close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Foto: dibuat oleh AI.
icon caption
Ilustrasi. Foto: dibuat oleh AI.
Bisnis
Senin, 15 Juni 2026 11:44

Kode politik jaket PSI Jokowi dan risiko migrasi suara PDIP

Pengamat menilai Jokowi memakai jaket PSI bisa menjadi kode politik kuat yang mengancam basis pemilih PDIP menuju Pemilu 2029.
swipe

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai wacana Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi mengenakan jaket Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merupakan kode politik yang sangat kuat. Menurutnya, sinyal tersebut berpotensi memengaruhi peta persaingan elektoral menjelang Pemilu 2029.

“Dalam politik, jaket bukan sekadar pakaian. Jaket adalah pernyataan sikap. Ketika Jokowi memakai jaket PSI, publik melihat itu sebagai pesan bahwa kapal politik Jokowi sedang merapat ke dermaga baru dan berpotensi menjadi ancaman serius bagi PDIP,” ujar Arifki dalam keterangannya, Minggu (15/6).

Menurut Arifki, langkah Jokowi tersebut berpotensi memberikan keuntungan elektoral yang besar bagi PSI, sekaligus menghadirkan tantangan serius bagi PDIP. Selama satu dekade terakhir, terdapat irisan yang kuat antara pemilih PDIP dan loyalis personal Jokowi yang memilih partai karena faktor figur mantan presiden tersebut.

“Masalah terbesar PDIP hari ini bukan kehilangan Jokowi sebagai kader, melainkan potensi kehilangan pemilih yang selama ini memilih PDIP karena Jokowi. Ketika figur dan partai berjalan ke arah yang berbeda, sebagian pemilih biasanya akan mengikuti figur,” katanya.

Arifki menilai kelompok yang paling berpotensi mengalami pergeseran dukungan adalah pemilih yang menginginkan suasana lebih segar dalam struktur partai. Kelompok ini cenderung berasal dari pemilih muda atau generasi baru PDIP yang lebih cair dalam menentukan pilihan politik.

Pada segmen tersebut, pengaruh personal Jokowi dinilai masih lebih kuat dibandingkan identitas kepartaian. Karena itu, semakin kuat asosiasi Jokowi dengan PSI, semakin besar pula peluang partai tersebut mendapat limpahan dukungan dari pemilih yang sebelumnya dekat dengan PDIP.

“Jika Jokowi adalah magnet, maka PSI saat ini sedang berusaha menempatkan diri sebagai logam yang paling dekat dengan medan tarik tersebut. Di situlah potensi keuntungan elektoral PSI berada,” ujarnya.

Ia menambahkan, momentum tersebut sekaligus menjadi ujian besar bagi PDIP untuk membuktikan bahwa kekuatan partai tidak hanya bertumpu pada figur yang pernah dibesarkannya. Sebab, semakin kuat asosiasi Jokowi dengan PSI, semakin besar pula risiko terjadinya migrasi suara di segmen pemilih nasionalis yang selama ini menjadi basis utama PDIP.

Meski demikian, Arifki menilai satu simbol politik tidak serta-merta menentukan hasil Pemilu 2029. PSI, kata dia, tetap memiliki pekerjaan rumah besar untuk membangun struktur partai yang kuat dan mapan seperti PDIP.

“Satu jaket untuk Jokowi memang tidak menentukan hasil Pemilu 2029. PSI juga masih punya tantangan membangun struktur partai agar mapan seperti PDIP. Tetapi jika memang Jokowi bergabung dengan PSI, maka dinamika kedua partai itu bakal makin panas menjelang Pemilu 2029,” ujarnya.

img
K.P. Wahidin
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan