close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Foto Instagram @titokarnavian.
icon caption
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Foto Instagram @titokarnavian.
Peristiwa
Sabtu, 24 Januari 2026 15:11

Tito: Penataan pascabencana Tapanuli Tengah lebih aman dan berkelanjutan

Ketua Satgas PRR Tito Karnavian mengapresiasi penataan ulang kawasan banjir di Tapanuli Tengah yang dinilai aman, berkelanjutan, dan berpotensi jadi model nasional.
swipe

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, mengapresiasi konsep penataan ulang kawasan terdampak banjir di Kelurahan Huta Nabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah. Menurutnya, konsep tersebut merupakan langkah yang sangat baik dan berpotensi menjadi model penataan kawasan pascabencana di Indonesia.

Kawasan tersebut sebelumnya terdampak banjir besar yang membawa lumpur serta material kayu, sehingga menyebabkan kerusakan berat pada permukiman warga. Sejumlah rumah hancur, kawasan tertutup lumpur, dan tumpukan material masih terlihat di beberapa titik.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, dengan dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan pemerintah pusat, tengah melakukan normalisasi sungai melalui pengerukan alur sungai. Material hasil pengerukan dimanfaatkan sebagai tanggul di sisi kiri dan kanan sungai untuk mengurangi risiko banjir ke depan.

Tito menegaskan, penataan kawasan tidak berhenti pada pemulihan fisik semata, melainkan diarahkan untuk membangun pola ruang baru yang lebih aman, tertata, dan berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah mengubah orientasi permukiman yang sebelumnya membelakangi sungai menjadi menghadap ke sungai.

“Ini ide yang sangat baik. Sungai bukan lagi menjadi tempat buangan, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik, tempat rekreasi, dan ruang hidup warga. Jika berhasil, ini bisa menjadi model penataan kawasan di Indonesia,” ujar Tito, Sabtu (24/1).

Ia menilai, selama ini banyak kawasan permukiman di Indonesia justru memunggungi sungai dan menjadikannya sebagai tempat pembuangan, sehingga memperparah persoalan lingkungan dan meningkatkan risiko bencana. Padahal, sungai merupakan aset alam yang seharusnya dijaga dan dimanfaatkan secara positif.

“Di banyak negara maju, kawasan permukiman justru menghadap ke sungai. Sungai dirawat, dijaga kebersihannya, dan menjadi pusat aktivitas masyarakat. Konsep seperti inilah yang kini mulai dibangun di sini,” tambahnya.

Tito menekankan bahwa konsep penataan ini mencerminkan prinsip build back better, yakni membangun kembali kawasan pascabencana dengan cara yang lebih baik, lebih aman, dan lebih berkelanjutan.

Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan hunian tetap (Huntap) dengan konsep penataan kawasan yang baru tersebut.

Dengan pendekatan ini, kawasan terdampak banjir di Tapanuli Tengah diharapkan tidak hanya pulih, tetapi juga menjadi contoh nasional dalam penataan kawasan pascabencana yang visioner, aman, dan berkelanjutan.

Sementara itu, Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menyampaikan bahwa ke depan seluruh rumah warga terdampak bencana di kawasan tersebut akan dibangun menghadap ke sungai.

“Di depan rumah akan dibangun jalan inspeksi, kemudian barulah sungai,” jelasnya.

img
Tim copywriter
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan