Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan optimistis kesepakatan antara AS dan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali Selat Hormuz dapat tercapai dalam waktu dekat.
Seperti dikutip dari Anadolu Ajansi, Selasa (2/6), Trump mengatakan proses negosiasi menunjukkan perkembangan positif meski sempat menghadapi hambatan terkait ketegangan terbaru di Lebanon.
"Terlihat bagus, terlihat bagus. Ada sedikit kendala hari ini, tetapi saya mengatasinya dengan sangat cepat," kata Trump, dalam wawancara melalui telepon dengan ABC News pada Senin (1/6),
Menurut Trump, hambatan tersebut muncul setelah Iran menyatakan keberatan atas serangan Israel ke Lebanon. Untuk meredakan situasi, ia mengaku melakukan komunikasi langsung dengan kedua pihak yang terlibat dalam konflik.
"Saya berbicara dengan Hezbollah dan saya mengatakan tidak boleh menembak. Saya juga berbicara dengan Bibi (Benjamin Netanyahu) dan mengatakan tidak boleh menembak, dan mereka berdua berhenti saling menembak," ujarnya.
Trump menilai kesepakatan damai dengan Iran berpotensi memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan kemenangan melalui jalur militer.
"Ini bukan hal yang sederhana. Anda berbicara tentang negara yang sangat besar yang sedang membuat kesepakatan. Ada permusuhan yang luar biasa," kata Trump.
Menurutnya, proses diplomasi tersebut tidak mudah bagi kedua belah pihak. Namun, ia meyakini negosiasi yang sedang berlangsung telah menghasilkan kemajuan yang signifikan.
Ketika ditanya mengenai waktu penyelesaian perjanjian perpanjangan gencatan senjata dan nota kesepahaman untuk membuka kembali Selat Hormuz, Trump memperkirakan kesepakatan dapat dicapai dalam pekan depan.
"Saya pikir Anda berbicara tentang dalam minggu depan," ujarnya.
Meski demikian, Trump mengakui masih ada sejumlah poin yang perlu disepakati sebelum perjanjian tersebut dapat difinalisasi.
"Saya belum menyetujuinya karena saya masih harus mendapatkan beberapa poin lagi," kata Trump.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Setiap gangguan di wilayah tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi global dan harga minyak internasional.