Pola konsumsi hiburan digital masyarakat Indonesia mengalami perubahan signifikan pada semester II 2025. Aktivitas hiburan berbasis ponsel atau mobile entertainment tercatat menurun, terutama pada layanan streaming video dan media sosial. Di tengah tren tersebut, minat membaca justru menunjukkan peningkatan, terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z).
Perubahan ini terekam dalam survei Jakpat bertajuk Indonesia Mobile Entertainment & Social Media Trends Semester II 2025 yang melibatkan 2.240 responden dari berbagai wilayah di Indonesia. Survei tersebut memetakan kebiasaan masyarakat dalam mengakses hiburan digital, media sosial, serta layanan over-the-top (OTT) dan audio streaming.
Hasil survei menunjukkan media sosial dan YouTube masih menjadi aktivitas online paling populer. Sebanyak 71% responden aktif melakukan scrolling media sosial, sementara 56% rutin menonton YouTube. Meski demikian, secara agregat penggunaan media sosial tercatat menurun. Total pengguna platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok mencapai 83%, turun 9% dibandingkan tahun sebelumnya.
Aktivitas hiburan digital lain yang masih diminati adalah bermain gim (40%) dan streaming musik (34%). Sementara itu, aktivitas membaca buku, komik, atau novel digital mencapai 22%, melampaui menonton film atau serial di layanan OTT yang hanya 14%, serta mendengarkan podcast sebesar 13%.
Penurunan paling tajam terjadi pada layanan streaming video OTT seperti Netflix, Vidio, dan Viu. Dalam satu tahun, tingkat konsumsi layanan ini anjlok dari 48% menjadi 14%, menandai pergeseran signifikan pola hiburan digital masyarakat.
Di tengah menurunnya konsumsi hiburan digital pasif, aktivitas membaca justru menunjukkan sinyal positif. Berdasarkan segmentasi generasi, Gen Z mencatat persentase minat baca tertinggi sebesar 26%, mengungguli generasi Milenial (20%) dan Gen X (18%).
“Gen Z kini cenderung mengalihkan waktu layar mereka dari konsumsi konten pasif yang repetitif menuju aktivitas membaca yang dianggap lebih memberikan kedalaman makna dan ketenangan mental,” ujar Head of Research Jakpat, Aska Primardi, dalam keterangan resminya yang diterima Alinea.id, Kamis (22/1).
Tren peningkatan minat baca ini sejalan dengan data Indeks Tingkat Kegemaran Membaca yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Indeks tersebut naik dari 66,77% pada 2023 menjadi 72,44% pada 2024, menunjukkan perbaikan literasi secara nasional.
Menurut Aska, kenaikan minat baca di kalangan Gen Z dipengaruhi oleh perubahan persepsi terhadap aktivitas membaca itu sendiri.
“Dinamika kenaikan ini dipicu oleh perubahan persepsi terhadap buku yang kini, oleh Gen Z, dianggap sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan pencarian jati diri, bukan sekadar tugas akademik,” jelasnya.
Namun, Aska menegaskan peningkatan minat baca tersebut tidak berarti Gen Z menjauh dari gawai atau media sosial.
“Kenaikan minat baca pada Gen Z bukan terjadi secara organik karena mereka meninggalkan gadget, melainkan karena algoritma media sosial, terutama TikTok dan Instagram, berhasil ‘menjual’ kegiatan membaca sebagai aktivitas yang keren, eksklusif, dan emosional,” katanya.
Data Jakpat menunjukkan media sosial masih menjadi pintu utama konsumsi konten digital. Sebanyak 70% responden menggunakan media sosial untuk hiburan, 62% untuk mencari informasi, dan 51% untuk mengikuti berita terkini. Selain itu, 47% memanfaatkannya untuk berkomunikasi dengan teman dan keluarga, serta 45% untuk mencari inspirasi atau ide baru.
Dari sisi waktu penggunaan, aktivitas scrolling media sosial paling tinggi terjadi pada pukul 18.00–21.00, bertepatan dengan waktu luang setelah jam kerja dan sekolah. Pada periode inilah berbagai konten rekomendasi, termasuk konten literasi, paling banyak dikonsumsi.
Fenomena ini diperkuat oleh peran dua subkomunitas besar di media sosial, yakni BookTok di TikTok dan Bookstagram di Instagram. Keduanya berkontribusi mengubah citra membaca dari aktivitas akademik menjadi tren sosial yang interaktif dan berorientasi gaya hidup.
“Melalui kedua platform ini, membaca buku tidak lagi dianggap membosankan, melainkan simbol status dan identitas baru bagi Gen Z di semester kedua 2025,” tutur Aska.