Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku telah menghubungi Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), Gianni Infantino, untuk meminta peninjauan kartu merah yang diterima penyerang tim nasional sepak bola putra Amerika Serikat, Folarin Balogun, pada pertandingan melawan Bosnia-Herzegovina di babak 32 besar Piala Dunia. Trump menilai keputusan tersebut tidak adil dan dapat merugikan Amerika Serikat yang tengah berjuang di fase gugur.
"Yang saya lakukan hanya meminta peninjauan. Saya tidak mengatakan, 'Anda harus melakukan ini'," kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, Senin (6/7).
Trump mengaku awalnya tidak memahami arti kartu merah maupun konsekuensinya. Namun, setelah mengetahui Balogun terancam absen pada laga babak 16 besar melawan Belgia, ia merasa keputusan tersebut perlu ditinjau ulang.
"Itu sangat tidak adil. Bagaimana Anda menghukum seseorang untuk pertandingan yang bahkan belum dimainkan?" katanya.
Menurut Trump, insiden yang melibatkan Balogun bukan merupakan pelanggaran. Ia menilai tayangan ulang melalui Video Assistant Referee (VAR) membuat benturan antarpemain terlihat lebih buruk daripada kejadian sebenarnya.
"Saya tidak berpikir itu sebuah pelanggaran. Saya melihat dua atlet hebat yang saling bertabrakan dan kemudian saling terlilit," kata Trump.
Balogun menerima kartu merah saat Amerika Serikat mengalahkan Bosnia-Herzegovina 2-0 pada babak 32 besar, Rabu (1/7). Penyerang berusia 25 tahun itu diusir wasit setelah tinjauan VAR menyatakan dirinya menginjak pergelangan kaki kanan bek Bosnia-Herzegovina, Tarik Muharemovic, pada menit ke-64.
Trump kemudian mengkritik keputusan wasit asal Brasil, Raphael Claus, yang mengeluarkan kartu merah kepada Balogun.
"Saya menyukai olahraga, tetapi itu bukan pelanggaran. Bahkan bukan sebuah pelanggaran ringan. Wasit ini sedikit mencurigakan jika melihat rekam jejaknya. Dia membuat keputusan yang tidak bisa dipercaya siapa pun. Dia mengeluarkan kartu merah untuk pemain terbaik kami, atau salah satu pemain terbaik kami," ujarnya.
Namun, FIFA pada Minggu (5/7) memutuskan menangguhkan pelaksanaan hukuman tersebut selama satu tahun masa percobaan berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA (FDC). Dengan keputusan itu, Balogun kembali dinyatakan memenuhi syarat untuk tampil saat Amerika Serikat menghadapi Belgia.
Keputusan tersebut langsung diprotes Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA). Federasi Belgia mengajukan banding dan meminta penjelasan mengenai alasan FIFA membatalkan hukuman otomatis terhadap Balogun.
Meski begitu, komite banding FIFA menyatakan permohonan tersebut tidak dapat diterima karena RBFA bukan pihak yang memiliki kedudukan hukum dalam proses disiplin tersebut.
"Permohonan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima karena RBFA bukan merupakan pihak dalam proses tersebut dan karena itu tidak memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan banding," demikian pernyataan FIFA.
Keputusan FIFA tersebut langsung menuai kritik dari Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA). UEFA menilai keputusan menangguhkan hukuman Balogun telah melewati batas dan berpotensi mengganggu integritas kompetisi.
Dalam pernyataan terpisah, Infantino menegaskan bahwa dirinya memang menerima telepon dari Trump. Namun, ia memastikan keputusan mengenai Balogun sepenuhnya berada di tangan badan peradilan FIFA yang independen.
"Badan peradilan FIFA bersifat independen. Mereka bekerja secara otonom, menerapkan Kode Disiplin FIFA (FIFA Disciplinary Code/FDC), dan memutuskan setiap kasus berdasarkan regulasi yang berlaku serta fakta-fakta yang ada," tulis Infantino.
Ia mengatakan saat berbicara dengan Trump, dirinya hanya menjelaskan bahwa proses hukum masih berlangsung dan keputusan akan ditetapkan oleh badan yang berwenang.
"Saya menjelaskan bahwa terdapat proses hukum yang sedang berjalan yang melibatkan badan peradilan independen FIFA dan kasus tersebut akan diputuskan pada waktunya oleh lembaga yang berwenang," kata Infantino.
Infantino mengaku tidak selalu sependapat dengan putusan Komite Disiplin FIFA, tetapi menegaskan independensi lembaga tersebut harus dihormati.
"Saya membaca keputusan Komite Disiplin FIFA ketika diterbitkan. Terkadang saya terkejut. Terkadang saya setuju, dan terkadang saya tidak setuju."
"Apa yang selalu saya lakukan adalah menghormati keputusan tersebut dan otonomi badan yang membuatnya. Apakah kita secara pribadi menyukai suatu keputusan atau tidak, itu tidak relevan. Menghormati lembaga independen dan supremasi hukum adalah hal yang melindungi integritas kompetisi kami serta menjaga kredibilitas FIFA setiap saat." tambah Infantino.