Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkapkan sebanyak 4.863 sekolah di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara terdampak bencana dengan tingkat kerusakan yang bervariasi, mulai dari ringan hingga berat hingga membutuhkan relokasi.
Kerusakan tersebut diperoleh dari data dinas pendidikan kabupaten/kota dan provinsi berdasarkan kondisi ruang-ruang pembelajaran.
“Saat ini total sekolah yang terdampak 4.863, sekolah rusak ringan 3.409, sekolah rusak sedang 925, sekolah kerusakan berat 497, dan sekolah yang relokasi 92,” ujar Abdul dalam konferensi pers, Rabu (11/2).
Kemendikdasmen juga membangun ruang kelas darurat di sejumlah wilayah terdampak untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Seluruh pembangunan ruang kelas darurat ditargetkan tuntas pada akhir Februari 2026.
Dalam pemulihan pembelajaran di sekolah terdampak, di Provinsi Aceh tercatat 3.073 sekolah terdampak. Sebanyak 3.001 sekolah melaksanakan pembelajaran di sekolah asal, 52 sekolah belajar di tenda kelas darurat, dan 20 sekolah menumpang di sekolah lain, dengan keterlaksanaan pembelajaran mencapai 100%.
Di Sumatera Barat, dari 622 sekolah terdampak, sebanyak 599 sekolah belajar di sekolah asal, 21 sekolah di tenda kelas darurat, dan 2 sekolah menumpang, dengan pelaksanaan pembelajaran juga telah mencapai 100%.
Sementara di Sumatera Utara, dari 1.168 sekolah terdampak, sebanyak 1.142 sekolah melaksanakan pembelajaran di sekolah asal dan 26 sekolah masih menggunakan tenda kelas darurat. Secara keseluruhan, proses pembelajaran di tiga provinsi tersebut telah berjalan 100%.
“Total pembelajaran saat ini sudah berjalan 100%,” kata Abdul.
Selain pembangunan fisik, hingga 10 Februari, kemendikdasmen menyalurkan berbagai bentuk bantuan pendidikan berupa 34.000 paket perlengkapan sekolah (school kit), 160 unit ruang kelas darurat, serta 197.670 buku pembelajaran.
Kemendikdasmen juga memberikan tunjangan khusus bagi 20.074 guru, dukungan psikologis bagi 800 sekolah terdampak, revitalisasi 654 sekolah terdampak, serta dana operasional pendidikan darurat bagi 1.569 satuan pendidikan.
Abdul Mu’ti menambahkan, pembangunan sekolah yang mengalami kerusakan berat akan dilakukan melalui kerja sama dengan TNI dan saat ini masih dalam proses penandatanganan nota kesepahaman.
“Kami sampaikan untuk pembangunan sekolah besar kami akan bekerja sama dengan TNI dan sekarang dalam proses penandatanganan MoU,” ujarnya
Sementara itu, pembangunan ruang kelas darurat selain dikerjakan Kemendikdasmen bersama dinas pendidikan daerah juga melibatkan berbagai lembaga yang memiliki komitmen bermitra dalam percepatan revitalisasi sarana pendidikan di tiga provinsi terdampak bencana.
Ia juga menjelaskan dana yang dipakai untuk perbaikan sekolah yang terdampak bencana berasal dari dana prioritas revitalisasi 2026.
“Dasar dana untuk pembangunan revitalisasi di tiga provinsi terdampak bencana. Kami alokasikan dari prioritas dana revitalisasi tahun 2026,” tutur Abdul.