close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Nyadran makam di Desa Getas, Kaloran, Temanggung. Foto kemenag.go.id.
icon caption
Nyadran makam di Desa Getas, Kaloran, Temanggung. Foto kemenag.go.id.
Peristiwa
Jumat, 16 Januari 2026 10:11

Isra Mikraj, libur panjang, dan tradisi yang selalu dinanti

Bertepatan dengan libur panjang, Isra Mikraj menjadi momen ibadah sekaligus berkumpul dan merawat tradisi Muslim Indonesia.
swipe

Peringatan Isra Mikraj setiap 27 Rajab selalu punya tempat tersendiri di hati umat Muslim. Apalagi ketika momennya bertepatan dengan libur panjang, suasananya terasa lebih santai dan hangat. Selain jadi waktu untuk beribadah, Isra Mikraj juga sering dimanfaatkan masyarakat untuk pulang kampung, berkumpul bersama keluarga, dan mengikuti tradisi khas daerah.

Isra Mikraj sendiri merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam. Inilah kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, lalu dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari peristiwa inilah umat Islam menerima perintah salat lima waktu, yang hingga kini menjadi ibadah utama sehari-hari.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, menjelaskan Isra Mikraj adalah peristiwa luar biasa yang terjadi atas kehendak Allah SWT. Karena itu, kisahnya tidak bisa dipahami hanya dengan logika manusia, melainkan dengan keimanan. “Isra Mikraj adalah kehendak Allah SWT yang Maha Kuasa, sehingga tidak dapat dinalar dengan akal biasa,” kata Buya Yahya.

Kisah Isra Mikraj juga disebut dalam Al-Qur’an, QS Al-Isra ayat 1, serta diriwayatkan dalam berbagai hadis. Dari sana, umat Islam diajak untuk tidak hanya mengenang peristiwanya, tetapi juga mengambil hikmah spiritual di baliknya.

Peringatan Isra Mikraj tahun ini jatuh pada Jumat, 16 Januari 2026. Karena berdekatan dengan akhir pekan, momen ini menciptakan libur panjang yang dimanfaatkan banyak orang untuk mengikuti pengajian, zikir bersama, atau sekadar berkumpul dengan keluarga.

Dirangkum dari berbagai sumber, suasana Isra Mikraj di berbagai daerah terasa semakin hidup lewat tradisi yang terus dijaga. Di Jawa Tengah, ada tradisi Nyadran, yakni membersihkan makam leluhur dan berdoa bersama. Biasanya, tradisi ini ramai karena banyak perantau pulang kampung saat libur panjang.

Di Cirebon, Jawa Barat, masyarakat mengenal tradisi Rajaban, dengan berziarah ke makam tokoh-tokoh penting penyebar Islam. Sementara itu, warga Bangka Belitung merayakan Isra Mikraj lewat tradisi Nganggung, membawa makanan dari rumah untuk disantap bersama setelah doa.

Tradisi lain juga masih dijalankan di sejumlah daerah. Warga Desa Wonoboyo, Temanggung, menggelar Khatam Kitab Arjo, pembacaan kitab berbahasa Jawa beraksara Arab Pegon. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ada Ambengan, tradisi makan bersama sebagai simbol kebersamaan. Masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat, memperingati Isra Mikraj dengan Ngurisan, yakni pemotongan rambut bayi.

Di Yogyakarta, Kraton masih melestarikan Hajad Dalem Yasa Peksi Burak, dengan mengarak replika burak menuju Masjid Gede Kauman sebelum dibagikan kepada jemaah.

Berpadu dengan libur panjang, peringatan Isra Mikraj di Indonesia terasa lebih dari sekadar hari besar keagamaan. Ia menjadi momen untuk menenangkan diri, memperkuat ibadah, sekaligus menikmati kebersamaan dan tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat.

img
Alfian
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan