close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi / Shutterstock
icon caption
Ilustrasi / Shutterstock
Peristiwa
Senin, 22 Juni 2026 18:51

AS-Iran catat kemajuan awal dalam perundingan damai, targetkan kesepakatan final 60 hari

AS dan Iran mencatat kemajuan awal dalam perundingan damai di Swiss. Kedua pihak menargetkan kesepakatan final tercapai dalam 60 hari
swipe

Putaran pertama perundingan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mencapai kesepakatan permanen mengakhiri perang berakhir dengan kemajuan yang dinilai positif oleh para mediator. Pembicaraan yang berlangsung di Lucerne, Swiss, pada Minggu (21/6) menghasilkan kesepakatan awal berupa peta jalan menuju perjanjian final dalam waktu 60 hari.

Dalam pernyataan bersama, Qatar dan Pakistan menyebut komite tingkat tinggi yang dibentuk kedua pihak telah menyepakati roadmap menuju kesepakatan final dalam 60 hari. Perundingan teknis akan terus berlangsung sepanjang pekan ini untuk membahas rincian implementasi kesepakatan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyambut positif hasil pertemuan tersebut. Menurutnya, pembicaraan putaran pertama telah menghasilkan kemajuan signifikan.

"Pembicaraan ini menghasilkan kemajuan besar untuk mengakhiri konflik," kata Araghchi.

Kesepakatan awal yang ditandatangani pekan lalu mencakup komitmen penghentian pertempuran di berbagai front konflik, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta negosiasi lanjutan untuk menyusun perjanjian damai yang lebih komprehensif.

Para mediator juga mengumumkan pembentukan jalur komunikasi khusus guna mencegah insiden dan kesalahpahaman di Selat Hormuz. Selain itu, AS, Iran, dan Lebanon sepakat membentuk mekanisme koordinasi untuk meredakan ketegangan dan mengakhiri operasi militer di Lebanon.

Namun, di tengah proses diplomasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Teheran. Melalui media sosial, Trump mendesak Iran untuk segera menghentikan aktivitas kelompok-kelompok yang didukungnya di Lebanon.

"Iran harus segera menghentikan proksi mereka yang dibayar mahal di Lebanon untuk membuat masalah," tulis Trump dalam Social Truth.

Trump juga memperingatkan bahwa Washington dapat kembali melancarkan serangan apabila tuntutannya tidak dipenuhi.

Pernyataan itu langsung ditanggapi Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menilai ancaman Amerika Serikat tidak akan memengaruhi posisi Iran dalam perundingan.

"Apakah mereka tidak berpikir bahwa jika ancaman mereka efektif, mereka tidak akan berada dalam situasi putus asa seperti sekarang?" ujar Ghalibaf.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Washington siap membuka lembaran baru hubungan dengan Iran apabila Teheran bersedia menghentikan tindakan yang dianggap mengganggu stabilitas kawasan serta memberikan jaminan terkait program nuklirnya.

"Presiden meminta kami untuk membuka lembaran baru," kata Vance sebelum perundingan dimulai.

Menurut dia, AS bersedia secara fundamental mengubah hubungan dengan Iran apabila negara tersebut meninggalkan ambisi senjata nuklir dan peran yang dianggap memicu ketidakstabilan di kawasan.

Isu program nuklir menjadi salah satu pembahasan utama yang belum diselesaikan dalam kesepakatan awal dan akan menjadi fokus negosiasi lanjutan dalam beberapa pekan ke depan. Iran sendiri terus menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai.

img
Haidhar Ali Faqih
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan