Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi ekspor minyak dan gas global melalui kombinasi serangan drone dan ancaman militer yang membuat lalu lintas pelayaran komersial hampir berhenti total. Situasi ini terjadi di tengah serangan intensif Amerika Serikat terhadap angkatan laut Iran.
Melansir The Guardian, Rabu (4/3), sedikitnya empat kapal tanker dilaporkan terkena serangan. Lloyd’s List Intelligence melaporkan bahwa lalu lintas laut turun hingga 80% pada Minggu, tanpa tanda-tanda pemulihan setelah perusahaan asuransi maritim utama membatalkan perlindungan mereka keesokan harinya.
Untuk meningkatkan tekanan, pada Senin Brigjen Ebrahim Jabbari, penasihat senior panglima Garda Revolusi Iran, menyatakan akan menyerang kapal yang melintasi Selat Hormuz.
“Kami akan menyerang dan membakar setiap kapal yang mencoba melintas,” ujar Ebrahim.
Meski Teheran semakin keras, kemampuan Iran untuk melancarkan serangan laut diyakini menurun tajam. Komando Pusat Militer AS atau Centcom menyatakan telah menenggelamkan atau melumpuhkan 11 kapal angkatan laut Iran yang sebelumnya beroperasi di Teluk Oman, di sebelah timur Selat Hormuz.
Berbeda dengan Israel yang lebih fokus menyerang Teheran dan lokasi penting rezim, Amerika Serikat memusatkan operasi militernya di wilayah selatan Iran untuk mengamankan jalur maritim dan ruang udara di kawasan tersebut. Militer AS juga menyatakan belum melihat tanda-tanda Iran meningkatkan eskalasi dengan menanam ranjau di jalur pelayaran selebar dua mil menggunakan kapal selam kecilnya. Meski detail terbatas, Centcom mengonfirmasi telah menargetkan armada kapal selam Iran di Bandar Abbas.
Di sisi lain, strategi Iran berkembang dengan menyasar infrastruktur energi dan kapal di pelabuhan. Citra satelit menunjukkan kerusakan di dua bagian kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi, yang merupakan kilang terbesar di negara itu. Kilang tersebut ditutup pada Senin setelah dua drone berhasil dicegat di atas lokasi, namun puingnya memicu kebakaran.
Perusahaan energi milik negara Qatar juga menghentikan produksi gas alam cair pada Senin karena serangan militer. Sehari kemudian, kebakaran terjadi di Fujairah, Uni Emirat Arab, setelah sebuah drone dicegat di area pelabuhan yang menjadi pusat penyimpanan dan perdagangan minyak utama.
Gangguan ini langsung berdampak pada harga energi global. Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, melonjak menjadi US$83 per barel atau naik 15% dibandingkan Jumat lalu.
Secara umum, sekitar seperlima minyak mentah dunia melewati Selat Hormuz. Namun tingkat ketergantungan tiap kawasan berbeda. Negara-negara di benua Amerika mengimpor sekitar 12,5% minyaknya melalui selat tersebut, sementara China mencapai 45,7%, menurut data lembaga analisis Kpler.
Di tengah ketidakpastian ini, Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan proposal agar pemerintah AS membantu kapal tanker di kawasan memperoleh asuransi guna memulihkan kepercayaan pasar setelah konflik yang dipicu oleh AS dan Israel.