Seorang diplomat yang terafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengundurkan diri dari jabatannya setelah menuding adanya persiapan skenario penggunaan senjata nuklir terhadap Iran. Ia menyebut keputusan tersebut diambil sebagai bentuk pembocoran informasi yang dinilai berpotensi mengarah pada kejahatan kemanusiaan.
Diplomat tersebut adalah Mohamad Safa, yang bertugas untuk organisasi non-pemerintah Patriotic Vision Association (PVA) dengan status konsultatif khusus di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (Ecosoc). Ia juga menuding sejumlah pejabat senior di PBB tidak bekerja untuk kepentingan lembaga, melainkan “melayani lobi yang kuat”.
Melansir The Economic Times, Kamis (2/4), dalam pernyataannya di media sosial X, Safa mengaku rela mengorbankan karier diplomatiknya yang telah dijalani selama 12 tahun dan memutuskan mundur untuk membocorkan informasi yang dinilainya serius terkait potensi kejahatan kemanusiaan.
“Saya rasa orang-orang tidak memahami betapa seriusnya situasi ini, karena PBB sedang mempersiapkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran,” ujar Safa
Dalam unggahan tersebut, Safa juga menggambarkan kondisi sipil di Teheran untuk menekankan dampak serius jika serangan terjadi. Ia menyindir pihak-pihak yang dianggap mendukung perang.
“Ini adalah foto Teheran. Bagi kalian yang tidak berpendidikan, tidak pernah bepergian, tidak pernah mengabdi, dan bernafsu pada perang ini bukan gurun dengan populasi rendah. Ada keluarga, anak-anak, hewan peliharaan. Orang-orang kelas pekerja dengan mimpi. Kalian sakit jika menginginkan perang,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Teheran merupakan kota dengan hampir 10 juta penduduk, sehingga ia meminta publik membayangkan dampaknya jika kota-kota besar seperti Washington, Berlin, Paris, atau London mengalami serangan bom nuklir.
“Saya meninggalkan karier diplomatik saya untuk membocorkan informasi ini. Saya menangguhkan tugas saya agar tidak menjadi bagian dari atau saksi kejahatan terhadap kemanusiaan ini, dalam upaya untuk mencegah musim dingin nuklir sebelum terlambat," ungkap Safa.
Dalam postingan yang berbeda Safa mengungkapkan pengunduran dirinya disebabkan adanya tekanan dari dalam tubuh PBB, termasuk upaya membungkam perbedaan pendapat. Ia mengklaim pejabat senior PBB menyalahgunakan kekuasaan untuk melayani lobi tersebut dan melindungi pengambil keputusan dari penetapan sebagai pelaku kejahatan perang.
Safa juga menuding bahwa lembaga tersebut enggan menyebut konflik di Gaza sebagai genosida, serta tindakan di Lebanon sebagai kejahatan perang dan pembersihan etnis. Menurutnya, perang terhadap Iran juga tidak sah secara hukum internasional.
“Iran tidak menimbulkan ancaman yang segera terhadap perdamaian dunia,” katanya.
Safa bahkan mengaku menerima ancaman serius setelah menyampaikan pandangan berbeda sejak Oktober 2023 dan juga mengalami pengucilan secara profesional di lingkungan PBB.
Menurutnya, media global dan algoritma media sosial digunakan untuk menipu publik agar percaya bahwa Iran merupakan ancaman langsung bagi perdamaian dunia. Ia membandingkan pola tersebut dengan narasi yang digunakan dalam konflik di Gaza dan Lebanon.
Di akhir pernyataannya, Safa mengajak publik untuk bersuara. Ia menyerukan masyarakat agar turun ke jalan sebagai bentuk penolakan terhadap potensi perang.
"Bertindaklah sekarang. Sebarkan pesan ini ke seluruh dunia. Turunlah ke jalan. Berunjuk rasalah demi kemanusiaan dan masa depan kita. Hanya rakyat yang dapat menghentikannya. Sejarah akan mengingat kita," tuturnya.