Menutupi mulut saat konfrontasi jadi pelanggaran, simak aturan baru Piala Dunia 2026
Gelandang Paraguay Miguel Almirón menjadi pemain pertama yang menerima kartu merah akibat penerapan aturan baru Fédération Internationale de Football Association (FIFA) dan International Football Association Board (IFAB) pada Piala Dunia 2026. Almirón dihukum setelah kedapatan menutupi mulut saat terlibat konfrontasi dengan pemain Turki pada laga fase grup.
Kasus tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana regulasi baru mulai diterapkan pada Piala Dunia 2026. FIFA dan IFAB memperkenalkan sejumlah perubahan dalam Laws of the Game yang menyasar berbagai aspek pertandingan, mulai dari upaya memerangi diskriminasi hingga membatasi praktik mengulur waktu di lapangan.
Kehadiran aturan-aturan tersebut menandai upaya FIFA menjawab berbagai persoalan yang kerap muncul dalam sepak bola modern. Mulai dari dugaan tindakan diskriminatif yang sulit dibuktikan, praktik mengulur waktu pada menit-menit akhir pertandingan, hingga perdebatan mengenai keputusan wasit menjadi fokus dalam pembaruan regulasi kali ini.
Berikut sejumlah aturan baru yang mulai diterapkan FIFA dan IFAB pada Piala Dunia 2026 dilansir dari BBC, Senin (22/6) :
1. Larangan menutup mulut saat konfrontasi
FIFA kini melarang pemain menutupi mulut menggunakan tangan, lengan, maupun kaus ketika terlibat adu argumen atau konfrontasi dengan pemain lain di lapangan. Tindakan tersebut dinilai dapat menghambat proses investigasi apabila terjadi dugaan pelanggaran, termasuk ujaran diskriminatif atau perilaku tidak sportif.
Pemain yang melanggar ketentuan tersebut dapat dikenai sanksi tegas, termasuk kartu merah. IFAB menilai transparansi komunikasi menjadi bagian penting dalam menjaga integritas pertandingan. Meski demikian, aturan ini tidak berlaku jika percakapan dilakukan dengan rekan satu tim dan percakapan yang tidak dimulai dari perselisihan.
Penerapan aturan tersebut langsung terlihat di Piala Dunia 2026. Gelandang Paraguay, Miguel Almirón, menjadi pemain pertama yang menerima kartu merah karena melanggar ketentuan tersebut saat terlibat konfrontasi dengan pemain Turki di fase grup.
2. Perawatan cedera tak boleh menghambat pertandingan
Penanganan cedera juga mengalami perubahan dalam regulasi terbaru. Pemain yang memerlukan perawatan medis di lapangan wajib meninggalkan area permainan selama satu menit setelah pertandingan kembali dimulai.
Langkah tersebut diambil untuk mengurangi waktu terbuang akibat proses perawatan yang terlalu lama di dalam lapangan. Meski demikian, ada beberapa sejumlah pengecualian, yakni untuk penjaga gawang yang mengalami cedera, benturan antara kiper dan pemain lain, benturan antar rekan setim yang memerlukan perhatian medis, cedera serius seperti cedera kepala atau gegar otak, serta pemain yang mengalami cedera dan akan mengambil tendangan penalti.
3. Pemain harus keluar lapangan dalam 10 detik saat diganti
Perubahan lain menyasar proses pergantian pemain yang selama ini sering dimanfaatkan untuk mengulur waktu. Dalam aturan baru, pemain yang ditarik keluar hanya memiliki waktu 10 detik untuk meninggalkan lapangan melalui titik terdekat dari garis permainan.
Jika batas waktu tersebut terlampaui tanpa alasan yang dapat diterima wasit, pemain pengganti tidak dapat langsung masuk ke lapangan. Ia harus menunggu penghentian pertandingan berikutnya setelah satu menit berlalu. Namun jika pergantian dilakukan karena cedera maka peraturan tersebut dikecualikan
4. Pemain dilarang menerima instruksi saat kiper dirawat
Aturan baru juga diterapkan ketika penjaga gawang menjalani perawatan medis di lapangan. Dalam situasi tersebut, pemain dari kedua tim tidak diperbolehkan meninggalkan area permainan untuk menerima arahan dari pelatih atau staf teknis.
FIFA dan IFAB menilai jeda perawatan kiper seharusnya digunakan untuk penanganan medis, bukan dimanfaatkan sebagai kesempatan melakukan briefing taktis tambahan. Karena itu, pembatasan diterapkan agar pertandingan tetap berjalan sesuai prinsip fair play.
5. Lemparan ke dalam dan tendangan gawang dibatasi lima detik
FIFA dan IFAB berupaya memangkas praktik membuang waktu yang kerap terjadi dalam pertandingan dengan menetapkan batas waktu baru untuk pelaksanaan lemparan ke dalam dan tendangan gawang. Pemain kini hanya memiliki waktu lima detik untuk mengeksekusi situasi tersebut setelah wasit memberikan aba-aba.
Apabila lemparan ke dalam tidak dilakukan hingga hitungan berakhir, hak penguasaan bola akan diberikan kepada tim lawan. Sementara untuk tendangan gawang yang tidak segera dieksekusi, lawan akan mendapat hadiah tendangan sudut. Aturan ini diharapkan membuat tempo pertandingan lebih terjaga, terutama pada menit-menit akhir laga.
6. Sanksi untuk aksi walk out di tengah pertandingan
Keputusan meninggalkan lapangan sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap wasit kini dapat membawa konsekuensi serius. Aturan baru menegaskan bahwa pemain yang melakukan walk out berisiko langsung menerima kartu merah.
Sanksi tidak hanya menyasar pemain. Ofisial yang terbukti menghasut atau memerintahkan aksi tersebut juga dapat dikenai hukuman disiplin. Jika pertandingan terpaksa dihentikan akibat walk out, tim yang terlibat berpotensi kehilangan laga melalui keputusan resmi penyelenggara.
7. Jeda tiga menit di setiap babak
Perubahan lain yang cukup menonjol adalah penerapan jeda hidrasi selama tiga menit pada setiap babak pertandingan. Kebijakan ini memberikan kesempatan kepada pemain untuk memulihkan kondisi fisik dan menjaga kebutuhan cairan tubuh selama laga berlangsung.
Jeda hidrasi umumnya dilakukan di pertengahan babak, meski waktu pelaksanaannya dapat disesuaikan oleh wasit berdasarkan situasi pertandingan. Dalam kondisi tertentu, jeda tersebut juga dapat digabungkan dengan penghentian pertandingan akibat cedera sehingga tidak mengganggu jalannya laga secara berlebihan.
8. VAR kini dapat meninjau lebih banyak keputusan
Teknologi Video Assistant Referee (VAR) mendapat tambahan kewenangan dalam aturan terbaru. Jika sebelumnya digunakan untuk meninjau gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identifikasi pemain, kini cakupan penggunaannya diperluas.
VAR dapat membantu meninjau keputusan terkait kartu kuning kedua, kesalahan identifikasi pemain, serta sejumlah keputusan lain yang berkaitan dengan sepak pojok. FIFA berharap perluasan kewenangan tersebut dapat meningkatkan akurasi keputusan wasit dan mengurangi potensi kesalahan yang memengaruhi hasil pertandingan.


