.

Dihujani kritik mahasiswa

Suasana diskusi memanas saat sesi tanya jawab dibuka. Para mahasiswa melontarkan kritik tajam, mulai dari pesimisme terhadap visi Indonesia Emas 2045, intervensi militer di ranah sipil, hingga kritik yang menyasar posisi politik Budiman.

Ketua HMI Komisariat FISIP Undip, Rafli Susanto, secara blak-blakan meminta Budiman berhenti bicara teori karena kini berada di dalam lingkaran kekuasaan.

“Saya tahu di sini Bapak diredam hegemoni dan konflik wacana negara. Bapak jangan berbicara lagi soal keidealan negara kalau Bapak tidak pernah memikirkan ide atau solusi yang menyentuh akar rakyat,” kritik Rafli.

Senada dengan Rafli, Ketua PMKRI Cabang Semarang, Bima Prayuda, mempertanyakan integritas Budiman yang kini memilih merapat ke pemerintah.

“Apakah Bung Budiman masuk sistem dengan menjinakkannya, atau sistem yang menjinakkan Bapak?” cecar Bima.

Respons Budiman

Merespons kritik tersebut, Budiman menegaskan bahwa pemerintah saat ini berkomitmen penuh pada kelompok rentan. Salah satu bukti konkretnya, kata dia, adalah program Sekolah Rakyat yang bertujuan membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin.

Terkait posisinya di pemerintahan, Budiman menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bentuk aktivisme strategis untuk membangun sistem dari dalam. Menurut Budiman, esensi perjuangan dan keberpihakan kepada rakyat miskin tetap menjadi hal utama, sedangkan wadah atau strateginya dapat berubah mengikuti zaman.

Meski diwarnai adu argumen yang intens antara dua generasi aktivis, forum ini dinilai berhasil menjadi ruang komunikasi langsung antara masyarakat akar rumput dan pemangku kebijakan pusat.

img
Purnomo Dwi
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan