Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertanyakan alasan Iran belum juga menyerah di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah. Hal itu disampaikan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dalam wawancara dengan Fox News.
Witkoff mengatakan Trump merasa penasaran terhadap sikap Teheran setelah sebelumnya memperingatkan kemungkinan adanya serangan militer terbatas apabila tidak tercapai kesepakatan mengenai program nuklir Iran.
“Saya tidak ingin menggunakan kata frustrasi. Karena dia [Trump] memahami bahwa dia memiliki banyak alternatif, tetapi dia penasaran mengapa mereka belum. Saya juga tidak ingin menggunakan kata menyerah, tetapi mengapa mereka belum menyerah,” kata Witkoff, melansir BBC, Senin (23/2).
Ia menambahkan dengan mempertanyakan mengapa, di bawah tekanan sebesar itu dan dengan kekuatan laut serta angkatan laut AS yang dikerahkan di kawasan tersebut, Iran belum juga datang kepada Amerika Serikat untuk menyatakan bahwa mereka tidak menginginkan senjata dan menjelaskan langkah apa yang siap mereka ambil.
“Namun, tetap saja sulit untuk membawa mereka ke titik tersebut,” lanjutnya.
Amerika Serikat dan sekutu Eropanya menaruh kecurigaan bahwa Iran bergerak menuju pengembangan senjata nuklir. Meski begitu, Iran membantah tudingan tersebut dan menyatakan program nuklirnya bersifat damai.
Di dalam negeri, Iran menghadapi protes anti-pemerintah yang terjadi di sejumlah universitas akhir pekan lalu. Aksi ini menjadi unjuk rasa berskala besar pertama sejak tindakan keras aparat pada Januari lalu yang menewaskan ribuan orang.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan masih ada peluang penyelesaian diplomatik yang didasarkan pada prinsip saling menguntungkan. Ia mengatakan bahwa para negosiator tengah menyusun elemen-elemen kesepakatan.
Dua hari sebelumnya, Araghchi juga menyebut Iran sedang menyiapkan rancangan kemungkinan kesepakatan yang akan diserahkan kepada Witkoff dalam beberapa hari ke depan.
Pejabat AS dan Iran sebelumnya menggelar pembicaraan tidak langsung di Jenewa, Swiss, pada 17 Februari. Kedua pihak menyatakan ada kemajuan dalam pertemuan tersebut.
Oman yang menjadi mediator mengumumkan bahwa putaran negosiasi berikutnya dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Kamis ini. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, dalam unggahan di X berharap ada dorongan positif untuk melangkah lebih jauh demi merampungkan kesepakatan.
Meski ada laporan kemajuan diplomatik, Trump pada Kamis lalu mengatakan dunia akan mengetahui dalam sekitar 10 hari ke depan apakah kesepakatan tercapai atau Amerika Serikat akan mengambil langkah militer.
Dalam beberapa pekan terakhir, AS meningkatkan kekuatan militernya di sekitar Iran dan kawasan Timur Tengah. Pengerahan tersebut mencakup kapal perang terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, yang dilaporkan menuju kawasan tersebut.
Selain itu, kapal induk USS Abraham Lincoln juga telah dikerahkan bersama kapal perusak, kapal tempur, dan jet tempur. Langkah ini dipandang sebagai bentuk tekanan strategis Washington terhadap Teheran di tengah negosiasi yang masih berlangsung.